Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Keunikan Bhutan, Dijuliki Sebagai Negara Paling Bahagia di Dunia

5 Keunikan Bhutan, Dijuliki Sebagai Negara Paling Bahagia di Dunia
Negara Bhutan (unsplash.com/Priyangshu SV)
Intinya Sih
  • Bhutan menilai kemajuan negaranya lewat Gross National Happiness, menekankan kesejahteraan mental, lingkungan, dan sosial di atas pertumbuhan ekonomi semata.
  • Negara kerajaan kecil di Himalaya ini memiliki lebih dari 70% wilayah berhutan dan menjadi satu-satunya negara dengan emisi karbon negatif di dunia.
  • Pemerintah Bhutan membatasi jumlah wisatawan demi menjaga kelestarian alam serta budaya, sementara ibu kotanya unik karena tidak memiliki lampu lalu lintas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bhutan merupakan negara kecil yang tersembunyi di daratan Asia Selatan. Tidak sebesar negara-negara yang biasa kita dengar, Bhutan justru hidup dengan segala kesederhanannya. Jika negara lain berlomba-lomba membangun gedung pencakar langit, Bhutan justru memilih di jalur berbeda, alih-alih gedung pencakar langit, lampu lalu lintas pun Bhutan tidak punya.

Di balik hal-hal sederhana ini, pemerintah Bhutan tetap memprioritaskan kebahagiaan dan kemakmuran rakyatnya daripada pertumbuhan ekonomi semata. Penasaran bagaimana kehidupan di Bhutan? Yuk, simak 5 fakta menyenangkan negara Bhutan yang dijuluki 'negara paling bahagia'.

1. Indeks Kebahagiaan Nasional sebagai tolok ukur pembangunan

ilustrasi penduduk di Bhutan
ilustrasi penduduk di Bhutan (pexels.com/Mikail Firat)

Salah satu yang mencuri perhatian dari Bhutan adalah negara tersebut menggunakan Gross National Happines (GNH) dan Happines Index sebagai alat ukur kebahagiaan kolektif di negaranya. Bhutan memprioritaskan kebahagiaan dan kesejahteraan masyarakat di atas pertumbuhan eonomi semata. Konsep ini yang dikenal dengan Gross National Happines atau Kebahagiaan Nasional Bruto. Mereka mengukur keberhasilan dengan mempertimbangkan faktor kesehatan mental, kelestarian lingkungan, dan kebahagiaan Individu.

Konsep Gross National Happines awalnya diperkenalkan oleh Raja Jigme Singye Wangchuck dari Bhutan pada tahun 1970. Di mana pada saat itu, Sang Raja mempertanyakan sistem pengukuran yang berlaku, di mana GDP dianggap sebagai satu-satunya ukuran kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, yang mana konsep tersebut justru bertentangan dengan pendapat Raja Bhutan.

Jigme berpendapat bahwa pembangunan berkelanjutan harusnya diwujudkan melalui pendekatan holistik, yakni dengan memperhitungkan faktor-faktor ekonomi dan non ekonomi.

2. Kerajaan kecil di Asia Selatan

Negara Bhutan
Negara Bhutan (unsplash.com/Unma)

Bhutan adalah negara kerajaan kecil, bergunung-gunung, dan terkurung di daratan di Asia Selatan. Negara ini terletak di Himalaya timur, tepatnya berbatasan dengan India dan Cina, dengan luas wilaah sekitar 38.000 kilometer persegei. Bhutan merupakan rumah bagi populasi sekitar 790.000 jiwa dan salah satu dari tiga negara yang memiliki emisi karbon negatif. Lebih dari 70% wilayahnya ditutupi oleh hutan.

Bhutan termasuk negara Buddha yang mengakui 'warisan spiritual' mereka di bawah konstitusi. Dipraktikkan oleh sekitar 75 persen penduduk, di mana agama Buddha memainkan peran penting di negara tersebut.

3. Satu-satunya negara dengan emisi karbon negatif

Negara Bhutan
Negara Bhutan (unsplash.com/Nihar)

Uniknya lagi, Bhutan didominasi oleh hutan yang sangat luas, meliputi sekitar 70 persen dari total wilayah negara. Hutan ini tidak hanya menjadi kekayaan alam yang tidak ternilai, namun juga berfungsi sebagai penyerap karbon alami yang efektif, mampu menangkap dan menyimpan karbon dioksida dari atmosfer.

Dilansir National Geographic, Bhutan mampu menghasilkan emisi CO2 sebanyak 2,2 juta ton di tahun 2017. Namun, luasnya hutan ini memiliki potensi luar biasa untuk menyerap hampir tiga kali lipat dari jumlah emisi tersebut, menjadikannya negara dengan kontribusi positif terhadap lingkungan global.

4. Bhutan membatasi jumlah wisatawan yang masuk

Negara Bhutan
Negara Bhutan (unsplash.com/Ugyen)

Dengan segala keistimewaan yang dimiliki, Bhutan justru membatasi wisatawan dari berbagai negara untuk mengunjungi negara tersebut. Pemerintah Bhutan menerapkan adanya batasan jumlah wisawatan yang masuk. Mereka percaya bahwa akses tanpa batas ke negara tersebut akan berdampak negatif pada lingkungan alam dan taradisi budaya kuno.

Keyakinan tersebut mengarah pada gagasan pariwisata 'Bernilai Tinggi, Bervolume Rendah'. Pariwisata, seperti semua industri di Bhutan, harus berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pemerintah ingin agar wisatawan memahami nuansa budaya dan tradisi yang mengakar, sehingga mereka memiliki apresiasi yang tinggi terhadap lingkungan sekitar.

5. Tidak ada lampu lalu lintas

Negara Bhutan
Negara Bhutan (unsplash.com/Pema)

Thimpu, kota terbesar di Bhutan, lebih tepatnya satu-satunya ibu kota di dunia yang tidak memiliki lampu lalu lintas. Ketika para perencana berupaya memasang lampu di persimpangan dekat alun-alun utama kota, penduduk kota menganggapnya terlalu modern dan menuntut agar lampu tersebut dicopot.

Saat ini, persimpangan tersebut diatur oleh manusia yang tidak lain adalah serang polisi yang berpakaian rapi degan setelan biru tua, topi militer, dan sarung tangan putih yang mengatur lalu lintas dengan mengandalkan gerakan tangan.

Itulah 5 keunikan dari Bhutan yang menarik untuk kita ketahui. Nah, sekarang kamu sudah tahu kan kalau Bhutan layak dijuluki sebagai 'Kerajaan Kebahagiaan' karena komitmennya yang selalu mengutamakan kebahagiaan dan kesejahteraan rakyatnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in Science

See More