cuplikan film Election (dok. Paramount Pictures/Election)
Waktu atas janji tersebut juga tidak dapat dilepaskan dari pemilu sela AS yang akan digelar pada 3 November. Dalam pemilu ini, kursi di House of Representatives dan Senat akan diperebutkan. Hasilnya menentukan apakah Partai Republik dapat mempertahankan kendali atas kedua kamar Kongres.
Trump secara eksplisit mengaitkan pembayaran 5.000 dolar AS dengan kemenangan Partai Republik di kedua lembaga tersebut.
“Jika Partai Republik memenangkan House of Representatives dan Senat Amerika Serikat, keduanya, saya akan memberikan dividen kepada setiap warga dewasa di Amerika Serikat sebesar 5.000 dolar AS,” kata Trump.
Robert Moran, mantan ahli strategi dan jajak pendapat Partai Republik menilai janji tersebut harus dilihat dalam konteks kampanye. Dia menyebut rencana itu sebagai janji yang luar biasa, tetapi mempertanyakan dari mana uang tersebut akan berasal.
“Ini merupakan janji yang luar biasa dan saya tidak yakin dari mana uang itu akan berasal, tetapi sekarang adalah musim kampanye,” kata Moran kepada BBC.
Secara historis, partai yang menguasai Gedung Putih kerap kehilangan kursi di Kongres dalam pemilu sela. Karena itu, mempertahankan mayoritas di House dan Senat menjadi kepentingan politik penting bagi pemerintahan Trump.
Demokrat langsung mengkritik janji tersebut sebagai janji kosong. Sementara itu, sejumlah pihak mempertanyakan apakah pembayaran tersebut secara hukum dapat dilakukan dan apakah pemerintah mampu membiayainya.
Ada pula persoalan tentang aturan pemilu federal yang melarang pembayaran yang dimaksudkan untuk memengaruhi pilihan pemilih. Namun, sejumlah pakar hukum melihat pernyataan Trump belum tentu melanggar aturan tersebut karena tidak secara langsung menawarkan uang kepada individu dengan syarat mereka memilih Trump atau Partai Republik.
Pengacara John Day menilai janji tersebut dapat dianggap sebagai komitmen kebijakan yang ditujukan kepada seluruh warga dewasa AS, bukan pembayaran kepada individu agar memilih dengan cara tertentu. Pakar hukum pemilu yang diwawancarai New York Times juga menilai pernyataan tersebut dapat dilindungi oleh kebebasan berbicara berdasarkan Amandemen Pertama Konstitusi AS.
Dengan begitu, “Trump Dividends” saat ini masih berupa janji politik. Realisasinya akan bergantung pada sumber pendanaan, keputusan Kongres, mekanisme pelaksanaan, serta persoalan hukum yang mungkin muncul jika pemerintahan Trump benar-benar mencoba menjalankannya.