Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Kangkok Erasia, Burung Parasit Sarang yang Penuh Strategi
Kangkok Erasia (commons.wikimedia.org/Kudaibergen Amirekul)
  • Kangkok Erasia dikenal sebagai burung parasit sarang yang cerdik, meniru penampilan burung predator agar bisa mendekati sarang inang tanpa dicurigai.
  • Betina kangkok Erasia menyebar hingga 25 telur ke berbagai sarang burung lain, memilih spesies inang tertentu dan bertelur sangat cepat untuk menghindari ketahuan.
  • Anak kangkok Erasia menyingkirkan telur atau anak asli inang dan meniru suara mereka agar mendapat perhatian penuh dari induk angkatnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kangkok Erasia (Cuculus canorus) adalah spesies burung dengan reputasi yang bisa dibilang cukup kejam di dunia burung. Bagaimana tidak, alih-alih repot membuat sarang dan merawat anak sendiri, ia justru menitipkan telurnya ke sarang burung lain. Oleh karena itu, ia disebut sebagai burung parasit sarang yang licik. Parahnya lagi, strategi ini dilakukan dengan cara cerdik dan penuh perhitungan.

Di balik tingkahnya yang kontroversial, kangkok Erasia sebenarnya menyimpan kisah adaptasi yang luar biasa. Gimana sih cara burung ini menjalankan aksinya? Yuk, kita bongkar satu per satu di artikel ini!

1. Penampilannya mirip burung predator sehingga kehadirannya sering ditakuti burung lain

Kangkok Erasia (commons.wikimedia.org/Imran Shah)

Sekilas, kangkok Erasia punya penampilan seperti burung predator, yaitu Eurasian sparrowhawk. Ia memiliki tubuh ramping, sayap runcing dan ekor yang panjang. Warna tubuhnya semakin mendukung penyamaran ini. Burung ini punya tubuh bagian atas berwarna abu kebiruan, sementara bagian bawahnya bergaris hitam putih. Pola ini bukan kebetulan, lho! Para peneliti menduga ini adalah bentuk mimikri agar burung lain takut dan menjauh dari sarang sehingga ia bisa beraksi tanpa gangguan.

2. Ahli parasit sarang yang penuh strategi

Kangkok Erasia (commons.wikimedia.org/Vogelartinfo)

Kangkok Erasia terkenal sebagai burung parasit yang levelnya bukan main. Betinanya bahkan sering dijuluki sebagai induk yang licik. Dilansir Discovery Wildlife, alih-alih  membangun sarang untuk merawat telurnya sendiri, burung betina justru akan meletakkan telur-telurnya di sarang burung lain. Setelah itu, ia membiarkan telur tersebut dierami dan dibesarkan oleh indukan burung lain.

Dalam satu musim berkembang biak, seekor kangkok Erasia betina dapat menghasilkan hingga 25 butir telur. Uniknya, telur-telur tersebut tidak diletakkan di satu sarang, melainkan disebar ke sarang-sarang berbeda. Strategi ini tentunya bertujuan meningkatkan peluang keberhasilan keturunannya untuk bertahan hidup.

3. Tidak sembarangan memilih orang tua asuh untuk anaknya

Anak kangkok Erasia dengan induk inangnya (commons.wikimedia.org/Per Harald Olsen)

Menariknya lagi, kangkok Erasia tidak sembarang memilih orang tua asuh, lho! Setiap betina memiliki preferensi terhadap spesies inang tertentu. Dilansir Woodland Trust, beberapa burung yang kerap menjadi inangnya adalah dunnock, meadow pipit, reed warbler, garden warbler, robin Eropa, pied wagtail, hingga common redstart.

Taktik penyusupannya pun terbilang cerdik. Kangkok Erasia betina biasanya menunggu saat burung inang meninggalkan sarang di sore hari. Dalam beberapa kasus, ia bahkan sengaja menakut-nakuti pemilik sarang agar menjauh. Proses bertelurnya sendiri pun berlangsung sangat cepat, hanya sekitar 10 detik. Kecepatan ini tentunya meminimalkan risiko ketahuan. Cerdik sekali, bukan?

4. Telurnya punya penampilan mirip dengan telur inangnya

Telur burung kangkok Erasia terlihat mirip dengan telur burung Sardinian warbler (commons.wikimedia.org/Muséum de Toulouse)

Untuk memperkecil kecurigaan dan memperbesar peluang diterima, strategi kangkok Erasia tidak berhenti pada strategi penyelundupan saja. Bahkan, secara penampilan telurnya juga meniru warna dan pola telur inangnya, lho! Kemampuan ini membuat induk burung lain tak jarang kesulitan untuk menyadari adanya penyusup di sarangnya. Untuk menghindari kecurigaan akibat jumlah telur yang bertambah, kangkok Erasia betina biasanya akan membuang satu telur asli milik inang sebelum meletakkan telurnya sendiri. Sungguh licik, bukan?

5. Anak kangkok Erasia akan berusaha menguasai sarang dengan kejam

Anak kangkok Erasia berusaha menguasai sarang (commons.wikimedia.org/Anderson MG, Moskát C, Bán M, Grim T, Cassey P, Hauber ME )

Strategi licik kangkok Erasia tidak berhenti pada induknya saja. Setelah telur menetas kurang lebih 12 hari, drama di dalam justru baru dimulai. Setelah menetas, anak kangkok Erasia segera mengambil alih sarang. Dalam beberapa hari pertama kehidupannya, ia akan secara naluriah mendorong telur atau anak burung asli milik inang keluar dari sarang. Perilaku ini memang terdengar kejam, tetapi tindakan tersebut digunakan untuk meningkatkan peluangnya mendapatkan seluruh perhatian dan suplai makanan dari induk angkatnya.

Mengejutkannya lagi, induk burung inang sering kali tidak menyadari bahwa mereka sedang membesarkan seekor penyusup. Padahal, seiring pertumbuhannya, anak kangkok Erasia biasanya memiliki ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan induk angkatnya sendiri.

Lalu, mengapa sang induk tidak curiga? Jawabannya terletak pada kemampuan adaptasi anak kangkok Erasia. Ia mampu meniru suara anak burung inang dalam satu sarang tersebut. Suara rengekannya terdengar seperti paduan beberapa anak burung yang kelaparan, sehingga memicu naluri induk angkat untuk terus memberinya makan.

Itulah lima fakta menarik tentang kangkok Erasia, si burung parasit sarang yang terkenal licik. Di balik strategi yang terkesan kejam, semua perilaku tersebut menunjukkan bagaimana strategi beradaptasi di alam liar. Setiap perilakunya mungkin tampak kejam dari sudut pandang manusia, tetapi semua itu adalah hasil seleksi alam demi memastikan kelangsungan hidup spesiesnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team