Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Usai Insiden Ceuta, Yunani Desak Uni Eropa Tangguhkan Suaka Imigran
ilustrasi bendera Yunani (unsplash.com/vonshnauzer)
  • PM Yunani Kyriakos Mitsotakis mendesak Uni Eropa sementara menangguhkan suaka bagi imigran ilegal setelah ribuan orang memasuki Ceuta, Spanyol.
  • Yunani meminta UE membangun alat institusional untuk menghadapi penggunaan migran sebagai senjata dan memperketat kebijakan migrasi di perbatasan luar.
  • Athena menyatakan solidaritas kepada Spanyol, sementara Komisaris Eropa Magnus Brunner menegaskan insiden Ceuta tidak terkait percepatan naturalisasi migran Amerika Latin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Yunani, Kyriakos Mitsotakis, pada Rabu (5/8/2026), mendesak Uni Eropa (UE) menangguhkan suaka bagi imigran ilegal untuk sementara waktu. Desakan ini menyusul krisis migrasi yang terjadi di Ceuta, Spanyol. 

Insiden masuknya ribuan imigran ilegal di Ceuta membuat sejumlah negara-negara anggota UE bereaksi. Italia bahkan sudah menangguhkan sementara perjanjian Schengen dengan Spanyol. 

1. Dorong UE dapat merespons penggunaan migran ilegal sebagai senjata

ilustrasi bendera Yunani (pexels.com/@blue)

Menteri Migrasi dan Suaka Yunani, Thanos Plevris mengatakan bahwa UE membutuhkan alat institusional untuk melawan penggunaan migran sebagai senjata. Menurutnya, insiden di Ceuta dan Evros pada 2020 sudah menunjukkan kepentingan tersebut. 

Dilansir Greek City Times, Plevris mengungkapkan Yunani punya mengalami krisis migrasi di Evros yang berbatasan dengan Turki. Namun, otoritas setempat mampu bertindak cepat dan menangani masuknya ribuan imigran ilegal ke UE pada 2020. 

2. Mitsotakis desak UE perketat kebijakan migrasi

Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis. (European Parliament, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Pada saat yang sama, Mitsotakis mengungkapkan bahwa krisis migrasi di Ceuta adalah contoh desakan untuk memperketat migrasi masuk. Menurutnya, insiden serupa sudah dialami beberapa negara di perbatasan terluar UE, seperti Yunani, Lithuania, Polandia, dan Latvia. 

PM Yunani itu memperingatkan bahwa krisis migrasi ini semakin membuat kepercayaan publik tergerus. Selain itu, membuat tekanan besar kepada fungsi zona Schengen yang meniadakan pengecekan perbatasan. 

“Eropa harus jujur terkait pembatasan prosedur percepatan memperoleh suaka di negara UE. Ini bukan untuk meninggalkan nilai-nilai Eropa, tapi untuk menyesuaikan dengan realitas baru,” ungkapnya. 

3. Yunani ucapkan solidaritas kepada Spanyol

suasana kamp migran di Yunani (unsplash.com/jricard)

Yunani mengucapkan solidaritas kepada Spanyol atas insiden di Ceuta. Pihaknya mengatakan bahwa Yunani paham betul situasi dan tekanan besar imbas masuknya ribuan imigran ilegal. 

Sementara, Komisaris Eropa untuk Migrasi, Magnus Brunner mengatakan tidak ada hubungan antara insiden di Ceuta dan kebijakan percepatan naturalisasi imigran asal Amerika Latin. Menurutnya, Eropa akan tetap memberikan kewarganegaraan pada migran yang dipandang baik oleh UE. 

Dilansir TVP World, krisis migrasi Ceuta ini bukan yang pertama kali terjadi. Pada 2021, ribuan warga Maroko berbondong-bondong masuk ke wilayah terluar Spanyol di Afrika tersebut usai otoritas Maroko melonggarkan pengecekan perbatasan imbas masalah soal perawatan Pemimpin Front Polisario, Brahim Ghali di Spanyol.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article