Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Hari ke-20 Konflik Iran: Stabilitas Ekonomi Global Ikut Terancam

Hari ke-20 Konflik Iran: Stabilitas Ekonomi Global Ikut Terancam
ilustrasi serangan AS dan Israel di Iran (pexels.com/Ahmed Akacha)
Intinya Sih
  • Konflik Iran-Israel memasuki hari ke-20 dengan serangan saling balas terhadap infrastruktur energi, termasuk ladang gas South Pars dan fasilitas minyak di negara-negara Teluk.
  • Ketegangan diplomatik meningkat di kawasan Teluk setelah rudal Iran menghantam fasilitas LNG Qatar dan memicu reaksi keras dari Arab Saudi serta pengusiran diplomat Iran.
  • Di Amerika Serikat, konflik ini menimbulkan kontroversi intelijen dan kebijakan energi baru, sementara dampaknya memperburuk inflasi global akibat lonjakan harga energi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Ketegangan perang antara Iran dan Israel terus meningkat dan meluas ke berbagai front, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi strategis di kawasan Timur Tengah. Memasuki hari ke-20 konflik, kedua pihak saling melancarkan serangan yang berdampak luas, tidak hanya secara militer tetapi juga terhadap stabilitas ekonomi global.

Israel dilaporkan menyerang ladang gas South Pars di Iran, yang merupakan ladang gas terbesar di dunia. Serangan ini menandai eskalasi signifikan karena untuk pertama kalinya target energi utama Iran disasar secara langsung dalam konflik yang dimulai sejak 28 Februari.

Tak lama setelah serangan tersebut, Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke sejumlah fasilitas minyak dan gas di negara-negara Teluk, termasuk Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Serangan ini memicu kebakaran di beberapa lokasi strategis dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.

Di tengah eskalasi ini, ketegangan politik juga meningkat, termasuk di Amerika Serikat, di mana pejabat intelijen menghadapi kritik terkait informasi ancaman Iran. Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya berlangsung di medan perang, tetapi juga merembet ke ranah politik dan diplomasi internasional.

1. Situasi di Iran: Serangan energi dan pembunuhan pejabat

kapal di Selat Hormuz
kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)

Di dalam negeri, Iran menghadapi tekanan besar setelah serangkaian pembunuhan terhadap pejabat tinggi keamanan. Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyatakan Israel akan ‘membayar’ atas pembunuhan tiga pejabat senior dalam waktu berdekatan, termasuk Menteri Intelijen Esmail Khatib.

Sebelumnya, dua tokoh penting lainnya juga tewas, yakni Kepala Keamanan Ali Larijani dan pimpinan pasukan paramiliter Basij, Gholamreza Soleimani. Rentetan kejadian ini memperlihatkan intensitas operasi yang menyasar struktur keamanan inti Iran.

Selain itu, serangan Israel ke ladang gas South Pars menjadi pukulan strategis terhadap sektor energi Iran. Militer Israel juga mengumumkan telah memperluas serangan ke wilayah utara Iran, yang sebelumnya belum tersentuh sejak awal konflik.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pun memperingatkan akan melakukan balasan terhadap serangan tersebut. Ancaman itu terbukti ketika Iran langsung menyerang fasilitas energi negara-negara Teluk beberapa jam kemudian.

2. Kawasan Teluk: Serangan balasan dan ketegangan diplomatik

Para pengendara melintas di dekat kepulan asap yang dilaporkan berasal dari serangan Iran di kawasan industri Doha, Qatar pada 1 Maret 2026. (MAHMUD HAMS/AFP)
Para pengendara melintas di dekat kepulan asap yang dilaporkan berasal dari serangan Iran di kawasan industri Doha, Qatar pada 1 Maret 2026. (MAHMUD HAMS/AFP)

Dampak konflik terasa kuat di kawasan Teluk. Rudal Iran dilaporkan menghantam fasilitas gas alam cair (LNG) Ras Laffan di Qatar, yang merupakan salah satu fasilitas terbesar di dunia. Serangan ini menyebabkan kerusakan signifikan dan berpotensi memicu krisis pasokan energi global.

Dikutip dari Al Jazeera, Kamis (19/3/2026), selain Qatar, Iran juga menargetkan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, meskipun sebagian serangan berhasil dicegat. Ketegangan meningkat setelah Qatar mengusir atase militer dan keamanan Iran dengan status persona non grata.

Arab Saudi menyatakan kepercayaan terhadap Iran telah sepenuhnya hancur. Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan bahkan memperingatkan bahwa opsi non-diplomatik bisa diambil jika serangan terus berlanjut. “Kesabaran yang ditunjukkan tidaklah tanpa batas,” ujarnya.

Di Kuwait, aparat keamanan mengklaim berhasil menggagalkan rencana serangan terhadap infrastruktur vital dan menangkap 10 orang yang diduga terkait kelompok Hizbullah. Sementara Bahrain melaporkan telah mencegat ratusan rudal dan drone sejak perang dimulai.

3. Kontroversi intelijen dan kebijakan energi AS

Donald Trump sedang bertepuk tangan.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

Di Amerika Serikat, konflik ini memicu polemik internal. Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard dituduh mengubah kesaksian di Senat terkait program nuklir Iran.

Dalam dokumen tertulis, disebutkan Iran berupaya membangun kembali kapasitas pengayaan uranium, namun hal itu tidak disampaikan dalam pernyataan lisannya.

Situasi ini dinilai bertentangan dengan klaim Presiden Donald Trump yang menyebut Iran sebagai ancaman langsung sebelum perang dimulai. Kritik pun datang dari berbagai pihak yang menilai bukti ancaman tersebut tidak cukup kuat.

Di sisi lain, Trump mengambil langkah ekonomi dengan mencabut sementara aturan pelayaran lama melalui kebijakan Jones Act waiver selama 60 hari. Kebijakan ini bertujuan menekan biaya energi di tengah lonjakan harga akibat konflik.

Langkah tersebut mencerminkan kekhawatiran pemerintah AS terhadap dampak perang terhadap ekonomi domestik, terutama menjelang pemilu legislatif.

4. Israel dan Lebanon: Perang meluas ke perbatasan

Ilustrasi peta Timur Tengah. (pexels.com/Lara Jameson)
Ilustrasi peta Timur Tengah. (pexels.com/Lara Jameson)

Israel terus memperluas operasi militernya dengan menyerang wilayah utara Iran. Di saat yang sama, konflik dengan kelompok Hizbullah di perbatasan Lebanon juga semakin intensif.

Pertempuran di wilayah selatan Lebanon terus berlangsung, dengan Hizbullah mengklaim telah menyerang pasukan Israel di beberapa titik. Konflik ini menyebabkan lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi dalam waktu kurang dari tiga minggu.

Di Israel sendiri, militer melaporkan serpihan proyektil hasil intersepsi rudal Iran sempat jatuh di Bandara Ben Gurion. Insiden ini menambah kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur sipil.

Seorang analis Israel, Daniel Levy, menilai langkah militer Israel bertujuan mendorong “keruntuhan rezim” di Iran. Ia menyebut eskalasi ini sebagai upaya yang disengaja untuk mempersempit peluang deeskalasi konflik.

5. Dampak Global: Ancaman meluas ke ekonomi dunia

Ilustrasi uang talangan.
Ilustrasi uang talangan.

Konflik juga berdampak ke Irak, di mana markas pasukan keamanan di wilayah Salah al-Din diserang, melukai tiga personel. Pasukan tersebut merupakan bagian dari Popular Mobilisation Forces (PMF), kelompok paramiliter yang memiliki kedekatan dengan Iran.

Di sektor energi global, kekhawatiran semakin meningkat. Korea Selatan mengamankan tambahan pasokan minyak dari Uni Emirat Arab melalui jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz.

Sementara itu, Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan proyeksi inflasi dengan alasan ketidakpastian ekonomi akibat perang. Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan harga energi yang meningkat akan mendorong inflasi dalam waktu dekat.

Dengan eskalasi yang terus berlanjut dan melibatkan banyak negara, konflik Iran-Israel kini tidak hanya menjadi krisis regional, tetapi juga ancaman serius bagi stabilitas global, terutama di sektor energi dan keamanan internasional.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in News

See More