Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tensi Meningkat, Trump Kembali Blokade Semua Pelabuhan Iran

Tensi Meningkat, Trump Kembali Blokade Semua Pelabuhan Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menyampaikan pidato di Gedung Putih. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
Intinya Sih
  • Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade total terhadap seluruh pelabuhan Iran sebagai respons atas serangan Teheran terhadap kapal di Selat Hormuz.
  • Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan Iran jika negara itu tidak menghentikan serangan serta menolak kembali ke meja perundingan.
  • Iran dilaporkan telah menyerang tujuh kapal komersial di Selat Hormuz sejak kesepakatan damai dengan AS, menyebabkan korban jiwa dan lonjakan harga minyak global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, meminta pasukan militernya untuk memblokade semua pelabuhan milik Iran pada Selasa (14/7/2026) sebagai respons Washington karena Teheran kembali menyerang kapal-kapal yang sedang berlayar di Selat Hormuz. Kebijakan ini membuat semua kapal jadi tidak bisa masuk dan keluar dari pelabuhan milik Iran.

“Pasukan AS meminta pertanggungjawaban Iran atas agresi yang tidak beralasan yang terus membahayakan nyawa orang-orang yang tidak bersalah,” kata Kepala Komando Tengah (CENTCOM) militer AS, Laksamana Brad Cooper, soal blokade pelabuhan Iran, seperti dilansir Times of Israel.

1. Trump sudah pernah memblokade semua pelabuhan Iran

Kapal-kapal dagang sedang berlabuh di pelabuhan.
ilustrasi pelabuhan (pexels.com/Wolfgang Weiser)

Sebelum ini, Trump juga sudah pernah memblokade semua pelabuhan milik Iran. Blokade pertama terhadap pelabuhan milik negara Islam Syiah itu diberlakukan pada pertengahan April lalu. Ketika itu, blokade dilakukan untuk menghukum Iran yang menutup Selat Hormuz secara penuh sehingga tidak bisa dilalui kapal. 

Namun, pada pertengahan Juni, Trump memutuskan untuk menyetop blokade terhadap pelabuhan Iran. Sebab, kala itu, AS dan Iran sudah meraih kesepakatan damai. Dalam kesepakatan itu, Trump bersedia menghentikan blokade terhadap pelabuhan milik Iran. Di sisi lain, Iran juga bersedia untuk membuka Selat Hormuz secara penuh agar bisa dilalui kapal komersial.

2. Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan Iran

Pembangkit listrik.
ilustrasi pembangkit listrik (pexels.com/Radik 2707)

Selain memblokade pelabuhan, Trump juga mengancam akan menyerang semua pembangkit listrik dan jembatan milik Iran jika mereka tidak segera menghentikan serangan di Selat Hormuz. Oleh karena itu, Trump mendesak Iran untuk menghentikan serangan dan kembali bernegosiasi dengan AS agar kesepakatan damai bisa tercapai.

“Kita akan menyerang mereka (Iran) dengan sangat keras malam ini. Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras besok malam. Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras malam setelahnya. Kemudian, minggu depan akan menjadi sangat buruk bagi mereka karena akan ada (serangan ke) pembangkit listrik. Minggu depan, akan ada (serangan ke) jembatan. Kita akan menghancurkan semua pembangkit listrik mereka. Kita akan menghancurkan semua jembatan mereka kecuali mereka mau duduk di meja perundingan dan bernegosiasi,” kata Trump dalam wawancara bersama Fox News pada Selasa malam waktu AS. 

3. Iran sudah menyerang tujuh kapal di Selat Hormuz

Kapal-kapal sedang berlayar di Selat Hormuz.
Kapal-kapal sedang berlayar di Selat Hormuz. (commons.wikimedia.org/MC2 Indra Beaufort)

Sebelum Trump melontarkan ancaman tadi, Iran kembali melakukan serangan terbaru ke di Selat Hormuz pada Senin (13/7/2026). Kala itu, Teheran menyerang dua kapal asal Uni Emirat Arab (UEA) bernama Mombasa dan Al Bahyah. Serangan tersebut menewaskan 1 awak kapal, sedangkan 8 lainnya dilaporkan luka-luka.

Menurut CENTCOM, Iran sudah menyerang sekitar tujuh kapal komersial yang sedang berlayar di Selat Hormuz sejak meraih kesepakatan damai dengan AS pada 17 Juni lalu. Serangan ini membuat harga minyak kembali naik. Sebab, kapal-kapal yang akan mengekspor minyak dari Timur Tengah ke pasar global tidak bisa berlayar dengan aman di Selat Hormuz.   

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More