Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Saudi Cegat Drone Houthi Sebelum Masuk Wilayah Terlarang Makkah

4 min read
Saudi Cegat Drone Houthi Sebelum Masuk Wilayah Terlarang Makkah
ilustrasi suasana di Makkah (pexels.com/Earth Photart)
  • Arab Saudi mencegat dan menghancurkan drone yang disebut diluncurkan Houthi sebelum memasuki wilayah udara terlarang di atas Makkah.

  • Saudi menyebut insiden itu sebagai upaya kedua terhadap Makkah, sedangkan Houthi membantah menargetkan kota tersebut.

  • Di tengah peningkatan serangan, East-West Pipeline Saudi juga terdampak dan operasionalnya belum dipastikan kembali normal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Klaim mana yang kamu pilih soal insiden drone di Mekkah?
Share Article

Jakarta, IDN TimesArab Saudi mencegat sebuah drone yang disebut diluncurkan oleh kelompok Houthi di Yaman sebelum memasuki wilayah udara terlarang di atas Kota Makkah. Drone tersebut dihancurkan oleh pertahanan udara Saudi di wilayah selatan Makkah pada Selasa (15/9/2026) malam.

Juru bicara koalisi militer pimpinan Saudi di Yaman, Turki al-Malki, mengatakan drone tersebut dicegat sebelum mencapai wilayah udara yang dilarang. Pernyataan itu disampaikan ketika serangan Houthi ke wilayah Saudi kembali meningkat di tengah meluasnya konflik di Timur Tengah.

Menurut al-Malki, insiden tersebut menjadi upaya kedua yang diklaim Saudi sebagai percobaan serangan terhadap Makkah. Upaya pertama disebut terjadi pada 2017 ketika sebuah rudal balistik diluncurkan ke arah wilayah tersebut.

Namun, Houthi membantah telah menargetkan Makkah. Anggota biro politik Houthi, Mohammed al-Farah, menyebut tuduhan tersebut sebagai “kebohongan yang terang-terangan” dalam pernyataan yang dikutip kantor berita SABA yang dikelola kelompok tersebut.

  1. 1. Drone dicegat sebelum masuk wilayah terlarang

    Kota Makkah, Arab Saudi
    Kota Makkah, Arab Saudi (unsplash.com/yusup rachman)

    Al-Malki mengatakan drone tersebut dicegat pada Selasa malam sebelum memasuki wilayah udara terlarang di atas Makkah. Kota tersebut merupakan lokasi Masjidil Haram dan menjadi pusat pelaksanaan ibadah haji setiap tahun.

    Dalam pernyataannya, al-Malki menyebut insiden tersebut sebagai upaya kedua untuk menargetkan Makkah setelah peluncuran rudal balistik pada 27 Juli 2017.

    Juru bicara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Turki Al Maliki, juga mengatakan insiden tersebut merupakan “upaya kedua untuk menargetkan Makkah”. Ia menyebut serangan itu sebagai “tindakan yang memalukan” terhadap kota yang menjadi salah satu tempat paling suci dalam Islam dan tujuan jutaan umat Muslim dari berbagai negara.

    “Keamanan Makkah merupakan garis merah bagi Saudi,” tegas al-Malki, dilansir dari The Telegraph, Rabu (16/9/2026). Pemerintah Saudi juga mengeluarkan peringatan keamanan untuk wilayah Makkah pada Selasa.

    Namun, kelompok Houthi membantah tuduhan bahwa mereka menargetkan kota tersebut. Mohammed al-Farah mengatakan kelompoknya tidak menyerang Makkah dan menolak klaim yang disampaikan pihak Saudi.

  2. 2. Serangan Houthi ke Saudi kembali meningkat

    Pencegatan drone tersebut terjadi setelah Houthi mengumumkan sejumlah serangan terhadap wilayah Saudi dalam sepekan terakhir. Salah satunya menyasar sebuah pangkalan udara pada Senin.

    Houthi mengatakan serangan tersebut dilakukan sebagai pembalasan atas serangan udara terhadap wilayah Yaman. Sementara itu, pejabat koalisi militer pimpinan Saudi menyebut serangan terhadap pangkalan udara tersebut melukai 13 warga sipil.

    Saudi dan Houthi sebelumnya telah terlibat dalam konflik panjang di Yaman. Saudi memimpin koalisi yang memerangi Houthi sejak 2015, meski pertempuran dalam beberapa tahun terakhir relatif mereda setelah adanya gencatan senjata.

    Situasi kembali memanas setelah Houthi pada bulan ini mendorong mundur pasukan yang berafiliasi dengan pemerintah Yaman. Peningkatan serangan tersebut kemudian kembali menarik Saudi lebih dalam ke konflik regional yang lebih luas.

    Selain serangan Houthi, Saudi juga menuding kelompok lain yang berbasis di Irak dan berafiliasi dengan Iran sebagai pihak yang menyerang salah satu jalur transportasi minyak penting kerajaan pada Jumat.

  3. 3. Jalur minyak Saudi ikut terancam

    Serangan terhadap infrastruktur energi tersebut menghantam East-West Pipeline, jalur sepanjang sekitar 1.200 kilometer yang menghubungkan ladang minyak Saudi di kawasan Teluk dengan Laut Merah.

    Jalur tersebut menjadi semakin penting bagi Saudi ketika pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu akibat perang Amerika Serikat dan Iran. Gangguan di salah satu jalur pelayaran minyak utama dunia itu telah memperlambat arus pengiriman minyak melalui kawasan tersebut.

    Para pedagang memperkirakan penutupan berkepanjangan East-West Pipeline dapat memangkas hingga sekitar 4 persen pasokan minyak global. Saudi belum mengumumkan kapan operasional jalur tersebut akan kembali normal.

    Namun, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright mengatakan kepada CNBC pada Selasa bahwa aliran minyak melalui pipa tersebut diperkirakan dapat kembali dalam beberapa hari.

    Dalam situasi tersebut, ancaman terhadap jalur perdagangan dan energi Saudi muncul bersamaan dengan meningkatnya serangan Houthi. Saudi sendiri telah meminta dukungan militer Amerika Serikat, meski sejauh ini bantuan yang diberikan disebut terbatas pada dukungan intelijen.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More