Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Menarik Reine, Desa Nelayan di Utara Norwegia
Reine (commons.wikimedia.org/Simo Räsänen)
  • Reine, desa nelayan berpenduduk sekitar 300 orang di Kepulauan Lofoten, dikenal global sejak akhir 1970-an berkat lanskap pegunungan, fjord, dan permukiman pesisir; pariwisata berkembang לצד perikanan.
  • Rorbu merah-putih di pesisir menjadi ikon Reine; dulunya hunian sementara nelayan, sebagian kini penginapan. Desa ini juga menjadi pos perdagangan ikan kod sejak 1775 dan sempat dibakar pada 1941.
  • Masyarakat Reine mempertahankan pengeringan ikan menjadi stockfish di rak hjell. Lokasinya di utara Lingkar Arktik menghadirkan matahari tengah malam akhir Mei–pertengahan Juli serta malam kutub sekitar empat minggu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Reine merupakan sebuah desa nelayan yang terletak di Kepulauan Lofoten, Norwegia bagian utara. Meski ukurannya relatif kecil, desa ini memiliki kehidupan masyarakat yang erat kaitannya dengan laut, mulai dari kegiatan perikanan hingga bangunan-bangunan nelayan yang menjadi bagian dari identitas lokalnya.

Di balik ukurannya yang kecil, Reine memiliki sisi lain yang tak kalah menarik, mulai dari perjalanan sejarahnya hingga fenomena alam yang terjadi sepanjang tahun. Setiap hal tersebut memberikan gambaran berbeda tentang desa nelayan di utara Norwegia ini. Penasaran apa saja faktanya? Yuk, simak lima fakta unik Reine berikut ini!

1. Penduduknya hanya sekitar 300 orang, tapi dikenal di seluruh dunia

Reine (pexels.com/Jerry Geraldi)

Reine merupakan desa nelayan kecil di Kepulauan Lofoten dengan jumlah penduduk sekitar 300 orang. Desa ini dikenal luas berkat pemandangan alamnya yang memadukan pegunungan berbatu, fjord, dan permukiman di tepi laut. Reine juga kerap muncul dalam majalah dan buku panduan perjalanan.

Popularitasnya meningkat sejak akhir 1970-an, ketika majalah Norwegia Allers menyoroti Reine sebagai salah satu permukiman terindah di Norwegia. Sejak itu, desa ini semakin dikenal melalui berbagai publikasi dan menarik wisatawan dari berbagai negara. Pariwisata pun berkembang menjadi salah satu kegiatan ekonomi penting, berdampingan dengan tradisi perikanan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya.

2. Rumah-rumah nelayan merah menjadi ikon Reine

rumah nelayan tradisional atau rorbu di Reine (unsplash.com/Alexandre St-Aubin)

Salah satu ciri khas Reine adalah rumah nelayan tradisional yang disebut rorbu, atau rorbuer dalam bentuk jamak. Bangunan kayu ini umumnya berwarna merah dengan detail putih dan berdiri di sepanjang pesisir, sebagian di antaranya berada di atas air. Letaknya memudahkan nelayan menjangkau perahu dan perairan tempat mereka mencari ikan, sekaligus membentuk pemandangan khas desa tersebut.

Pada awalnya, rorbu berfungsi sebagai tempat tinggal sementara bagi nelayan yang datang ke Lofoten selama musim penangkapan ikan. Bangunannya sederhana dan digunakan untuk beristirahat serta menyimpan perlengkapan. Seiring waktu, sebagian rorbu di Reine dialihfungsikan menjadi penginapan wisatawan. Meski kegunaannya berubah, bangunan-bangunan ini tetap mencerminkan hubungan erat masyarakat setempat dengan kehidupan perikanan.

3. Sudah menjadi pos perdagangan sejak abad ke-18

pelabuhan kecil di Reine (commons.wikimedia.org/Jojo)

Reine mulai berkembang sebagai pos perdagangan pada 1775. Kegiatan ekonominya berkaitan erat dengan perikanan, didukung oleh armada perahu dan fasilitas pengolahan ikan. Hal ini menjadikan Reine sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi pesisir di kawasan tersebut.

Ikan kod menjadi salah satu komoditas utama yang mendukung perekonomian Reine dan kawasan Lofoten. Hasil tangkapan diolah agar dapat disimpan dan dipasarkan ke wilayah lain. Namun, perkembangan desa ini sempat mengalami kemunduran ketika sebagian kawasan Reine dibakar oleh pasukan Jerman pada Desember 1941 sebagai pembalasan atas serangan Inggris di Kepulauan Lofoten.

4. Memiliki tradisi menjemur ikan di luar ruangan

stockfish (commons.wikimedia.org/Simo Räsänen)

Pengeringan ikan merupakan tradisi penting di Kepulauan Lofoten, termasuk Reine yang dikenal sebagai desa nelayan. Tradisi ini menghasilkan stockfish, yaitu ikan yang dikeringkan tanpa menggunakan garam. Secara tradisional, ikan digantung pada rak kayu terbuka bernama hjell, lalu dibiarkan mengering secara alami. Metode ini telah digunakan selama berabad-abad untuk mengawetkan ikan agar tahan disimpan lebih lama.

Proses pengeringan mengandalkan kondisi alam, terutama angin, suhu, dan kelembapan udara. Di kawasan Lofoten, ikan biasanya dikeringkan selama sekitar tiga bulan hingga sebagian besar kandungan airnya menguap. Setelah itu, stockfish disortir berdasarkan kualitas sebelum dipasarkan. Tradisi pengolahan ikan ini turut mencerminkan eratnya hubungan Reine dan masyarakat Lofoten dengan kegiatan perikanan yang telah berlangsung selama berabad-abad.

5. Mengalami fenomena matahari tengah malam dan malam kutub

Reine (commons.wikimedia.org/Christoph Strässler)

Letak Reine di utara Lingkar Arktik membuat desa ini mengalami fenomena matahari tengah malam atau midnight sun. Pada periode ini, matahari tetap berada di atas cakrawala meskipun waktu sudah memasuki tengah malam. Di kawasan Lofoten, fenomena tersebut berlangsung sekitar akhir Mei hingga pertengahan Juli. Hal ini terjadi karena kemiringan sumbu Bumi membuat wilayah utara menerima sinar matahari lebih lama selama musim panas.

Sebaliknya, pada musim dingin, Lofoten mengalami malam kutub atau polar night, yaitu periode ketika matahari tidak terbit di atas cakrawala. Fenomena ini umumnya berlangsung sekitar empat minggu mulai pertengahan Desember. Meski demikian, langit tidak selalu gelap sepenuhnya karena cahaya senja masih dapat muncul saat matahari berada di bawah cakrawala. Cahaya tersebut dapat menghadirkan warna biru, merah muda, hingga jingga di langit utara Norwegia.

Itulah lima fakta unik tentang Reine, desa nelayan kecil di utara Norwegia yang memiliki sejarah dan tradisi menarik. Kehidupan masyarakatnya yang erat dengan laut, ditambah kondisi alam yang khas, menunjukkan bagaimana budaya dan lingkungan saling membentuk identitas sebuah desa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article