Trump dan Xi Jinping Saling Undang, AS-China Mulai Akur?

- China dan AS mencatat kemajuan perdagangan dan penanganan fentanyl
- China berada di jalur untuk memenuhi komitmen pembelian, termasuk impor kedelai dari AS. Penegak hukum AS dan China bekerja bersama menangani fentanyl di dalam wilayah China.
- Hubungan tingkat tinggi AS dan China dinilai semakin stabil
Jakarta, IDN Times – Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk China David Perdue mengungkapkan Presiden AS Donald Trump telah mengundang Presiden China Xi Jinping untuk berkunjung ke AS pada 2026, dengan perkiraan waktu Agustus atau September. Sebagai timbal balik, Xi juga mengundang Trump melakukan lawatan ke China pada April.
Informasi itu disampaikan Perdue dalam wawancara dengan Bloomberg di Hong Kong pada Selasa (27/1/2026). Ia menjelaskan bahwa kedua negara telah menjalankan sebagian besar kesepakatan yang dicapai saat pertemuan langsung para pemimpin di Busan, Korea Selatan, Oktober tahun lalu, bahkan banyak poin disebut sudah hampir sepenuhnya tuntas.
1. China dan AS mencatat kemajuan perdagangan dan penanganan fentanyl

Perdue menilai China berada di jalur untuk memenuhi seluruh komitmen pembelian yang telah disampaikan, termasuk realisasi janji impor kedelai dari AS. Dalam isu fentanyl, ia menyebut ada kemajuan besar setelah China membatasi 13 bahan kimia prekursor dan melarang ekspornya ke Amerika Utara.
Ia juga menyoroti untuk pertama kalinya penegak hukum AS dan China bekerja bersama menangani fentanyl di dalam wilayah China, termasuk pelaksanaan operasi gabungan perdana.
“Dan yang paling penting mereka (China) benar-benar melangkah maju dalam kerja sama kami dengan penegak hukum dari AS,” kata Perdue, dikutip dari Anadolu Agency.
Kerja sama tersebut tercermin dalam operasi pada 24 Februari 2025 di Laut China Selatan. Berdasarkan informasi Administrasi Penegakan Narkoba (DEA) AS, aparat antinarkotika China bersama Penjaga Pantai menangkap tujuh tersangka dan menyita lebih dari 4.900 kilogram metamfetamin.
2. Hubungan tingkat tinggi AS dan China dinilai semakin stabil

Perdue menyampaikan bahwa komunikasi antarkedua kepala negara menunjukkan kesiapan untuk memperluas interaksi di berbagai bidang. Ia menggambarkan suasana hubungan yang lebih longgar, dengan kontak yang makin beragam dan multidimensional, serta tumbuhnya rasa saling menghormati dan kepercayaan.
Ia menambahkan bahwa pertemuan tingkat tinggi yang lebih rutin membantu menjaga stabilitas hubungan bilateral sekaligus membuka ruang kerja sama yang lebih luas. Perdue berharap pertemuan pemimpin berikutnya saat kunjungan ke China dapat memperjelas tujuan serta tolok ukur keberhasilan seluruh negosiasi sepanjang tahun.
Dalam konteks perdagangan, Perdue menjelaskan pendekatan yang tengah dijalankan adalah memberi waktu dan ruang bagi para negosiator untuk mencapai kesepakatan. Ia menyebut Menteri Keuangan AS Scott Bessent, Perwakilan Dagang Jamieson Greer, serta Wakil Perdana Menteri China He Lifeng sebagai figur kunci, seraya menyatakan pembicaraan telah mencatat banyak kemajuan dan kedua pemimpin sepakat jeda setelah langkah balasan sebelumnya memberi manfaat.
3. AS dan China menjaga gencatan tarif dan agenda diplomatik

Sepanjang sebagian besar 2025, ketegangan sempat meningkat, namun kedua pihak berhasil menghindari krisis yang lebih serius dengan menangguhkan sejumlah pembatasan dan memperpanjang gencatan senjata tarif selama satu tahun tambahan. Perdue menilai kedua belah pihak sangat tulus dalam kesepakatan mereka di Busan.
Menjelang akhir tahun lalu, Washington memangkas tarif fentanyl dari 20 persen menjadi 10 persen. Sebagai respons, China menghapus tarif balasan 10 persen yang sebelumnya dikenakan pada kedelai AS.
Ekonom Peterson Institute for International Economics di Washington, Gary Hufbauer, mengatakan ekspor kedelai memiliki arti penting bagi Trump dalam memperkuat dukungan di negara bagian pertanian. Ia memperkirakan tarif fentanyl 10 persen akan dihapus pada pertemuan April.
China dijadwalkan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen, Provinsi Guangdong, pada November, sementara Trump akan menjadi tuan rumah KTT G20 di Florida selatan pada Desember. Sebelumnya, Kementerian Perdagangan China menyatakan Beijing siap bekerja sama dengan Washington untuk mengelola perbedaan, mendorong kolaborasi lanjutan, serta menjaga hubungan ekonomi dan perdagangan yang stabil, sehat, dan berkelanjutan.
“Berdasarkan prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan saling menguntungkan, Tiongkok dan AS mengadakan lima putaran konsultasi ekonomi dan perdagangan pada tahun 2025, yang menghasilkan serangkaian hasil positif. Hal ini sepenuhnya menunjukkan bahwa China dan AS dapat menemukan cara untuk menyelesaikan masalah melalui dialog dan konsultasi yang setara,” kata Wakil Menteri Perdagangan Yan Dong, dikutip dari China Daily.
Perdue juga mengapresiasi meningkatnya keterlibatan Kongres AS, dengan menyebut kunjungan delegasi anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS yang dipimpin Adam Smith pada tahun lalu sebagai agenda yang berjalan sangat baik.


















