Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi konflik AS-Israel dengan Iran (unsplash.com/Saifee Art)
  • Militer AS dilaporkan menyerang terbatas Pulau Qeshm, Iran, menargetkan rudal darat-ke-udara yang digunakan terhadap aset AS di tengah penutupan Selat Hormuz.

  • Washington merahasiakan rangkaian serangan untuk menghindari kesan operasi tempur besar, sambil tetap membuka diplomasi; JD Vance menyebut prospek penyelesaian negosiasi cukup optimistis.

  • Trump mempertahankan opsi aksi militer sambil menyoroti turunnya harga minyak; Iran memperingatkan pembalasan tanpa batas, namun tetap bersedia melanjutkan negosiasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Militer Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan terbatas ke Pulau Qeshm milik Iran di Selat Hormuz pada Senin (2/11/2026), menurut sejumlah laporan media AS. Langkah militer ini terjadi beberapa jam setelah Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan optimismenya mengenai arah upaya diplomatik untuk mengakhiri perang.

Sejumlah ledakan terdengar di pulau tersebut pada Senin malam waktu setempat menurut laporan media pemerintah Iran. Sebagian pejabat AS menyebut aksi militer itu sebagai operasi defensif untuk mencegah Iran menyerang kapal komersial secara bebas di Selat Hormuz.

1. Operasi rahasia AS di tengah upaya diplomasi

Kapal militer AS di Selat Hormuz (Official U.S. Navy Page from United States, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Serangan di Pulau Qeshm merupakan aksi terbaru dari rangkaian serangan terbatas yang dirahasiakan oleh Washington dalam beberapa pekan terakhir, sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal. Pemerintah AS sengaja tidak mengumumkan kampanye tersebut kepada publik untuk menghindari sinyal dimulainya kembali operasi tempur besar-besaran.

Dilansir The Guardian, Pulau Qeshm yang berada di mulut Selat Hormuz telah beberapa kali menjadi target serangan AS sepanjang perang berlangsung. Wilayah tersebut sebelumnya digunakan oleh Iran untuk melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di jalur perairan tersebut, sementara Teheran terus menegakkan penutupan selat dengan menargetkan kapal tanker minyak maupun kapal kontainer.

Serangan terbaru itu menargetkan rudal darat ke udara yang digunakan terhadap aset-aset AS. Sementara itu, Komando Pusat AS tidak segera memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait laporan penyerangan tersebut.

2. Pernyataan Donald Trump dan sinyal perundingan

Presiden AS Donald Trump (Marc Nozell from Merrimack, New Hampshire, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dia tidak terburu-buru untuk memutuskan apakah akan melanjutkan aksi militer terhadap Iran. Dalam wawancara telepon dengan Axios pada Senin (2/11/2026), Trump berujar, "Bagaimanapun, kita akan melakukan sesuatu, tapi tidak ada ketergesaan. Kita melumpuhkan mereka secara finansial. Mereka tidak punya uang, tidak punya bensin, dan rakyat mereka sudah sangat lelah dengan hal itu."

Ketika ditanya pada Senin apakah dia mempertimbangkan untuk melanjutkan serangan ke Iran setelah pemilu paruh waktu hari Selasa, Trump menjawab tidak. Namun, beberapa jam sebelum tempat pemungutan suara dibuka pada Selasa (3/11/2026), dia mengatakan kepada pembawa acara Fox News, Sean Hannity, bahwa AS mungkin masih harus menargetkan Gunung Pickaxe—yang dicurigai sebagai fasilitas nuklir bawah tanah di Iran tengah—meski dia menyebut aksi itu bukan masalah besar dan dapat selesai dalam satu jam.

Sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan bahwa dia dan Trump optimistis dapat mengamankan kesepakatan setelah Teheran mengungkap adanya negosiasi tidak langsung dengan Washington. "Presiden dan saya sama-sama merasa cukup yakin mengenai prospek untuk mencapai penyelesaian yang dinegosiasikan," ujar Vance kepada para jurnalis.

3. Penurunan harga minyak dan respons dari Teheran

ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Shaah Shahidh)

Kenaikan harga bahan bakar akibat perang menjadi isu penting dalam pemilu paruh waktu AS yang diperkirakan berisiko memicu hukuman pemilih terhadap Partai Republik. Dalam unggahan di Truth Social pada Senin (2/11/2026), Trump menyoroti penurunan harga minyak yang anjlok hampir 10 dolar AS atau Rp181.480 per barel karena publik merasa tidak akan terjadi perang dengan Iran. Penurunan harga minyak tersebut juga ia sambut dalam pesan penutup kampanyenya di Washington seiring gencarnya upaya diplomasi pemerintahannya.

Pemilu paruh waktu AS dinilai menjadi titik balik bagi Trump dalam menentukan apakah akan melancarkan kampanye pengeboman besar demi mengakhiri konflik, sebagaimana dilaporkan Axios. Laporan tersebut menambahkan bahwa Trump tampak menjalankan dua jalur kebijakan secara bersamaan dengan membiarkan diplomasi terus berjalan sambil bersiap melanjutkan aksi militer jika kesepakatan tidak tercapai.

Sementara itu, para pejabat Iran telah memperingatkan bahwa serangan baru apa pun akan memicu respons pembalasan tanpa batas. Kendati demikian, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan bahwa Teheran tetap bersedia untuk melanjutkan proses negosiasi, menurut laporan IRNA.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article