5 Fakta Timgad, Reruntuhan Kota Romawi Kuno di Aljazair

- Timgad didirikan Kaisar Trajan pada tahun 100 Masehi sebagai koloni militer untuk veteran perang, berkembang pesat berkat tanah subur dan mampu menampung hingga 15.000 penduduk.
- Kota ini terkenal dengan tata kota grid rapi bergaya Romawi, gerbang kemenangan Gapura Trajan setinggi 12 meter, serta perpustakaan kuno yang diperkirakan menampung sekitar 3.000 gulungan naskah.
- Timgad memiliki fasilitas lengkap seperti teater besar, pemandian umum, dan basilika megah sebelum akhirnya terkubur pasir gurun hingga ditemukan kembali pada 1765 dan diakui UNESCO tahun 1982.
Peninggalan megah Romawi kuno ternyata enggak cuma ada di Italia, tapi juga sampai ke Afrika. Salah satu yang paling keren adalah Timgad, sebuah kota kuno di Pegunungan Aurès, Aljazair.
Kota yang punya nama resmi Colonia Marciana Ulpia Traiana Thamugadi ini bikin takjub karena tata kotanya rapi banget. Hebatnya lagi, sisa-sisa bangunannya masih awet dan terjaga dengan sangat baik sampai sekarang.
Penasaran ada rahasia apa saja di balik reruntuhan kota kuno ini? Yuk, langsung kita intip fakta-fakta serunya!
1. Dibangun untuk para veteran perang

Timgad awalnya didirikan oleh Kaisar Trajan pada tahun 100 Masehi sebagai kota koloni militer khusus. Kota ini sengaja dibangun sebagai benteng pertahanan yang kuat untuk menghalau serangan dari suku Berber di wilayah Pegunungan Aures. Menariknya, kota ini awalnya dihuni oleh para pendatang serta veteran perang dari Legiun Ketiga Augustan yang legendaris.
Kehadiran para veteran ini terbukti berhasil membuat perekonomian kota berkembang sangat pesat selama ratusan tahun. Apalagi, tanah di wilayah sekitar kota ini sangat subur sehingga sektor pertanian mereka maju luar biasa. Berkat kondisi alamnya yang makmur, kota ini akhirnya mampu menampung hingga 15.000 penduduk di masa kejayaannya.
2. Desain tata kota grid yang sempurna

Timgad dibangun dengan tata kota yang super rapi dan berbentuk kotak-kotak persis seperti papan catur. Jalanan utamanya saling berpotongan tegak lurus dan dihiasi oleh deretan tiang melengkung khas Romawi kuno yang megah. Uniknya, salah satu jalan utama kota ini tidak menembus sampai ujung, melainkan berhenti tepat di sebuah alun-alun besar yang menjadi pusat keramaian.
Tepat di ujung jalan sebelah barat, kamu akan disambut oleh sebuah gerbang kemenangan raksasa setinggi 12 meter yang bernama Gapura Trajan. Gerbang megah yang sempat diperbaiki pada tahun 1900 ini sebagian besar dibangun menggunakan tumpukan batu pasir yang sangat kokoh. Struktur lengkungannya mengadopsi gaya arsitektur Korintus kuno dengan tiga pintu masuk, di mana pintu tengahnya menjadi yang paling lebar dan megah.
3. Ditemukan perpustakaan umum kuno yang langka

Salah satu penemuan paling berharga yang bisa kamu temukan di Timgad adalah reruntuhan sebuah perpustakaan umum kuno. Fasilitas super keren ini ternyata merupakan hadiah dari seorang dermawan kaya bernama Julius Quintianus Flavius Rogatianus. Beliau rela merogoh koceknya hingga 400.000 sesterce—mata uang Romawi kuno—demi membangun tempat membaca untuk masyarakat setempat.
Meskipun begitu, para ahli masih belum tahu pasti kapan tepatnya perpustakaan ini mulai dibangun karena minimnya catatan sejarah tentang sang penyumbang. Namun, kalau melihat dari sisa-sisa bangunan yang ada, tempat ini diperkirakan berdiri sekitar akhir abad ke-3 atau abad ke-4. Hebatnya lagi, bangunan bersejarah ini diprediksi pernah menampung hingga 3.000 gulungan naskah penting pada masa kejayaannya.
4. Punya fasilitas kota super lengkap

Meskipun lokasinya berada jauh di pedalaman Afrika, Timgad ternyata punya fasilitas super lengkap layaknya kota metropolitan kuno. Salah satu fasilitas hiburan yang paling megah adalah sebuah teater terbuka berkapasitas sekitar 3.500 penonton. Hebatnya, kondisi teater ini masih sangat terawat dengan baik dan terkadang masih dipakai untuk pertunjukan seni zaman sekarang.
Selain tempat hiburan, kota ini juga sangat memanjakan warganya dengan fasilitas sanitasi dan keagamaan yang mewah. Bayangkan saja, di dalam kota ini terdapat sekitar 14 pemandian umum kuno, termasuk 4 pemandian air panas berukuran besar. Tidak ketinggalan, sebuah bangunan basilika megah juga berdiri kokoh sebagai pusat kegiatan hukum sekaligus keagamaan bagi masyarakat setempat.
5. Sempat "hilang" ditelan gurun

Setelah dihantam invasi bangsa Vandal pada tahun 430, Timgad terus-menerus diserang hingga kondisinya semakin melemah. Kota ini tidak pernah benar-benar bisa bangkit kembali sampai akhirnya ditinggalkan sepenuhnya oleh penduduknya pada tahun 700-an. Perlahan tapi pasti, angin gurun mulai menyapu wilayah tersebut dan mengubur seluruh isi kota di bawah tumpukan pasir.
Seribu tahun berlalu dalam kesunyian sebelum akhirnya kota yang hilang ini ditemukan kembali oleh tim penjelajah. Sosok pemberani asal Skotlandia bernama James Bruce berhasil mencapai reruntuhan tersembunyi ini pada tanggal 12 Desember 1765. Kedatangannya tersebut menjadikan dirinya sebagai orang Eropa pertama yang menginjakkan kaki di Timgad setelah berabad-abad lamanya.
Melihat segala keunikan sejarah dan arsitekturnya yang tiada tanding, tidak heran jika UNESCO meresmikan Timgad sebagai Situs Warisan Dunia sejak tahun 1982. Kota kuno ini benar-benar menjadi bukti nyata bahwa kemegahan Kekaisaran Romawi pernah menancapkan jejak indahnya di tanah Afrika.


















