Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ukraina Tuding Rusia Manfaatkan Krisis Ceuta di Italia

Ukraina Tuding Rusia Manfaatkan Krisis Ceuta di Italia
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha saat berkunjung ke Damaskus, Suriah. (Міністерство закордонних справ України, CC BY 4.0 , via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Menlu Ukraina Andrii Sybiha menuding Rusia menyebarkan propaganda terkait krisis migrasi Ceuta melalui media pro-Rusia untuk menebar ketakutan dan mengganggu stabilitas Uni Eropa.
  • Ukraina menyatakan instabilitas Afrika Utara dan Timur Tengah dapat memicu gelombang migrasi ke Eropa, sehingga keamanan pangan, pertanian, dan rute maritim perlu dilindungi.
  • Wakil Menlu Rusia Alexander Grushko menyebut krisis Ceuta sebagai kegagalan kebijakan migrasi UE, serta meminta Spanyol memperlakukan ribuan imigran Maroko secara manusiawi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu) Ukraina, Andrii Sybiha menuding Rusia memanfaatkan krisis migrasi Ceuta untuk menyebarkan ketakutan. Langkah itu untuk merusak stabilitas negara-negara anggota Uni Eropa (UE). 

Sementara, krisis migrasi di Ceuta, Spanyol telah mendorong perpecahan antar-anggota UE. Sejumlah negara mendorong penangguhan Spanyol dalam Schengen dan sebagian menolak rencana tersebut. 

1. Sybiha sebut Rusia sebarkan propaganda soal Ceuta

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha saat bertemu Pemimpin Suriah, Ahmed al-Sharaa di Damaskus, Senin (30/12/2024). (Mfa.gov.ua, CC BY 4.0 , via Wikimedia Commons)
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha saat bertemu Pemimpin Suriah, Ahmed al-Sharaa di Damaskus, Senin (30/12/2024). (Mfa.gov.ua, CC BY 4.0 , via Wikimedia Commons)

Sybiha mengatakan, terdapat sejumlah propaganda Rusia soal insiden Ceuta yang sengaja disebarkan di seluruh Eropa untuk menyebarkan ketakutan. Kabar itu disebarkan melalui jaringan media Rusia. 

“Kami sudah mendeteksi kampanye propaganda Rusia di seluruh Eropa menggunakan gambar dari Ceuta untuk merusak stabilitas. Terdapat 1.500 publikasi dalam jaringan media pro-Rusia, Pravda dan RT, terangnya, dikutip dari Ukrinform, Minggu (2/8/2026).

Menlu Ukraina itu menyebut Pravda Spanish bahkan sudah mengunggah hampir 300 konten soal Ceuta. Menurutnya, Eropa harus melarang operasional jaringan media Rusia tersebut. 

2. Sebut instabilitas di Afrika Utara akan dorong krisis migrasi di Eropa

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. (President Of Ukraine from Україна, CC0, via Wikimedia Commons)

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengatakan instabilitas di Afrika Utara dan Timur Tengah dapat mendorong krisis di Eropa. Menurutnya, terdapat hubungan antara krisis migrasi dan serangan Rusia di Laut Hitam. 

“Semua krisis di negara tetangga Eropa mendorong gelombang migrasi. Maka dari itu, menjamin keamanan makanan dan melindungi dari serangan Rusia di sektor pertanian dan rute maritim adalah kepentingan seluruh Eropa,” tuturnya, dikutip RBC Ukraine.

Presiden Ukraina keenam itu mendiskusikan masalah logistik dan meningkatkan kerja sama untuk memperlancar keamanan pangan global. Langkah ini penting agar tidak menaikkan biaya hidup di Timur Tengah dan Afrika Utara. 

3. Rusia sebut krisis Ceuta kegagalan kebijakan imigrasi Uni Eropa

Bendera Rusia.
ilustrasi bendera Rusia (pixabay.com/fotiniya)

Wakil Menlu Rusia, Alexander Grushko mengungkapkan, krisis migrasi Ceuta menunjukkan kegagalan kebijakan migrasi Uni Eropa (UE). Menurutnya, situasi seperti ini dapat dihindari jika investasi pengamanan perbatasan ditingkatkan bukan untuk membantu Ukraina. 

Ia mengharapkan Spanyol memperlakukan ribuan imigran Maroko di Ceuta tersebut dengan manusiawi. Sementara, Rusia menyebut bahwa insiden di Ceuta adalah bencana kemanusiaan yang berdampak kepada seluruh orang. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More