Trump Investigasi Kemungkinan Adanya Drone Iran di Kuba

- Presiden AS Donald Trump membuka investigasi terkait dugaan keberadaan drone Iran di Kuba dan menegaskan tidak akan membiarkan senjata Iran berada dekat wilayah Amerika.
- Sejumlah anggota parlemen Demokrat mengunjungi Kuba, bertemu Presiden Miguel Diaz-Canel, serta mengkritik kebijakan Trump yang dianggap memperburuk krisis energi dan kondisi rakyat Kuba.
- Dubes AS di PBB Mike Waltz menyebut Kuba sebagai ancaman keamanan karena adanya pengaruh intelijen Rusia dan China, menegaskan komitmen AS untuk menahan pengaruh kedua negara tersebut di kawasan.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump membuka investigasi terkait kemungkinan adanya drone Iran di Kuba. Ia menekankan, tidak akan membiarkan adanya drone atau persenjataan Iran di dekat teritori AS.
Dalam 6 bulan terakhir, AS terus meningkatkan blokade ke Kuba yang berimbas pada krisis energi akut. Langkah ini sesuai rencana AS untuk memberikan tekanan maksimum kepada rezim Kuba untuk mengadakan reformasi besar-besaran.
1. Trump sebut Kuba kemungkinan simpan drone Iran

Trump mengungkapkan bahwa terdapat kemungkinan Kuba menyimpan drone Iran. Ia memperingatkan bahwa Washington akan merespons jika benar ada drone Iran yang ditempatkan di negara Karibia tersebut.
“Jika mereka memilikinya dan kemungkinan mereka memang punya, kami akan menanganinya. Kami akan mencari kemungkinan bahwa Teheran menyimpan peralatan tempur di pulau itu, tapi mungkin saja benar, mungkin saja tidak,” terangnya, dikutip dari The Latin Times, Rabu (15/7/2026).
Namun, tuduhan Trump tersebut tidak disertai dengan bukti nyata adanya persenjataan di Kuba. Pernyataan Trump kali ini berdasarkan laporan intelijen AS yang belum dipublikasikan.
2. Anggota Parlemen dari Partai Demokrat berkunjung ke Kuba

Pada saat yang sama, beberapa anggota parlemen AS dari Partai Demokrat mengadakan kunjungan ke Kuba. Mereka sudah bertemu dengan perwakilan pemerintah Kuba, termasuk Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel.
Salah seorang anggota parlemen Mark Pocan mengaku bahwa tidak ada dialog antara Washington dan Havana yang berupaya meredam tensi. Ia mengkritik, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio yang justru menangani masalah Kuba atas dasar kepentingan personal dibanding profesionalitas.
Dilansir Democrata, mereka mengkritik pemerintahan Trump yang menyebabkan krisis di Kuba. Menurut mereka, Kuba memang tidak hancur karena bom, tapi rakyat Kuba tidak dapat beraktivitas dengan berbagai keterbatasan.
3. Dubes AS di PBB sebut Kuba sebagai ancaman

Duta Besar AS di PBB, Mike Waltz menekankan bahwa Kuba adalah ancaman bagi keamanan negaranya. Menurutnya, terdapat struktur yang terafiliasi dengan intelijen Rusia dan China yang beroperasi di negara Karibia tersebut.
“Rezim Kuba tidak hanya sebagai ancaman bagi rakyatnya sendiri, tapi juga ancaman bagi keamanan nasional AS. Maka dari itu, pemerintah AS tidak akan menoleransinya lagi,” terangnya.
Waltz memastikan bahwa AS akan terus menghalangi pengaruh Rusia dan China di Benua Amerika. Ia menyebut, sudah tidak ada lagi pengaruh keduanya di Venezuela dan Terusan Panama.





















