ilustrasi simbol partai demokrat dan republik di Amerika (unsplash.com/Kelly Sikkema)
Rakyat memang memilih wakil dan pemimpin melalui pemilu, tetapi mereka tidak menentukan seluruh pilihan yang tersedia di surat suara. Partai politik punya peran besar dalam menentukan siapa yang akan dicalonkan, ditempatkan dalam posisi strategis, dan diberi dukungan untuk memenangkan pemilu. Artinya, kualitas orang yang akhirnya dipilih masyarakat juga sangat dipengaruhi oleh keputusan yang dibuat elite partai sebelum pemungutan suara berlangsung.
Masalah muncul ketika pencalonan lebih mengutamakan orang yang punya modal, popularitas, hubungan dengan elite, atau kemampuan mengamankan kepentingan partai. Kandidat yang punya kapasitas tetapi tidak memiliki sumber daya atau dukungan internal dapat tersingkir sebelum sempat bersaing dengan mereka. Pemilih akhirnya hanya bisa memilih dari nama-nama yang sudah lolos dari proses tersebut, sehingga persoalan kompetensi bisa muncul jauh sebelum suara diberikan.
Pejabat tidak kompeten memegang jabatan publik bukan cuma membuat pekerjaan pemerintahan berjalan buruk. Keputusan mereka menyangkut kebijakan, uang negara, dan kehidupan masyarakat luas. Sementara orang yang membuat keputusan tersebut bisa saja mendapatkan posisi bukan karena paling mampu, melainkan karena paling berguna bagi kekuasaan. Kalau jabatan publik terus diperlakukan sebagai tempat membagi pengaruh dan membalas kesetiaan, rakyat akhirnya bukan hanya memilih siapa yang berkuasa, tetapi juga menanggung akibat dari orang yang sebenarnya tak layak memegang kekuasaan itu.