Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trump Temui PM Irak Ali al-Zaidi di Gedung Putih, Apa yang Dibahas?
Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi. (U.S. Secretary of War, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Donald Trump dan PM Irak Ali al-Zaidi sepakat memperdalam kerja sama ekonomi, terutama di sektor energi dan peningkatan produksi minyak selama pertemuan di Gedung Putih.
  • AS mendukung proyek pemulihan jalur pipa minyak Kirkuk-Baniyas yang menghubungkan Irak dan Suriah, dengan partisipasi perusahaan energi besar seperti Chevron.
  • Trump mengumumkan penarikan seluruh pasukan AS dari Irak paling lambat 30 September 2026, sejalan dengan rencana Baghdad fokus pada kemitraan ekonomi daripada militer.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menerima kunjungan Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, di Gedung Putih pada Selasa (14/7/2026). Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin sepakat untuk memperdalam kerja sama ekonomi, khususnya di sektor energi, serta meningkatkan produksi minyak Irak.

Dilansir Al Jazeera, kunjungan al-Zaidi dilakukan setelah Trump secara terbuka mendukung politisi independen berlatar belakang pebisnis itu dalam pemilu Irak. Trump menentang mantan Perdana Menteri Nouri al-Maliki yang selama ini dikenal memiliki hubungan dekat dengan Iran. Al-Maliki mengundurkan diri dari pencalonannya pada bulan April.

Baghdad mengatakan bahwa sejumlah perjanjian di bidang minyak dan gas diperkirakan akan ditandatangani selama kunjungan tersebut.

1. AS dukung proyek untuk menghidupkan kembali jalur pipa minyak Irak-Suriah

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengungkapkan bahwa Washington mendukung upaya Irak dan Suriah untuk mengaktifkan kembali jalur pipa minyak Kirkuk-Baniyas. Sejumlah perusahaan AS juga diperkirakan akan berpartisipasi dalam pembangunan jalur pipa minyak yang rusak saat AS menginvasi Irak pada 2003, mengutip Iraqi News.

Utusan Khusus Presiden AS untuk Irak, Tom Barrack, telah menggelar pembicaraan dengan perwakilan dari Baghdad, Damaskus, dan perusahaan energi Chevron guna membahas pemulihan jalur pipa yang menghubungkan ladang minyak Irak dengan pesisir Mediterania di Suriah. Trump mengatakan akan segera mengumumkan sejumlah kesepakatan besar di sektor energi dalam dua minggu mendatang.

"Irak memiliki potensi yang luar biasa karena minyaknya dan juga banyak hal lainnya. Kami akan membuat banyak kesepakatan. Kami akan menciptakan banyak lapangan pekerjaan bagi kedua negara dan kami akan memproduksi lebih banyak minyak. Sangat banyak minyak yang akan diproduksi," ujar Trump.

Duta Besar Irak untuk AS, Nizar al-Khairallah, sebelumnya mengatakan kapasitas pipa Kirkuk-Baniyas berpotensi ditingkatkan hingga 1 juta barel per hari, serta menyoroti potensi perluasan kerja sama ke sektor gas dan listrik. Al-Khairallah menilai proyek tersebut sebagai peluang strategis di tengah terganggunya jalur pelayaran internasional akibat situasi keamanan di Selat Hormuz.

2. Trump bakal tarik seluruh pasukan AS yang tersisa di Irak

Trump mengumumkan bahwa seluruh pasukan AS yang masih berada di Irak akan ditarik paling lambat 30 September 2026. Jumlah personel militer yang tersisa diperkirakan kurang dari 2.000 orang. Penarikan itu akan dilakukan bersamaan dengan rencana pemerintahan al-Zaidi untuk melucuti seluruh kelompok bersenjata yang masih aktif di negara tersebut.

Sejak invasi AS pada 2003, Irak terus menghadapi tarik-menarik pengaruh antara Washington dan Teheran. Keberadaan pasukan AS selama ini juga menjadi salah satu isu paling sensitif dalam politik domestik negara Teluk tersebut.

3. Irak ingin hubungan dengan AS bergeser ke kemitraan ekonomi

Al-Zaidi mengatakan kunjungannya menandai dimulainya babak baru hubungan Baghdad dan Washington yang lebih berorientasi pada kerja sama ekonomi dibandingkan dengan militer. Perekonomian Irak telah terdampak oleh gangguan pelayaran di Selat Hormuz. Sekitar 90 persen dari ekspor minyak yang mencapai 3,4 juta barel per hari dikirim melalui jalur tersebut.

"Saya menganalisis situasi ekonomi negara ini. Memikul beban berat ini membutuhkan mitra strategis untuk berbagi beban, dan mitra strategis terpenting di dunia adalah Amerika Serikat. Kunjungan saya bukanlah kunjungan biasa atau dilakukan tanpa pertimbangan matang, kunjungan ini tidak didorong oleh emosi, tetapi oleh penilaian rasional," ungkap al-Zaidi, dikutip dari Anadolu.

Al-Zaidi juga menegaskan bahwa Irak membutuhkan bagian yang adil dalam kuota produksi minyak OPEC. Menurutnya, peningkatan kuota produksi diperlukan untuk mempercepat pemulihan ekonomi negara Teluk tersebut setelah kerusakan besar akibat perang melawan ISIS, yang secara resmi dinyatakan berakhir pada 2017.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article