KATSEYE (instagram.com/katseyeworld)
Anggapan seksualisasi berlebih tadi masih jadi perdebatan sengit di kalangan penggemar KATSEYE dan musisi perempuan gen Z lainnya. Choice feminism bisa jadi alasannya. Konsep ini merujuk pada keyakinan bahwa setiap pilihan yang diambil perempuan secara sadar perlu dihargai. Dengan begitu, perdebatan antara perempuan bekerja dan ibu rumah tangga tak lagi relevan. Lewat pendekatan itu, keputusan KATSEYE dan Sabrina Carpenter pun perlu dihargai, bahkan dilihat sebagai bentuk emansipasi seksual yang wajar dan perlu dinormalisasi.
Namun, di balik bijak dan ademnya pendekatan ini, choice feminism punya celah yang jadi poin penting dalam berbagai kajian akademik. Meagan Tyler dalam tulisannya untuk The Conversation membedah beberapa celah yang dimaksud. Menurutnya, choice feminism mereduksi perjuangan yang sistemik ke dalam pilihan-pilihan personal. Dengan mempercayai choice feminism, kita mengabaikan bagaimana sistem bekerja sebagai kesatuan dan bisa memengaruhi keputusan perempuan secara langsung maupun tidak. Faktanya, tidak semua perempuan punya pilihan untuk jadi ibu rumah tangga karena keterbatasan finansial.
Choice feminism mereduksi itu sebagai pilihan, melupakan fakta bahwa tidak semua orang punya keleluasaan yang sama untuk memilih. Keyakinan itu juga mengabaikan fakta bahwa selisih gaji perempuan dan laki-laki itu nyata. Bukan hanya karena alasan kapasitas profesional, tetapi juga karena adanya faktor-faktor seperti beban pengasuhan dan pekerjaan rumah yang dilimpahkan kepada perempuan sehingga bisa menghambat peluang perempuan untuk memaksimalkan potensi mereka di pekerjaan.
Ini juga berlaku dalam industri hiburan. Ketika kita melihatnya dengan kacamata choice feminism, kita akan melupakan siapa saja yang punya kuasa dalam membuat keputusan di balik layar seperti produser, petinggi label rekaman, penulis lagu, komposer, dan investor. Bila kita perhatikan, pria masih menguasai posisi strategis dalam industri tersebut. Perempuan memang mulai menjadi pertimbangan target pasar musik pop, terbukti dengan dominasi perempuan dalam fanbase Sabrina Carpenter, Taylor Swift, Zara Larsson, dan grup KPop. Namun, dalam sektor hiburan lainnya, seperti film dan video game, konsumen pria masih dominan dan kerap jadi penentu arah produksi.