ilustrasi korupsi (unsplash.com/Jesus Monroy Lazcano)
Di sinilah paradoks kakistokrasi menjadi penting. Sebuah negara bisa tetap mengadakan pemilu, pergantian kekuasaan bisa berlangsung secara prosedural, dan rakyat tetap memiliki hak memilih, tetapi hasil akhirnya belum tentu menghasilkan pemerintahan yang kompeten. Demokrasi menyediakan mekanisme untuk memilih pemimpin, tetapi kualitas pemimpin juga dipengaruhi oleh kualitas partai, informasi yang diterima masyarakat, aturan pemilu, serta kuat atau lemahnya lembaga pengawas.
Karena itu, menyebut kakistokrasi hanya sebagai akibat dari “pemilih yang salah” terlalu sederhana. Ada sistem politik yang ikut menentukan siapa yang punya akses terhadap kekuasaan, bagaimana kandidat dipilih, seberapa besar uang berperan, dan seberapa kuat pejabat bisa dimintai pertanggungjawaban. Kalau semua celah tersebut dibiarkan, demokrasi secara prosedural tetap bisa berjalan sambil menghasilkan pemerintahan yang justru jauh dari kepentingan publik.
Kakistokrasi bisa muncul dalam sistem demokrasi karena metodologi tersebut tak seharusnya berhenti pada pernyataan siapa yang menang dalam pemilu. Hal ini dikarenakan yang terpenting adalah apakah orang yang mendapatkan kekuasaan benar-benar bisa menjalankan tanggung jawabnya dan apakah masyarakat masih punya ruang untuk mengoreksinya ketika pemerintah membuat keputusan yang merugikan. Kalau dua hal itu semakin lemah, wajar jika istilah kakistokrasi kembali muncul dalam perdebatan tentang kualitas demokrasi Indonesia.
Referensi
"From Republic to Democracy to Kakistocracy" American Institute for Economic Research. Diakses pada September 2026.
"Kakistocracy: Incompetence in Power." Philonomist. Diakses pada September 2026.