Jerman Tuduh Rusia Dalangi Percobaan Serangan Drone di Bandara

- Pemerintah Jerman menyatakan Rusia bertanggung jawab atas percobaan serangan drone bermuatan peledak di Bandara Leipzig/Halle pada Agustus 2026, berdasarkan penyelidikan polisi dan intelijen.
- Dua drone ditemukan dekat area bandara, termasuk satu yang menempel di sayap pesawat kargo Antonov Ukraina dengan 600 gram peledak yang gagal meledak.
- Berlin memanggil duta besar Rusia, menutup konsulat di Bonn, dan memperketat langkah terhadap Rusia; Uni Eropa serta NATO mendukung respons Jerman.
Jakarta, IDN Times – Pemerintah Jerman menetapkan Rusia sebagai pihak yang bertanggung jawab atas percobaan serangan drone berdaya ledak di Bandara Leipzig/Halle pada Agustus 2026. Kesimpulan itu disampaikan setelah penyidik menelusuri temuan drone yang membawa bahan peledak dan ditemukan di dekat pesawat kargo Ukraina, dengan Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrindt menyebut hasil penyelidikan polisi dan intelijen mengarah pada keterlibatan Moskow.
Dobrindt menyebut pengendali drone bekerja berdasarkan perintah entitas negara Rusia, sementara pemerintah federal Jerman mengaitkan kejadian tersebut dengan pola operasi hibrida Rusia di Eropa. Ia menyampaikan hasil penyelidikan itu melalui pernyataan.
“Secara keseluruhan, penyelidikan polisi, pola pelanggaran, dan temuan intelijen menetapkan tanggung jawab Rusia atas percobaan serangan tersebut,” katanya, dikutip Al Jazeera, Rabu (2/92026).
1. Jerman menyebut Rusia menjalankan operasi hibrida

Bendera Jerman (pexels.com/Ingo Joseph) Dobrindt bersama Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyebut Rusia menyediakan pengetahuan teknis dan peralatan, sedangkan pelaksanaan di lapangan melibatkan agen tingkat rendah. Keduanya menilai tindakan tersebut merupakan bagian dari upaya sistematis Moskow untuk menimbulkan kerusakan serius melalui serangan hibrida, seperti dilaporkan The Guardian.
Wadephul menyatakan Jerman akan memberikan respons yang tegas, proporsional, dan terukur terhadap tindakan tersebut. Ia juga menyebut Jerman menghadapi perang hibrida setiap hari yang meliputi agresi, disinformasi, sabotase, ancaman, serta upaya destabilisasi, sehingga Berlin menyesalkan kondisi hubungan bilateral dengan Moskow yang semakin memburuk.
2. Drone bermuatan bahan peledak ditemukan di area bandara

ilustrasi sayap pesawat terbang (pexels.com/Pixabay) Insiden itu bermula saat sebuah drone dengan muatan 600 gram bahan peledak ditemukan menempel pada sayap pesawat kargo Antonov Ukraina pada malam 4–5 Agustus 2026. Drone tersebut diduga diarahkan ke pesawat pengangkut senjata, tetapi bahan peledak yang dibawanya gagal meledak.
Pada 14 Agustus 2026, penyidik kembali menemukan drone lain di tepi area bandara bersama jejak bahan peledak militer jenis heksogen. Jika bahan tersebut meledak, perangkat itu disebut dapat memicu bencana besar.
3. Jerman memperketat sejumlah langkah terhadap Rusia

ilustrasi bendera Rusia (unsplash.com/Egor Filin) Jerman mengambil sejumlah langkah sebagai respons atas insiden tersebut, termasuk memanggil duta besar Rusia dan menutup konsulat Rusia di Bonn pada bulan ini. Berlin juga menghentikan masa sewa gedung institut budaya Russian House di pusat Berlin yang terindikasi berkaitan dengan aktivitas hibrida, memperketat pemeriksaan perbatasan warga Rusia, meningkatkan tekanan terhadap armada kapal tanker minyak Rusia di Laut Baltik dan Laut Utara, serta mendukung sanksi ke-22 Komisi Eropa yang menyasar 1.600 entitas terkait Rusia.
Uni Eropa dan Sekretaris Jenderal Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte menyampaikan dukungan terhadap langkah Berlin setelah menerima bukti keterlibatan Moskow. Dukungan juga datang dari Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot, dan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham, sementara Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova, berdasarkan laporan kantor berita Interfax, menyatakan Moskow akan merespons langkah anti-Rusia tersebut.





















