Profil Ahrie Sonta: Mantan Sekpri Listyo Sigit Jadi Ajudan Presiden Prabowo

Ahrie Sonta Nasution dipercaya menjabat sebagai Kepala Divisi Hukum Polri dalam mutasi 88 perwira pada Oktober 2026.
Ia memiliki pengalaman di bidang reserse, kewilayahan, serta pernah menjadi Sekretaris Pribadi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Ahrie pernah terpilih sebagai ajudan Presiden Prabowo Subianto sebelum kembali mendapat promosi di lingkungan Polri.
Jakarta, IDN Times - Nama Inspektur Jenderal Polisi Ahrie Sonta Nasution kembali mendapat perhatian setelah dipercaya menjabat sebagai Kepala Divisi Hukum (Kadivkum) Polri. Posisi tersebut menjadi salah satu jabatan strategis di lingkungan Mabes Polri.
Ahrie ditunjuk sebagai Kadivkum Polri dalam mutasi 88 perwira tinggi dan menengah Polri pada Oktober 2026. Dalam jabatan barunya, ia bertanggung jawab atas fungsi hukum di lingkungan Korps Bhayangkara.
Sebelum menduduki posisi tersebut, Ahrie memiliki perjalanan karier yang cukup panjang. Ia pernah bertugas di kewilayahan, menangani kasus narkotika, menjadi Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, Sekretaris Pribadi Kapolri, hingga dipercaya menjadi ajudan Presiden Prabowo Subianto.
Nama Ahrie malam ini diumumkan menjadi salah satu tersangka dalam dugaan kasus penyadapan Presiden Prabowo Subianto, bersama dengan Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Berikut rekam jejak Ahrie Sonta.
1. Ahrie Sonta merupakan lulusan Akpol 2002

Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution. (Instagram/ahriesonta) Ahrie Sonta lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 2 April 1981. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2002.
Pendidikan kepolisiannya kemudian berlanjut. Ahrie menyelesaikan pendidikan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 2009, Sespimmen pada 2016, dan Sespimti Polri pada 2024. Ia juga meraih gelar S2 dan S3 Ilmu Kepolisian dengan predikat cum laude.
Ahrie juga mengikuti sejumlah pendidikan dan pelatihan di luar negeri, termasuk di Politie Academy Apeldoorn, Belanda, serta Joint Special Operation University di Tampa, Florida, Amerika Serikat.
Sebelum menduduki sejumlah jabatan strategis di Mabes Polri, Ahrie memiliki pengalaman di bidang reserse. Saat bertugas sebagai Kanit Subdit 2 Ditresnarkoba Polda Metro Jaya pada 2018, ia terlibat dalam pengungkapan kasus narkotika dalam jumlah besar.
Salah satu pengungkapan yang pernah dikaitkan dengan timnya adalah penyitaan lebih dari 100 kilogram narkotika dalam kurun waktu sekitar dua bulan. Ia juga terlibat dalam pengungkapan sindikat Taiwan dengan barang bukti narkotika sekitar 1,6 ton di Perairan Tanjung Berakit, Kepulauan Riau.
Pengalaman Ahrie tidak hanya berada di bidang pemberantasan narkotika. Ia juga pernah terlibat dalam sejumlah operasi kepolisian, termasuk Satgassus Nemangkawi di Papua.
2. Pernah menjadi Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok

Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution. (Instagram/ahriesonta) Karier Ahrie kemudian berlanjut ke tingkat kewilayahan. Ia pernah dipercaya menjadi Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok saat berpangkat AKBP.
Setelah itu, Ahrie mendapat penugasan di lingkungan Mabes Polri sebagai Sekretaris Pribadi (Sekpri) Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Posisi tersebut membuat Ahrie cukup dekat dengan aktivitas pimpinan tertinggi Polri. Ia bertugas mendukung Kapolri dalam berbagai kegiatan kedinasan maupun tugas khusus.
3. Terpilih menjadi ajudan Presiden Prabowo

Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution. (Instagram/ahriesonta) Nama Ahrie semakin dikenal publik setelah ia terpilih menjadi ajudan Presiden Prabowo Subianto dari unsur Polri pada Oktober 2024.
Saat itu, Ahrie masih berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol). Ia terpilih setelah mengikuti proses seleksi bersama sejumlah kandidat lainnya.
Kompolnas menilai Ahrie memiliki rekam jejak yang cemerlang. Salah satu yang menjadi perhatian adalah latar belakang akademiknya sebagai doktor ilmu kepolisian dengan disertasi mengenai reformasi kultural Polri.
Pengalaman sebagai ajudan membuat Ahrie menjalankan tugas mendampingi Presiden dalam berbagai kegiatan kenegaraan. Setelah menjalankan tugas sebagai ajudan Presiden, Ahrie kembali mendapat promosi di lingkungan Polri.
Pada Oktober 2025, Ahrie memperoleh kenaikan pangkat dari Kombes menjadi Brigadir Jenderal (Brigjen) Polisi. Saat itu, ia ditugaskan sebagai Penyelidik Pengamanan Internal Utama Tingkat II Divpropam Polri.
Kenaikan pangkat tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan kariernya. Ahrie kemudian kembali mendapat promosi pada 2026.
Dalam mutasi Polri pada Oktober 2026, Ahrie mendapat tugas baru sebagai Kepala Divisi Hukum Polri.
Mutasi tersebut dilakukan setelah Jenderal Suyudi Ario Seto resmi menjabat sebagai Kapolri. Ahrie mendapat pangkat Inspektur Jenderal (Irjen) dan dipercaya memimpin Divkum Polri.
















