Prabowo: Ingin Damai, Negara Harus Siap Perang

- Prabowo menegaskan perang adalah bagian tak terhindarkan dari sejarah manusia, sehingga negara harus tetap siap menghadapi potensi konflik global tanpa bersikap naif.
- Ia menyoroti prinsip klasik ‘Si vis pacem, para bellum’, bahwa kesiapan militer bukan untuk memicu perang, melainkan sebagai langkah menjaga perdamaian dan mencegah ancaman.
- Sebagai contoh nyata, Prabowo menyebut Iran yang mampu bertahan puluhan tahun di bawah embargo karena persiapan militernya yang matang dan berkelanjutan.
Jakarta, IDN Times - Presiden RI Prabowo Subianto menilai perang merupakan bagian dari dinamika panjang sejarah manusia yang sulit dihindari. Ia menegaskan, negara tidak boleh bersikap naif dengan mengabaikan kesiapan pertahanan di tengah potensi konflik global.
Hal itu disampaikan Prabowo saat menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan terjadinya perang. Ia menyebut dorongan manusia untuk mendominasi pihak lain menjadi salah satu akar konflik yang terus berulang sepanjang sejarah.
“Sad to say, sangat sedih, bahwa memang sifat manusia itu selalu ingin dominasi yang lain. Ini sifat hakikat manusia,” ujar Prabowo dalam diskusi bersama pakar dan jurnalis senior di kediamannya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang ditayangkan pada Kamis (19/3/2026).
Menurutnya, dorongan tersebut kerap muncul dari perebutan sumber daya, wilayah, hingga kepentingan strategis. Ia mencontohkan bagaimana keinginan menguasai wilayah yang lebih subur atau memiliki sumber air bisa menjadi pemicu konflik.
1. Perang memang destruktif, tapi tak bisa diabaikan

Prabowo menegaskan, perang merupakan sesuatu yang destruktif dan harus dihindari. Namun, ia mengingatkan bahwa mengabaikan kesiapan menghadapi perang justru dapat berakibat fatal bagi suatu negara.
“Perang itu destruktif. Perang itu harus kita hindari at all cost,” katanya.
Meski begitu, ia menilai sikap terlalu idealis tanpa kesiapan justru berbahaya. “Kalau kita terlalu naif, kita terlalu baik, kita gak mau siap untuk perang, kita gak mau belajar perang, kita gak mau melengkapi diri untuk perang, kita justru akan dihabisi,” lanjutnya.
Prabowo kemudian mengutip pemikiran klasik dari sejarawan Yunani, Thucydides, yang menggambarkan realitas hubungan antarnegara.
“‘The strong will do what they can. The weak suffer what they must’. Yang kuat akan berbuat sekehendak hatinya. Yang lemah harus menderita,” ujarnya.
2. Ingin damai harus siap perang

Selain Thucydides, Prabowo juga mengutip pemikiran sejarawan Romawi, Vegetius, yang dikenal dengan prinsip ‘Si vis pacem, para bellum’.
“Kalau kamu mau damai, bersiaplah untuk perang,” kata Prabowo.
Ia menjelaskan, prinsip tersebut telah menjadi pelajaran klasik dalam strategi militer dan masih relevan hingga saat ini. Menurutnya, kesiapan militer bukan berarti mendorong perang, melainkan sebagai upaya pencegahan.
Prabowo menilai banyak negara maju menjadikan pemikiran tersebut sebagai dasar dalam membangun kekuatan pertahanan.
3. Soroti Iran sebagai contoh kesiapan jangka panjang

Dalam konteks konflik terkini, Prabowo menyinggung perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Ia menilai Iran sebagai contoh negara yang mempersiapkan diri menghadapi konflik dalam jangka panjang.
“Iran tuh persiapannya lama. Dia sendiri mengatakan, kami sudah siap perang ini sudah puluhan tahun,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bagaimana Iran mampu bertahan meski menghadapi embargo dan sanksi selama puluhan tahun. “Hampir 47 tahun di-embargo, 47 tahun dikasih sanksi, bertahan dia,” kata Prabowo.
Menurutnya, kesiapan tersebut membuat Iran tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga melakukan serangan balasan dalam konflik yang sedang berlangsung.
















