ilustrasi memelihara kucing (pexels.com/Huyen)
Catnip adalah tanaman dengan nama latin nepeta cataria, yang mana tanaman ini termasuk dalam famili mint. Catnip berasal dari Eropa, Asia, dan Afrika, yang kemudian dibawa ke Amerika Utara dan sekarang tumbuh sebagai gulma di semua benua tersebut. Efek catnip pada kucing telah dikenal dalam ilmu pengetahuan sejak tahun 1700-an.
Ketika kucing mengendus catnip, senyawa kimia bernama nepetalactone yang terdapat dalam tanaman tersebut masuk ke jaringan hidung mereka. Di sana, senyawa ini berkaitan dengan reseptor protein yang merangsang neuron sensorik. Neuron-neuron ini kemudian mengirimkan sinyal ke otak. Sinyal tersebut kemudian mencapai dua bagian otak kucing, yaitu amigdala yang menangani respons emosional dan hipotalamus yang bertanggung jawab atas respons perilaku.
Di otak, mereka menciptakan reaksi yang mirip dengan reaksi yang disebabkan oleh feromon seks alami kucing. Efek catnip pada kucing biasanya berlangsung selama sekitar 10 menit. Setelah itu, kucing akan menjadi kebal sementara terhadap efek tanaman tersebut selama 30 hingga 30 menit.
Catnip dapat menyebabkan beberapa perilaku yang cukup tidak biasa dan menghibur, seperti mengendus atau mengunyah secara santai, menggosok kepala dengan kuat, ngiler, hingga berguling-guling. Lalu, apakah semua kucing terpengaruh oleh tanaman catnip? Jawabannya tidak, artinya hanya sekitar 70 hingga 80% kucing domestik yang bereaksi terhadap catnip. Respons tersebut diwarisi dari salah satu atau kedua induknya.