Kongo Buka Kembali Akses Penerbangan di Pusat Wabah Ebola

Jakarta, IDN Times - Republik Demokratik Kongo (DRC) telah kembali membuka bandara di Bunia, ibu kota provinsi Ituri yang paling parah terdampak wabah Ebola. Bandara tersebut sebelumnya ditutup pada Mei 2026, meski penerbangan kemanusiaan dan medis tetap diizinkan dengan persetujuan tertentu.
"Kondisi saat ini sudah siap untuk memungkinkan dimulainya kembali aktivitas transportasi udara secara bertahap dan aman," kata Kementerian Transportasi Kongo dalam pernyataan pada Senin (1/6/2026), dikutip dari The Straits Times.
Kementerian mengatakan bahwa seluruh penumpang akan menjalani pemeriksaan suhu tubuh sebelum keberangkatan dan saat mendarat. Selain itu, para penumpang juga diwajibkan mencuci tangan sebelum naik pesawat dan siapa pun yang mengalami demam tidak akan diizinkan terbang.
1. WHO sebut terdapat sejumlah tanda positif dalam penanganan wabah Ebola

Keputusan untuk membuka kembali bandara di Bunia terjadi menyusul kunjungan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus. Pada Senin, ia mengatakan telah melihat sejumlah tanda positif dalam penanganan wabah Ebola, termasuk lima pasien yang dinyatakan sembuh.
Namun, ia juga menyoroti perlunya meningkatkan kapasitas pengujian dan perawatan, serta membangun kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan.
“Ebola ini bisa dihentikan ketika masyarakat memiliki rasa kepemilikan terhadap upaya penanganannya dan dengan kepemimpinan pemerintah yang kuat. Kami perlu memperkuat kapasitas sistem kesehatan di wilayah terdampak," kata Tedros.
2. Terdapat 321 kasus Ebola yang terkonfirmasi di DRC

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika mengumumkan wabah Ebola strain Bundibugyo, yang merupakan wabah Ebola ke-17 di DRC, pada 15 Mei 2026. WHO kemudian dengan cepat menetapkannya sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.
Sejauh ini, DRC mencatat 321 kasus Ebola yang terkonfirmasi, termasuk 48 kematian. Virus ini telah menyebar ke 15 dari 36 zona kesehatan di Ituri. Kasus Ebola juga dilaporkan di provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan serta di negara tetangga, Uganda.
3. IRC menilai wabah Ebola di DRC lebih parah dari yang dilaporkan data resmi

Sementara itu, Komite Penyelamatan Internasional (IRC) memperingatkan bahwa wabah Ebola kemungkinan telah berkembang lebih luas dibandingkan angka resmi. Lembaga bantuan itu menyebut virus tersebut kemungkinan telah menyebar hingga 3 bulan sebelum kasus resmi pertama terdeteksi pada Mei.
“Skala sebenarnya dari wabah Ebola ini kemungkinan jauh lebih buruk dibandingkan angka resmi. Ketika empat dari lima kontak tidak berhasil dilacak, menjadi sangat sulit untuk mengendalikan wabah atau bahkan memahami skala sebenarnya. Kami juga sangat khawatir virus ini menyebar ke negara lain seperti Burundi atau Sudan Selatan," kata Rachel Howard, penasihat Senior Teknis Kesehatan Darurat di IRC.
Tim IRC menjelaskan bahwa kelangkaan cartridge diagnostik serta antrean pemeriksaan laboratorium menghambat proses konfirmasi kasus, sehingga skala penyebaran wabah yang sebenarnya sulit dipastikan. Selain itu, banyak warga menghindari fasilitas kesehatan, memicu kekhawatiran bahwa orang-orang yang terinfeksi tetap berada di tengah masyarakat alih-alih mencari pengobatan. Alhasil, penularan terus meluas ke berbagai wilayah dan kepercayaan masyarakat terhadap penanganan wabah semakin menurun.

















