Jakarta, IDN Times - Sebuah unggahan di media sosial dari Perdana Menteri (PM) Jepang, Sanae Takaichi, yang mengeluhkan kurang tidur kronis dan beban kerja berat telah memicu perdebatan luas. Unggahan ini kembali menyoroti budaya kerja ekstrem di Jepang yang identik dengan jam kerja panjang dan beban kerja berlebihan, di tengah upaya pemerintah sendiri yang tengah mendorong reformasi keseimbangan hidup dan bekerja.
Melalui unggahanya di platform X pada 20 Juli 2026, Takaichi mengatakan bahwa sejak menjabat sebagai PM pada Oktober tahun lalu, tidur hanya nol hingga tiga jam telah menjadi rutinitas. Ia mengaku menghabiskan malam untuk meninjau dokumen kenegaraan hingga dini hari, sekaligus merangkap pekerjaan rumah tangga.
Takaichi juga mengungkapkan bahwa selama libur akhir pekan tiga hari ia kewalahan menangani ribuan email yang menumpuk. Ia juga membaca berbagai dokumen penting, termasuk rancangan kebijakan ekonomi dan fiskal pemerintah. Menurutnya, ia baru bisa tidur selama lima jam untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dilansir Kyodo News pada Minggu (26/7/2026).
