Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trump TV Diluncurkan, Isinya Siaran Ulang Pidato Presiden

4 min read
Trump TV Diluncurkan, Isinya Siaran Ulang Pidato Presiden
Presiden AS, Donald Trump (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, Creative Commons Attribution-Share Alike 2.0 Generic, via Wikimedia Commons)
  • Pemerintah AS meluncurkan Trump TV di YouTube sebagai siaran 24 jam, diawali ulang pidato Donald Trump untuk mempromosikan capaian pemerintahannya.
  • Peluncuran terjadi saat lima jaringan besar memboikot liputan Gedung Putih setelah CNN, MS NOW, dan Politico dilarang masuk; ketiganya menggugat pencabutan akses pers.
  • Gedung Putih menyebut kanal itu menyampaikan capaian tanpa penyaringan media, sementara sejumlah tokoh politik dan jurnalis mengkritiknya sebagai upaya mengendalikan narasi publik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi menghadirkan platform siaran langsung 24 jam bernama “Trump TV” melalui YouTube pada Senin (21/9/2026) pukul 19.00 waktu setempat. Berdasarkan laporan Time Megazine, tayangan perdana kanal tersebut berupa siaran ulang pidato Presiden AS Donald Trump di Mount Rushmore pada 3 Juli 2026 untuk mempromosikan capaian pemerintahannya.

Peluncuran ini berlangsung ketika lima jaringan televisi besar AS, yakni ABC, CBS, CNN, Fox, dan NBC, melakukan boikot liputan kelompok Gedung Putih sebagai bentuk solidaritas. Dalam pernyataan bersama, kelompok media tersebut menilai kepentingan publik sangat berkaitan dengan tersedianya informasi yang akurat dan independen mengenai pemerintah, sementara pemerintahan tak seharusnya membatasi organisasi berita karena keberatan terhadap pemberitaannya.

Perselisihan tersebut berawal dari keputusan Gedung Putih pada Jumat (18/9/2026) yang melarang CNN, MS NOW, dan Politico memasuki kawasan istana. Mengutip Dawn, kondisi itu membuat peresmian helipad baru Trump serta keberangkatannya menuju Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berlangsung tanpa liputan langsung dari stasiun televisi utama.

  1. 1. Boikot media menghambat liputan acara Gedung Putih

    ilustrasi liputan
    ilustrasi liputan (pexels.com/Caleb Oquendo)

    Ketiadaan kelompok media televisi terlihat ketika upacara pemotongan pita helipad raksasa berbahan granit digelar di halaman selatan Gedung Putih pada Senin (21/9/2026). Suara mesin helikopter Marine One menutupi pidato Trump, sedangkan Gedung Putih tak menyediakan mikrofon karena tak ada kamera kelompok media di lokasi, sehingga pembawa acara Newsmax menjelaskan komentar Trump tak terdengar akibat keterbatasan akses media.

    Aksi solidaritas juga melibatkan organisasi berita foto seperti Agence France-Presse (AFP), yang memilih menunda publikasi foto dari acara tersebut. Perseteruan kemudian masuk ke jalur hukum setelah akses dan lencana pers CNN, MS NOW, dan Politico dicabut pada Sabtu (19/9/2026), sehingga ketiga organisasi itu mengajukan gugatan dan meminta perintah penahanan sementara atas dugaan pelanggaran Amandemen Pertama Konstitusi AS mengenai hak pers bebas.

    Seorang hakim distrik AS telah menjadwalkan sidang pemeriksaan atas gugatan tersebut pada Rabu (23/9/2026). Perkembangan ini menjadi bagian dari sengketa hukum antara ketiga organisasi berita dan Administrasi AS terkait akses pers di Gedung Putih.

  2. 2. Gedung Putih menjelaskan tujuan peluncuran Trump TV

    Gedung Putih (pexels.com/Chris)
    Gedung Putih (pexels.com/Chris)

    Gedung Putih belum memberikan penjelasan pasti apakah “Trump TV” dibuat untuk menggantikan fungsi liputan kelompok televisi. Deputi Asisten Presiden sekaligus Kepala Strategi Digital Gedung Putih Kaelan Dorr menyebut kanal tersebut digunakan untuk menyampaikan capaian pemerintah secara langsung tanpa penyaringan media yang kerap dituduh menyajikan informasi secara tak akurat.

    Trump juga terus melancarkan serangan terbuka terhadap media dan menyebutnya sebagai ancaman keamanan nasional.

    “Gedung Putih tidak sedang menyerang Kebebasan Pers, sesuatu yang sangat saya hargai. Mereka sedang menyerang BERITA PALSU, sesuatu yang telah tumbuh seperti kanker di Amerika Serikat tercinta kita.” tulis Trump di Truth Social.

    Sikap pemerintah mendapat dukungan dari jajaran eksekutif yang menilai tindakan terhadap media tersebut tepat. Wakil Presiden AS JD Vance menuduh media arus utama menyebarkan propaganda sayap kiri dan menyatakan wartawan yang dilarang tak akan lagi memperoleh fasilitas ruang kantor di Gedung Putih.

    Ketika reporter AFP menanyakan pemicu pelarangan di Ruang Oval, Trump menyebut kebijakan tersebut merupakan akumulasi pemberitaan negatif selama dua tahun terakhir. Ia juga memperingatkan bahwa media lain dapat menghadapi perlakuan serupa.

  3. 3. Tokoh politik mengkritik langkah media mandiri pemerintah

    ilustrasi demokrasi di Amerika Serikat
    ilustrasi demokrasi di Amerika Serikat (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Peluncuran kanal mandiri itu mendapat kritik dari sejumlah tokoh politik yang menilai pemerintah berupaya mengendalikan narasi publik secara sepihak. Gubernur California Gavin Newsom menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah otokratis untuk menutupi kegagalan pemerintah dalam melayani rakyat, sementara Senator Arizona Mark Kelly menilai pembentukan media negara dan tekanan terhadap pers bukan praktik normal dalam sistem demokrasi.

    Mantan Sekretaris Pers Gedung Putih Stephanie Grisham menilai pola komunikasi pemerintah saat ini menyerupai metode yang biasa digunakan di Rusia, China, dan Iran. Kritik mengenai perlunya pengawasan independen terhadap pemerintah juga disampaikan jurnalis senior CBS News Weijia Jiang ketika berbicara di program Fox News Sunday.

    Jiang memperingatkan bahwa pers independen merupakan fondasi utama demokrasi AS dan publik perlu mempertanyakan informasi yang disembunyikan jika pemerintah hanya menyajikan satu narasi. Ketegangan tersebut berlangsung ketika tingkat persetujuan publik terhadap Trump berada di titik terendah, ancaman kekalahan Partai Republik pada pemilihan paruh waktu November berlanjut, perang Iran masih berlangsung, serta Presiden China Xi Jinping direncanakan berkunjung ke Gedung Putih pada pekan yang sama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More