Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Ribbon Eel, Biota Laut Eksotis Penghuni Perairan Tropis

4 min read
5 Fakta Ribbon Eel, Biota Laut Eksotis Penghuni Perairan Tropis
ribbon eel (inaturalist.org/François Libert)
  • Ribbon eel (Rhinomuraena quaesita) adalah belut moray bertubuh panjang seperti pita yang berubah warna sepanjang pertumbuhan dan dapat beralih dari fase jantan ke betina.
  • Spesies ini memiliki lubang hidung berbentuk tabung untuk mendeteksi zat kimia di air, serta sering bersembunyi di lubang dasar laut sambil menunggu ikan kecil.
  • Ribbon eel menghuni terumbu karang, laguna, dasar berpasir, dan pecahan karang di Indo-Pasifik termasuk Indonesia, pada kedalaman sekitar 1–67 meter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Laut tropis menjadi rumah bagi beragam biota dengan bentuk dan ciri khas yang menarik, salah satunya ribbon eel yang termasuk dalam keluarga belut moray (Muraenidae). Ikan dengan nama ilmiah Rhinomuraena quaesita ini memiliki tubuh panjang dan ramping, dengan gerakan meliuk menyerupai pita. Penampilannya semakin mencolok karena warna tubuhnya berubah seiring pertumbuhan.

Keunikan ribbon eel tidak hanya terletak pada penampilannya. Ikan ini memiliki struktur hidung yang khas, cenderung bersembunyi di dalam lubang pada dasar laut, dan kerap terlihat membuka mulut saat kepalanya muncul dari tempat berlindung. Spesies ini juga menghuni kawasan tropis Indo-Pasifik, termasuk perairan Indonesia. Yuk, simak lima faktanya berikut ini!

  1. 1. Mengalami perubahan warna seiring pertumbuhannya

    ribbon eel
    ribbon eel (inaturalist.org/uwkwaj)

    Salah satu keunikan ribbon eel adalah perubahan warna tubuhnya sepanjang siklus hidup. Individu muda umumnya berwarna hitam dengan sirip punggung kuning. Ketika dewasa sebagai jantan, tubuhnya berubah menjadi biru cerah dengan warna kuning pada bagian kepala dan sirip punggung. Sementara itu, individu betina cenderung berwarna kuning, meskipun bagian belakang tubuhnya dapat tetap berwarna biru.

    Menariknya, perubahan warna ini juga berkaitan dengan perubahan jenis kelamin. Ribbon eel termasuk hermafrodit sekuensial protandri (protandrous hermaphrodite), yaitu hewan yang dapat beralih dari fase jantan ke fase betina. Perubahan tersebut telah dilaporkan dalam penelitian ilmiah melalui pengamatan dan pemeriksaan organ reproduksi. Meski begitu, warna tubuh saja tidak selalu cukup untuk menentukan jenis kelamin atau tahap kematangan reproduksinya.

  2. 2. Memiliki hidung dengan bentuk yang unik

    struktur hidung ribbon eel
    struktur hidung ribbon eel (inaturalist.org/Hickson Fergusson)

    Ribbon eel memiliki struktur hidung yang khas di bagian depan moncongnya. Lubang hidungnya memanjang seperti tabung dan memiliki ujung yang melebar menyerupai kipas. Bentuk ini menjadi salah satu ciri fisik yang membedakannya dari jenis belut moray lainnya.

    Struktur hidung tersebut berkaitan dengan fungsi penciuman. Seperti ikan pada umumnya, ribbon eel menggunakan indra penciuman untuk mendeteksi zat kimia di dalam air. Kemampuan ini membantu ikan mengenali kondisi lingkungan dan mendeteksi petunjuk yang berkaitan dengan keberadaan makanan.

  3. 3. Lebih suka bersembunyi di dalam lubang

    ribbon eel
    ribbon eel (inaturalist.org/Sylvain Le Bris)

    Ribbon eel cenderung menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam lubang atau celah pada dasar laut. Saat bersembunyi, ikan ini terkadang hanya memperlihatkan kepala dan sebagian kecil tubuh bagian depannya. Kebiasaan tersebut membuat keberadaannya tidak selalu mudah dikenali.

    Tempat berlindung itu juga dapat dimanfaatkan untuk mencari makan. Ribbon eel memangsa ikan-ikan kecil dan dapat menunggu di dekat pintu masuk lubangnya sebelum menyergap mangsa yang melintas dalam jangkauan. Meski demikian, keberadaannya di dalam lubang tidak selalu menandakan bahwa ikan ini sedang berburu, sebab tempat tersebut juga berfungsi sebagai perlindungan.

  4. 4. Sering membuka mulutnya lebar-lebar

    ribbon eel
    ribbon eel (inaturalist.org/terence zahner)

    Ribbon eel kerap terlihat membuka dan menutup mulut ketika kepalanya muncul dari lubang tempat berlindung. Sekilas, gerakan tersebut mungkin tampak seperti tanda ancaman atau persiapan untuk menyerang. Namun, pada belut moray, gerakan mulut membantu mengalirkan air melewati insang sehingga proses pernapasan dapat berlangsung.

    Oleh karena itu, mulut ribbon eel yang terbuka tidak otomatis menandakan bahwa ikan tersebut sedang agresif. Gerakan ini dapat terlihat saat ikan berada dalam posisi diam. Meski demikian, ikan ini tetap sebaiknya tidak disentuh atau diganggu karena tindakan tersebut dapat memicu respons defensif, termasuk gigitan.

  5. 5. Menghuni perairan tropis Indo-Pasifik, termasuk Indonesia

    ribbon eel
    ribbon eel (commons.wikimedia.org/Bernard DUPONT from FRANCE)

    Ribbon eel hidup di kawasan Indo-Pasifik, yang membentang dari Afrika Timur hingga wilayah Pasifik. Persebarannya mencakup perairan di sekitar Jepang bagian selatan, Australia, Kaledonia Baru, dan Polinesia Prancis. Indonesia juga termasuk dalam wilayah persebaran alaminya, sehingga menjadikan spesies ini bagian dari keanekaragaman ikan laut di kawasan tropis.

    Spesies ini dapat ditemukan di lingkungan terumbu karang dan laguna, serta pada dasar laut yang berpasir atau dipenuhi pecahan karang. Ribbon eel ditemukan pada kedalaman sekitar 1–67 meter. Rentang tersebut menunjukkan bahwa spesies ini dapat dijumpai pada berbagai kedalaman di wilayah persebarannya.

    Itulah lima fakta tentang ribbon eel, salah satu penghuni unik di perairan tropis. Beragam keistimewaannya menunjukkan betapa menariknya kehidupan di bawah laut. Mengenal biota seperti ribbon eel juga bisa menjadi langkah kecil untuk menumbuhkan kepedulian terhadap kekayaan laut dan pentingnya menjaga ekosistem tempat mereka hidup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More