Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Serangan AS Hantam Pesta Pernikahan di Iran, 4 Orang Tewas
serangan Israel di ibu kota Iran, Teheran, dalam perang pada Juni 2025 (Mehr News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
  • Serpihan rudal dalam serangan udara AS di Sirik, Hormozgan, menghantam rumah yang menggelar pesta pernikahan, menewaskan empat orang termasuk anak kecil dan melukai lebih dari 50 orang.
  • CENTCOM menyebut serangan merespons upaya IRGC menyerang kapal komersial di Selat Hormuz dan personel AS; Trump mengancam serangan lebih keras bila Iran membalas.
  • Iran membalas dengan serangan ke pangkalan AS di Irak dan Yordania serta laporan serangan di Kuwait dan Bahrain, sambil menyatakan siap berdialog jika Washington memenuhi MoU Juni 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan udara terhadap Iran pada Selasa (1/9/2026). Sedikitnya empat orang tewas dan lebih dari 50 lainnya terluka setelah serpihan rudal menghantam sebuah rumah yang mengadakan pesta pernikahan di wilayah Sirik, provinsi Hormozgan.

"Menyusul serangan rudal AS, serpihan rudal menghantam sebuah rumah warga di kota Kuhestak, wilayah Sirik, provinsi Hormozgan, tempat sebuah perayaan pernikahan sedang berlangsung. Lebih dari 50 orang terluka dan empat orang, termasuk seorang anak kecil, gugur," tulis Bulan Sabit Merah di platform X.

Media Iran melaporkan bahwa serangan AS juga menghantam wilayah Chabahar dan Konarak serta sebuah bandara di Jiroft. Selain itu, ledakan juga terdengar di pulau Qeshm dan Bandar Abbas.

Presiden AS Donald Trump (Gage Skidmore, CC BY-SA 2.0 , via Wikimedia Commons)

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa rangkaian serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas upaya serangan baru-baru ini oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz dan personel AS yang ditempatkan di Timur Tengah. Melalui media sosialnya, Presiden AS, Donald Trump, juga mengancam akan menyerang Iran lebih keras lagi jika negara tersebut berani membalas.

Kapten Angkatan Laut AS, Tim Hawkins, yang berbicara mewakili Centcom, mengatakan bahwa pihaknya mengetahui soal laporan media pemerintah Iran mengenai serangan di Sirik.

"Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, berbeda dengan IRGC," katanya kepada BBC.

2. Iran serang pangkalan militer AS di Irak dan Yordania

bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di Irak dan Yordania. Serangan juga dilaporkan terjadi di Kuwait dan Bahrain. Juru bicara IRGC mengatakan bahwa AS akan menyesali serangannya tersebut.

Dilansir BBC, Angkatan Bersenjata Yordania melaporkan bahwa pihaknya telah mencegat 13 rudal balistik, dengan 10 di antaranya berhasil dihancurkan, sementara tiga lainnya jatuh di wilayah terpencil. Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka akibat serangan tersebut.

Secara terpisah, militer Kuwait menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya merespons serangan rudal Iran pada Rabu (2/9/2026) dini hari.

3. Iran siap berdialog jika Washington memenuhi komitmennya berdasarkan MoU

Presiden Iran Masoud Pezeshkian (Khamenei.ir, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Dalam pertemuan puncak regional di Kirgistan, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan bahwa Teheran akan segera memberikan respons jika Washington memenuhi komitmennya berdasarkan Nota Kesepahaman (MoU) yang disepakati kedua belah pihak pada Juni 2026.

MoU tersebut bertujuan menghentikan konflik yang telah menewaskan ribuan orang di Iran dan Lebanon sejak serangan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari 2026. Namun, kesepakatan itu juga menunda sejumlah persoalan paling pelik dan membuka jalan bagi periode negosiasi yang lebih luas selama 60 hari, yang akhirnya berlalu tanpa adanya kesepakatan lebih lanjut.

Dilansir CNA, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa AS kecanduan mengajukan tuntutan berlebihan dan telah keliru menganggap negosiasi sebagai upaya untuk mendikte persyaratan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article