Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Burung Huia, Spesies Punah Endemik Selandia Baru
Burung Huia (commons.wikimedia.org/Haplochromis)
  • Huia, burung endemik Selandia Baru, memiliki dimorfisme paruh ekstrem: jantan berparuh pendek dan lurus, betina panjang serta melengkung; perbedaan ini juga terkait pilihan makanan.
  • Dalam budaya Māori, Huia dianggap suci; bulu ekornya menjadi simbol kehormatan, kepemimpinan, dan mana, digunakan oleh tokoh terpandang serta dalam upacara adat.
  • Huia punah pada awal abad ke-20 akibat hilangnya hutan, perburuan, perdagangan bulu, dan predator pendatang; panggilannya tetap diwariskan melalui tradisi lisan Māori.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Burung Huia (Heteralocha acutirostris) merupakan spesies endemik Selandia Baru yang dikenal karena keunikannya. Salah satu ciri yang paling mencolok adalah bentuk paruh jantan dan betinanya yang sangat berbeda, sebuah karakteristik langka yang membuat Huia sering menjadi perhatian para peneliti.

Di balik keunikan tersebut, Huia juga memiliki hubungan erat dengan budaya Māori dan menyimpan kisah yang berakhir tragis akibat aktivitas manusia. Meski telah punah lebih dari seabad lalu, nama dan jejaknya masih dikenang hingga kini. Lantas, apa saja fakta menarik tentang burung Huia? Yuk, simak pembahasannya berikut ini!

1. Paruh jantan dan betina sangat berbeda

perbedaan bentuk paruh Huia jantan dan betina (commons.wikimedia.org/Dr Mirko Junge)

Pada kebanyakan burung, perbedaan antara jantan dan betina biasanya hanya terlihat dari warna bulu atau ukuran tubuh. Namun, hal itu tidak berlaku pada burung Huia. Burung ini memiliki perbedaan bentuk paruh yang sangat mencolok. Huia jantan memiliki paruh yang pendek, tebal, dan hampir lurus, sedangkan paruh betinanya lebih panjang, ramping, serta melengkung ke bawah.

Keunikan tersebut bahkan sempat membingungkan para peneliti pada abad ke-19. Karena bentuk paruhnya yang sangat berbeda, mereka sempat mengira Huia jantan dan betina merupakan dua spesies yang terpisah. Namun, penelitian selanjutnya membuktikan bahwa keduanya sebenarnya merupakan pasangan dari spesies yang sama, yaitu Heteralocha acutirostris.

2. Jantan dan betina memanfaatkan sumber makanan yang berbeda

ilustrasi Huia sedang mencari makan (commons.wikimedia.org/J. G. Keulemans)

Perbedaan bentuk paruh pada burung Huia tidak hanya membuat penampilannya terlihat unik, tetapi juga memengaruhi sumber makanan yang dimanfaatkan. Berdasarkan penelitian terhadap sampel bulu spesimen museum, Huia jantan diketahui memiliki pilihan makanan yang lebih beragam. Sementara itu, Huia betina cenderung memanfaatkan jenis makanan yang lebih spesifik.

Para peneliti menilai perbedaan tersebut kemungkinan membantu mengurangi persaingan dalam memperoleh makanan di habitat yang sama. Meski sama-sama mengonsumsi serangga serta bagian tumbuhan seperti buah dan biji, terdapat perbedaan dalam pilihan sumber makanan yang diambil. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan antara jantan dan betina tidak hanya terlihat dari penampilannya, tetapi juga dari cara keduanya memanfaatkan sumber daya di alam.

3. Bulu ekornya menjadi simbol kehormatan Māori

bulu ekor Huia dijadikan sebagai hiasan rambut oleh suku Māori (commons.wikimedia.org/Foy Brothers)

Selain memiliki keunikan fisik, burung Huia juga memiliki tempat yang istimewa dalam budaya masyarakat Māori di Selandia Baru. Bagi suku Māori, Huia merupakan burung yang dianggap suci (tapu). Bulu ekornya yang berwarna hitam mengilap dengan ujung putih sangat dihargai dan disimpan dengan baik di dalam waka huia, yaitu kotak kayu khusus untuk menyimpan benda-benda berharga.

Pada masa sebelum kedatangan bangsa Eropa, hanya kepala suku dan orang-orang terpandang yang boleh mengenakan bulu ekor Huia sebagai hiasan rambut. Bulu tersebut menjadi lambang kehormatan, kepemimpinan, dan mana dalam budaya Māori. Selain itu, bulu Huia sering digunakan dalam upacara adat serta diberikan sebagai hadiah untuk menunjukkan rasa hormat dan persahabatan.

4. Manusia menjadi penyebab utama kepunahannya

spesimen Huia yang diawetkan di museum (commons.wikimedia.org/Michel Krafft)

Burung Huia punah bukan karena proses alami, melainkan akibat berbagai aktivitas manusia. Salah satu penyebab utamanya adalah pembukaan hutan untuk dijadikan lahan pertanian, sehingga habitat alami Huia terus berkurang. Sebagai burung yang bergantung pada hutan primer, Huia kehilangan tempat mencari makan, berkembang biak, dan berlindung.

Selain kehilangan habitat, banyak burung Huia diburu untuk dijadikan koleksi museum. Sementara itu, bulu ekornya mulai digunakan sebagai aksesori pada topi oleh masyarakat Pākehā (warga Selandia Baru keturunan Eropa). Permintaan terhadap bulu pun semakin meningkat, sehingga populasinya menurun drastis. Ditambah dengan masuknya predator pendatang yang dibawa manusia, Huia akhirnya dinyatakan punah pada awal abad ke-20.

5. Panggilan Huia dikenang dalam tradisi Māori

Meskipun burung Huia telah punah, suara khasnya masih dikenang oleh masyarakat Māori. Bahkan, nama "Huia" diyakini berasal dari bunyi panggilannya. Melalui tradisi lisan, masyarakat Māori terus mewariskan pengetahuan tentang suara burung ini dari generasi ke generasi, termasuk lewat cerita dan kemampuan menirukan panggilannya.

Pada tahun 1954, seorang tetua Māori bernama Hamana Henare menirukan panggilan Huia yang diwariskan secara lisan. Tiruan suara tersebut kemudian direkam dan dimanfaatkan para peneliti untuk memperkirakan seperti apa suara asli Huia. Kisah ini menunjukkan bahwa warisan seekor satwa tidak selalu berupa peninggalan fisik, tetapi juga dapat hidup melalui budaya dan ingatan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Burung Huia memang telah punah, tetapi kisahnya masih terus dikenang hingga sekarang. Keunikan fisik, nilai budaya, dan sejarahnya menjadi pengingat bahwa setiap spesies memiliki peran yang berharga di alam. Semoga kisah Huia dapat menginspirasi kita untuk semakin menghargai dan menjaga keanekaragaman hayati agar tidak semakin banyak satwa yang mengalami nasib serupa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article