Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Serangan Pemberontak di Kongo, Hambat Penanganan Ebola
serangan militan terhadap konvoi tentara Niger di desa siwili, 2019 (aharan_kotogo, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)
  • Lebih dari 30 orang tewas akibat serangan kelompok ADF di sekitar Beni, Kongo, yang memperparah situasi di tengah wabah Ebola dan menghambat penanganan kesehatan masyarakat.
  • Tiga pasien Ebola melarikan diri dari pusat perawatan setelah serangan, memicu kekhawatiran penyebaran virus di tengah kondisi keamanan yang tidak stabil dan trauma warga.
  • Pemerintah mencatat 344 kasus Ebola dengan 60 kematian, sementara sejak 2014 sekitar 10 ribu warga sipil tewas akibat kekerasan ADF yang terus menantang operasi militer DRC.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Lebih dari 30 orang tewas dalam beberapa hari terakhir akibat serangan pemberontak di sekitar kota Beni, yang menjadi salah satu pusat wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC). Serangan itu turut memperhambat upaya penanganan penyakit tersebut.

Dilansir dari The Guardian, sedikitnya 10 orang dibantai di desa Matété, Mamuli, dan Kitoho pada Rabu (3/6/2026) dini hari. Kelompok Allied Democratic Forces (ADF), yang berafiliasi dengan ISIS, dituduh bertanggung jawab atas serangan tersebut.

"Untuk sementara, kami mencatat sekitar 10 korban tewas. Sepeda motor dan rumah-rumah dibakar oleh pemberontak ADF. Mereka juga menculik warga sipil, tapi jumlahnya hingga kini belum diketahui," kata Isaac Kavalami, pemimpin komunitas setempat.

Sebelumnya, pada Sabtu (30/5/2026), pasukan ADF juga menembaki dan memenggal warga di Beni. Saksi mata mengatakan, lebih dari 20 pria, perempuan dan anak-anak tewas, sementara puluhan lainnya hilang.

1. Tiga pasien Ebola melarikan diri dari rumah sakit akibat serangan

ilustrasi pengungsi di Afrika (Oxfam, CC BY 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0>, via Wikimedia Commons)

Pada Selasa (2/6/2026), gubernur militer Kivu Utara, provinsi di mana serangan terjadi, menyatakan bahwa tiga pasien yang terkonfirmasi terinfeksi Ebola telah melarikan diri dari pusat perawatan di Beni setelah serangan pada Sabtu. Para pemimpin komunitas khawatir hal ini dapat meningkatkan risiko penyebaran infeksi.

"Penyakit ini dapat menyebar dari satu komunitas ke komunitas lainnya. Kami melihat hal itu setelah serangan di Ngandi, ketika para penduduk melarikan diri. Dalam situasi seperti itu, langkah-langkah pengendalian wabah sulit diterapkan. Jika ada orang di antara mereka yang membawa virus Ebola, situasinya akan sangat serius," kata Albert Lusenge, aktivis masyarakat sipil di Beni.

Lusenge sendiri telah kehilangan 20 anggota keluarganya dalam serangan yang diduga dilakukan oleh ADF. Menurutnya, akan sulit untuk mengajak masyarakat mendukung upaya penanggulangan Ebola ketika mereka telah menderita akibat kekerasan yang dilakukan ADF.

2. Kongo catat 344 kasus dan 60 kematian akibat wabah Ebola

ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Pemerintah mengecam keras serangan-serangan tersebut. Pihaknya menegaskan bahwa pemberantasan ADF akan tetap menjadi prioritas utama pemerintah.

Hingga Rabu, sebanyak 344 kasus Ebola dan 60 kematian tercatat di provinsi Kivu Utara, Kivu Selatan, dan Ituri. Pekan lalu, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa situasi keamanan yang tidak stabil di DRC, terutama di Ituri, merupakan hambatan serius dalam penanganan wabah. Menurutnya, upaya mengisolasi pasien dan membangun kepercayaan masyarakat sangat sulit dilakukan selama serangan kelompok bersenjata terus berlanjut.

3. Sekitar 10 ribu warga sipil tewas akibat serangan ADF sejak 2014

anak-anak dan perempuan di Kinshaha, Kongo (UNICEF Sverige, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Dilansir dari Xinhua, ADF merupakan kelompok pemberontak asal Uganda yang beroperasi di wilayah timur DRC. Organisasi masyarakat sipil memperkirakan sekitar 10 ribu warga sipil telah tewas akibat serangan kelompok bersenjata tersebut sejak 2014.

Operasi militer besar-besaran yang dilakukan tentara DRC pada 2005-2014 gagal menumpas habis ADF. Pada 2021, pemerintah kembali memburu kelompok tersebut, dengan bekerja sama dengan Uganda.

Menurut Reagan Miviri, peneliti di lembaga pemikir Ebuteli yang berbasis di DRC, serangan ADF terhadap warga sipil merupakan respons terhadap operasi militer tersebut.

"Pembunuhan terhadap warga sipil berfungsi sebagai alat penangkal militer karena setiap kali para teroris ini diserang jauh di dalam wilayah kekuasaan mereka, mereka merespons dengan membantai warga sipil. Ini mungkin merupakan cara untuk memaksa penghentian operasi militer terhadap mereka," ujarnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article