Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Eastern Eyed Click Beetle, Kumbang Bermata Palsu yang Unik

5 Fakta Eastern Eyed Click Beetle, Kumbang Bermata Palsu yang Unik
kumbang alaus oculatus (commons.wikimedia.org/Katja Schulz)
Intinya Sih
  • Eastern Eyed Click Beetle dikenal dengan dua pola hitam besar di pronotumnya yang menyerupai mata, berfungsi sebagai ilusi visual untuk menipu predator.
  • Kumbang ini mampu melompat sambil menghasilkan bunyi klik keras melalui mekanisme tubuh khusus, membantu membalikkan posisi dan menghindari ancaman.
  • Meskipun tampilannya mencolok dan terkesan menyeramkan, spesies ini tidak berbahaya bagi manusia serta berperan penting dalam ekosistem hutan sebagai pengurai alami.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di antara banyaknya serangga yang tampak biasa saja, ada satu kumbang yang langsung mencuri perhatian karena "tatapannya." Eastern Eyed Click Beetle memiliki dua pola besar menyerupai mata di pronotum yang membuatnya terlihat seperti makhluk kecil dari film fiksi ilmiah. Padahal, di balik tampilannya yang intimidatif, kumbang ini sebenarnya tidak berbahaya bagi manusia.

Serangga unik ini banyak ditemukan di wilayah timur United States hingga sebagian Canada. Selain motif mata yang mencolok, ia juga terkenal karena kemampuannya menghasilkan bunyi klik keras saat melompat. Berikut 5 fakta menarik tentang kumbang yang satu ini.

1. Mata di pronotumnya hanya tipuan

Kumbang Alaus oculatus
kumbang alaus oculatus (commons.wikimedia.org/Henryhartley)

Ciri paling mencolok dari Eastern Eyed Click Beetle adalah dua lingkaran hitam besar di pronotumnya yang tampak seperti mata raksasa. Pola ini terlihat sangat kontras dengan warna tubuhnya yang hitam berbintik putih, sehingga mudah menarik perhatian siapa pun yang melihatnya. Sekilas, tampilannya membuat kumbang ini terlihat seperti makhluk yang sedang menatap tajam dari balik tubuh kecilnya.

Namun, mata tersebut sebenarnya hanyalah eye spots atau pola pertahanan visual yang tidak memiliki fungsi penglihatan sama sekali. Dilansir Animal Diversity Web, strategi ini dikenal sebagai bentuk pertahanan evolusioner untuk mengelabui predator agar mengira mereka berhadapan dengan hewan yang lebih besar. Dengan ilusi visual tersebut, peluang kumbang ini untuk selamat dari serangan burung atau reptil kecil pun menjadi lebih besar.

2. Bisa melompat dengan bunyi klik keras

Kumbang Alaus oculatus
kumbang alaus oculatus (commons.wikimedia.org/Katja Schulz)

Eastern Eyed Click Beetle termasuk dalam keluarga Elateridae, kelompok kumbang yang dikenal luas sebagai click beetles. Ciri khas keluarga ini adalah kemampuan menghasilkan bunyi klik yang cukup keras ketika tubuhnya dalam posisi tertentu. Kemampuan unik ini bukan sekadar suara biasa, melainkan bagian dari mekanisme pertahanan yang sangat efektif.

Insects Advice menjelaskan bahwa mekanisme tersebut bekerja melalui struktur khusus di bagian bawah tubuh yang dapat melenting secara tiba-tiba. Ketika kumbang berada dalam posisi terlentang, ia akan menekuk tubuhnya hingga terdengar bunyi klik dan tubuhnya terlempar ke udara. Lompatan spontan ini membantu kumbang membalikkan diri sekaligus mengejutkan predator yang mungkin sedang mendekat.

3. Ukurannya relatif besar untuk kumbang

Kumbang Alaus oculatus
kumbang alaus oculatus (inaturalist.org/Laura Wangerin)

Dibandingkan banyak spesies kumbang lain, Eastern Eyed Click Beetle tergolong berukuran cukup besar. Earthpedia animal menyebutkan bahwa panjang tubuh dewasanya bisa mencapai sekitar 2,5 hingga 4,5 sentimeter, membuatnya mudah terlihat di alam liar. Ukuran ini menjadikannya salah satu anggota keluarga Elateridae yang paling mencolok di wilayah persebarannya.

Tubuhnya berwarna hitam dengan bintik-bintik putih yang tersebar di seluruh bagian sayap kerasnya. Pola kontras ini tidak hanya memperkuat kesan dramatis dari mata palsu di pronotumnya, tetapi juga membuatnya tampak lebih mencolok dibanding kumbang lain di sekitarnya. Kombinasi ukuran dan pola warna tersebut berperan penting dalam strategi pertahanan visualnya terhadap predator.

4. Larvanya dikenal sebagai wireworm

Kumbang Alaus oculatus
kumbang alaus oculatus (inaturalist.org/Scot Magnotta)

Pada tahap awal kehidupannya, Eastern Eyed Click Beetle berkembang dalam bentuk larva yang dikenal sebagai wireworm. Sebutan ini merujuk pada tubuhnya yang panjang, ramping, dan keras menyerupai kawat kecil. Bentuk tubuh tersebut membantunya bergerak lincah di dalam kayu lapuk atau celah-celah sempit di habitatnya.

Home & Garden Information Center menyebutkan bahwa berbeda dengan beberapa jenis wireworm lain yang dikenal sebagai hama tanaman, larva spesies ini justru bersifat predator. Mereka hidup di dalam kayu yang membusuk dan memangsa larva serangga lain yang juga tinggal di sana. Peran ini menjadikan mereka bagian penting dari proses alami penguraian kayu sekaligus pengendali populasi serangga kecil di ekosistem hutan.

5. Tidak berbahaya bagi manusia

Kumbang Alaus oculatus
kumbang alaus oculatus (inaturalist.org/Landon Ray)

Meski tampilannya terlihat menyeramkan dengan pola mata besar, Eastern Eyed Click Beetle sebenarnya tidak berbahaya bagi manusia. Dilansir Biology Insights, kumbang ini tidak berbisa dan tidak memiliki sengat yang dapat melukai. Penampilannya yang dramatis hanyalah bagian dari strategi pertahanan alami, bukan tanda agresivitas.

Jika merasa terganggu, kumbang ini cenderung memilih menjatuhkan diri atau menggunakan mekanisme kliknya untuk melompat menjauh. Ia tidak menunjukkan perilaku menyerang dan lebih mengandalkan refleks pertahanan pasif. Karena itu, Eastern Eyed Click Beetle justru lebih aman diamati daripada ditakuti saat ditemukan di alam liar.

Eastern Eyed Click Beetle membuktikan bahwa alam punya cara kreatif untuk bertahan hidup. Dari mata tipuan hingga mekanisme lompatan bersuara klik, setiap detail tubuhnya dirancang untuk meningkatkan peluang bertahan di alam liar. Di balik tampilannya yang dramatis, kumbang ini adalah contoh sempurna bagaimana strategi evolusi bisa terlihat sekaligus unik dan efektif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More