Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Trump Klaim Rusia Setuju Stop Serang Infrastruktur Energi Ukraina

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berpidato di atas mimbar.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, CC BY SA 20, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Rusia belum mengonfirmasi klaim Donald Trump.
  • Rusia kerap menyerang infrastruktur energi di kota-kota besar Ukraina.
  • Ukraina sudah bertemu Amerika Serikat untuk bahas perdamaian.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim Rusia sepakat menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina selama satu minggu. Klaim ini disampaikan Trump dalam rapat kabinet yang digelar di Gedung Putih pada Kamis (29/1/2026).

"Karena cuacanya sangat dingin, aku secara pribadi meminta Presiden (Vladimir) Putin untuk tidak menembaki Kyiv dan kota-kota di sekitarnya selama seminggu ke depan," kata Trump, seperti dilansir France 24.

"Mereka belum pernah mengalami cuaca dingin seperti itu. Maka, aku secara pribadi meminta Presiden Putin untuk tidak menembaki Kyiv dan berbagai kota selama seminggu. Beliau setuju dan harus aku katakan, itu sangat menyenangkan," tambahnya.

1. Rusia belum mengonfirmasi klaim Donald Trump

Bendera Rusia sedang berkibar.
potret bendera Rusia (pexels.com/Сергей Велов)

Donald Trump meminta Rusia menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi demi keselamatan warga Ukraina. Sebab, jika Rusia terus melakukan itu, warga Ukraina bisa kehilangan pasokan listrik untuk menghidupkan penghangat ruangan. 

Ini bisa membuat mereka mati kedinginan di tengah musim dingin ekstrem yang sedang melanda. Menurut Badan Meteorologi Ukraina, suhu di sana bisa mencapai minus 30 derajat celcius. Kondisi ini, kata badan itu, akan bertahan selama beberapa hari mendatang. 

Rusia sendiri sebetulnya belum mengonfirmasi klaim yang dilontarkan Trump. Namun, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, sudah menyambut baik klaim tersebut. Ia berharap Vladimir Putin mau segera menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina karena membahayakan penduduk.

2. Rusia kerap menyerang infrastruktur energi di kota-kota besar Ukraina

Tentara sedang berperang.
ilustrasi serangan Rusia ke Ukraina (pexels.com/asim alnamat)

Rusia memang kerap menyerang infrastruktur energi yang ada di kota-kota besar di Ukraina. Beberapa di antaranya, seperti Kyiv, Dnipro, Zaporizhzhia, Kharkiv, dan Odesa. Infrastruktur energi yang paling sering jadi korban adalah pembangkit listrik yang ada di Kyiv.

Pada pada 24 Januari 2026 lalu, pasukan Rusia juga kembali menyerang fasilitas energi Ukraina. Serangan itu dilakukan menggunakan 370 drone dan 21 misil pada malam hari. Serangan ini menewaskan 1 orang, sedangkan 35 lainnya mengalami luka-luka.

Serangan ini sebetulnya sudah dikecam oleh delapan negara Eropa, yakni Denmark, Estonia, Finlandia, Islandia, Latvia, Lithuania, Norwegia, dan Swedia. Dalam pernyataan bersama yang dirilis pada 23 Januari, delapan negara itu menilai serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina sebagai pelanggaran hukum internasional dan bisa jadi kejahatan perang. 

3. Ukraina sudah bertemu Amerika Serikat untuk bahas perdamaian

Volodymyr Zelenskyy dan Donald Trump sedang berbincang.
potret Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy (kiri) dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kanan) (commons.wikimedia.org/The Presidential Office of Ukraine)

Untuk menghentikan invasi militer Rusia, Ukraina sebetulnya sudah mengadakan pertemuan dengan Amerika Serikat dan Rusia di Abu Dhabi pada pekan lalu. Namun, pertemuan tersebut saat itu belum menghasilkan kesepakatan berarti.

Rusia belum setuju untuk melakukan gencatan senjata dengan Ukraina. Inilah yang membuat pasukan Rusia masih terus melakukan serangan brutal terhadap Ukraina.

Oleh karena itu, pertemuan kedua dilaporkan bakal segera dihelat pada Minggu (1/2/2026) mendatang di tempat yang sama. Pertemuan tersebut diharapkan bakal jadi titik temu antara Rusia dan Ukraina untuk mencapai gencatan senjata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

Rusia Peringatkan Warganya Batasi Unggah Informasi Pribadi ke Medsos

31 Jan 2026, 20:08 WIBNews