Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

China Minta Warganya Hindari Perjalanan ke Jepang di Tahun Baru Imlek

Panorama Gunung Fuji dari Prefektur Shizuoka di Jepang. (unsplash.com/ Rui Hao Lim)
Panorama Gunung Fuji dari Prefektur Shizuoka di Jepang. (unsplash.com/ Rui Hao Lim)
Intinya sih...
  • Kementerian Luar Negeri China melarang warganya bepergian ke Jepang jelang liburan Tahun Baru Imlek karena situasi keamanan yang tidak stabil dan kejahatan semakin merajalela.
  • Perjalanan warga China ke Jepang menurun 45,3 persen pada Desember 2025 dibandingkan tahun sebelumnya, akibat perseteruan kedua negara yang mempengaruhi ekonomi Jepang.
  • China tetap optimis tentang ledakan pariwisata dengan Korea Selatan setelah memperingatkan warganya untuk menghindari perjalanan ke Jepang, sebagai upaya memperkuat hubungan baik dengan Korsel.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kementerian Luar Negeri China kembali menyerukan kepada warganya untuk tidak bepergian ke Jepang menjelang liburan Tahun Baru Imlek, yang dimulai pada pertengahan Februari. Pernyataan tersebut datang menyusul pertikaian diplomatik antara kedua negara terkait Taiwan.

Dalam pemberitahuan yang di unggah di media sosial pada Senin (26/1/2026), kementerian tersebut mengklaim bahwa situasi keamanan Jepang tidak stabil dan kejahatan terhadap warga negara China semakin merajalela. Pihaknya juga menyebutkan kekhawatiran terkait keselamatan karena gempa bumi berulang kali terjadi di beberapa wilayah di Jepang, dilansir NHK News.

1. Pemberitahuan perjalanan yang dikeluarkan setelah pernyataan kontroversi Takaichi

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi (kiri) saat bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT APEC 2025 di Korsel (31/10/2025). (Dok. laman resmi Kemlu China/www.fmprc.gov.cn)
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi (kiri) saat bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT APEC 2025 di Korsel (31/10/2025). (Dok. laman resmi Kemlu China/www.fmprc.gov.cn)

Beijing mengeluarkan pemberitahunan serupa pada November dan Desember tahun lalu. Langkah tersebut sebagai respons atas pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Parlemen, mengenai pengerahan militer dalam keadaan darurat jika China menyerang Taiwan. Pernyataan itu membuat Beijing marah, dan kemudian menanggapinya dengan pembatasan ekspor, pembatalan penerbangan, dan komentar pedas dari media pemerintah.

Kementerian Pertahanan China memperingatkan Tokyo tentang kekalahan militer yang menghancurkan, jika mereka menggunakan kekuatan untuk campur tangan atas Taiwan.

Takaichi belum menarik kembali pernyataannya tersebut, tetapi ia telah memperhalusnya dengan menegaskan kembali posisi Jepang mengenai kebijakan 'Satu China'. Ia juga mengatakan bahwa penafsiran Beijing terhadap pernyataannya tidak sesuai dengan fakta.

2. Anjloknya jumlah pengunjung dari China ke Jepang

Potret maskapai asal China, Air China. (unsplash.com/KUA YUE)
Potret maskapai asal China, Air China. (unsplash.com/KUA YUE)

Banyak warga China melakukan perjalanan selama liburan Tahun Baru Imlek. Musim liburan tahun lalu, Jepang menjadi tujuan luar negeri terpopuler warga China. Namun, akibat perseteruan kedua negara, Beijing mempertahankan pendiriannya untuk memberikan tekanan pada ekonomi Jepang menjelang liburan tersebut.

Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO) melaporkan bahwa jumlah pengunjung dari China ke Jepang turun 45,3 persen pada Desember 2025, dibandingkan tahun sebelumnya.

Maskapai penerbangan besar China, seperti Air China, China Eastern, dan China Southern Airlines, telah mengumumkan bahwa mereka akan memproses pembatalan penerbangan ke dan dari Jepang, tanpa biaya hingga 24 Oktober. Periode tersebut telah diperpanjang dari 28 Maret dan sekarang mencakup libur Hari Nasional pada Oktober, ketika banyak warga China juga bepergian.

3. Berkonflik dengan Jepang, China jalin hubungan baik dengan Korsel

Ilustrasi bandara di Beijing, China. (pexels.com/Zbigniew Bielecki)
Ilustrasi bandara di Beijing, China. (pexels.com/Zbigniew Bielecki)

Dilansir The Japan Times, meski China memperingatkan warganya untuk menghindari perjalanan ke Jepang, negara tersebut tetap optimis tentang ledakan pariwisata dengan negara tetangga lainnya, yakni Korea Selatan (Korsel). Diketahui, Beijing sedang berupaya memperkuat koneksinya dengan Seoul setelah keretakan hubungannya dengan Tokyo.

Upaya tersebut didukung oleh kebijakan bebas visa, yang berdampak pada jumlah wisatawan Korsel ke China dan begitu pun sebaliknya, yang terus meningkat. Global Times, menyebutnya sebagai pertukaran ekonomi dan kerja sama yang berkembang antara Beijing-Seoul.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

Jaksa ke Stafsus Nadiem: soal Keputusan Menteri Lupa, yang Lain Ingat

28 Jan 2026, 00:06 WIBNews