Keberhasilan Denmark dalam menghentikan penularan penyakit menular seksual dari ibu ke anak sangat bergantung pada sistem kesehatan universal yang diterapkan di negara tersebut. Sistem ini memberikan jaminan akses kesehatan yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan status sosial.
Kini, setiap ibu hamil di Denmark mendapatkan layanan pemeriksaan kandungan rutin yang sangat lengkap, termasuk di dalamnya tes untuk mendeteksi HIV, sifilis, dan hepatitis B. Keberhasilan ini juga didukung oleh fasilitas laboratorium yang canggih, sistem pendataan yang baik, serta perlindungan hak privasi pasien, sehingga proses pengobatan berjalan aman dan terhindar dari pandangan negatif lingkungan.
Menteri Dalam Negeri dan Kesehatan Denmark, Sophie Løhde, menjelaskan bahwa pengakuan internasional yang diraih negaranya merupakan buah dari dedikasi para tenaga medis selama puluhan tahun.
"Pengakuan resmi dari WHO ini menjadi momen yang sangat membanggakan bagi Denmark. Prestasi ini adalah hasil kerja keras puluhan tahun dari para tenaga medis, bidan, dan tim kesehatan masyarakat dalam memastikan setiap ibu hamil mendapatkan pemeriksaan serta perawatan yang mereka butuhkan," kata Løhde, dilansir The Business Standard.
Lewat pendekatan yang berfokus pada pasien tersebut, Denmark berhasil memastikan lebih dari 95 persen ibu hamil yang terdeteksi sakit langsung mendapatkan pengobatan dengan baik.
Di sisi lain, kehebatan sistem pemantauan data kesehatan di Denmark juga memegang peran yang sangat penting. Sistem pencatatan ini mampu melacak dan menganalisis setiap kasus secara detail agar penyakit tidak menyebar lebih luas ke masyarakat. Ketersediaan data yang akurat dan terbuka ini memudahkan otoritas kesehatan setempat untuk menyalurkan bantuan medis secara tepat sasaran, khususnya bagi kelompok yang paling berisiko.