Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Fakta Kulit Katak yang Bisa Bernapas seperti Paru-Paru, Manusia?

ilustrasi katak
ilustrasi katak (pexels.com/nastia)
Intinya sih...
  • Kulit katak punya pembuluh darah yang sangat rapat
  • Kulit katak harus selalu lembap agar bisa bernapas
  • Katak bisa bernapas lewat kulit saat berada di dalam air
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Katak sering dianggap sebagai hewan kecil yang sederhana, hidup di dua alam, dan identik dengan suara berisik saat hujan turun. Namun di balik tubuh mungilnya, katak menyimpan kemampuan biologis yang luar biasa dan jarang disadari manusia. Salah satu keunikan paling mencengangkan ada pada kulitnya yang bukan sekadar pelindung tubuh. Kulit katak berperan besar dalam proses pernapasan, bahkan bisa menggantikan fungsi paru-paru dalam kondisi tertentu. Hal ini membuat katak menjadi salah satu amfibi dengan sistem pernapasan paling fleksibel di dunia hewan. Fakta ini pula yang menjelaskan mengapa katak sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.

Kemampuan bernapas lewat kulit ini dikenal sebagai respirasi kutaneus, sebuah mekanisme biologis yang tampak sederhana tapi sangat vital. Melalui kulitnya, katak bisa menyerap oksigen langsung dari air maupun udara lembap di sekitarnya. Proses ini memungkinkan katak bertahan di tempat yang minim oksigen tanpa harus selalu mengandalkan paru-paru. Bahkan dalam situasi ekstrem, kulit katak bisa menjadi alat pernapasan utama. Keunikan ini membuat katak sering dijadikan indikator kesehatan lingkungan oleh para peneliti. Jadi, memahami kulit katak berarti juga memahami keseimbangan alam yang rapuh.

1. Kulit katak punya pembuluh darah yang sangat rapat

ilustrasi katak
ilustrasi katak (pexels.com/Pixabay)

Kulit katak dipenuhi oleh jaringan pembuluh darah halus yang tersebar hampir di seluruh permukaannya. Pembuluh darah ini berada sangat dekat dengan lapisan luar kulit sehingga memudahkan pertukaran gas. Oksigen dari lingkungan bisa langsung masuk ke aliran darah tanpa perlu melewati paru-paru. Proses ini mirip dengan cara kerja alveolus pada paru-paru manusia. Semakin lembap kulit katak, semakin optimal proses pernapasan yang terjadi. Itulah sebabnya katak sangat bergantung pada lingkungan yang basah.

Kepadatan pembuluh darah ini juga membuat kulit katak terlihat tipis dan transparan di beberapa bagian tubuh. Kondisi tersebut memungkinkan difusi oksigen dan karbon dioksida berlangsung lebih cepat. Saat berada di air, kulit ini bekerja maksimal untuk menyerap oksigen terlarut. Bahkan dalam kondisi istirahat, katak tetap “bernapas” tanpa gerakan dada. Sistem ini sangat efisien untuk menghemat energi. Tanpa kulit yang aktif, katak akan kesulitan bertahan hidup.

2. Kulit katak harus selalu lembap agar bisa bernapas

ilustrasi katak
ilustrasi katak (pexels.com/Alejandro Orozco)

Tidak seperti kulit manusia, kulit katak tidak memiliki lapisan pelindung yang tebal. Kulitnya harus selalu lembap agar proses respirasi berjalan dengan baik. Kelembapan membantu oksigen larut sebelum masuk ke pembuluh darah. Jika kulit mengering, kemampuan bernapas katak akan menurun drastis. Inilah alasan mengapa katak jarang ditemukan di tempat yang sangat kering. Lingkungan lembap adalah kunci utama kelangsungan hidupnya.

Untuk menjaga kelembapan ini, kulit katak menghasilkan lendir alami. Lendir tersebut membantu mencegah penguapan air dari permukaan tubuh. Selain itu, lendir juga berfungsi sebagai pelindung dari bakteri dan jamur. Tanpa lendir, kulit katak akan cepat rusak dan tidak mampu menjalankan fungsinya. Kondisi ini bisa menyebabkan gangguan pernapasan serius. Jadi, lendir bukan sekadar pelapis, melainkan bagian penting dari sistem pernapasan katak.

3. Katak bisa bernapas lewat kulit saat berada di dalam air

ilustrasi katak
ilustrasi katak (pexels.com/Pixabay)

Saat menyelam atau berdiam diri di air, katak tidak sepenuhnya mengandalkan paru-parunya. Kulitnya akan mengambil alih sebagian besar fungsi pernapasan. Oksigen terlarut di air diserap langsung melalui kulit yang kaya pembuluh darah. Proses ini memungkinkan katak bertahan lebih lama tanpa naik ke permukaan. Beberapa spesies bahkan hampir sepenuhnya mengandalkan kulit saat berada di air. Kemampuan ini sangat berguna untuk menghindari predator.

Pada kondisi air yang dingin dan kaya oksigen, respirasi kulit menjadi semakin efisien. Detak jantung katak akan menyesuaikan untuk mengoptimalkan penyerapan oksigen. Aktivitas paru-paru pun bisa berkurang secara signifikan. Ini membuat katak mampu bertahan dalam keadaan minim gerakan. Strategi ini juga membantu menghemat energi. Tanpa kemampuan ini, katak akan lebih rentan di habitat perairan.

4. Dalam kondisi tertentu, kulit bisa menggantikan fungsi paru-paru

ilustrasi katak
ilustrasi katak (pexels.com/William Warby)

Menariknya, kulit katak bisa menjadi alat pernapasan utama dalam kondisi tertentu. Saat katak sedang berhibernasi, misalnya, paru-parunya hampir tidak digunakan. Selama periode ini, metabolisme katak melambat drastis. Oksigen yang dibutuhkan tubuh dipenuhi melalui respirasi kulit. Proses ini memungkinkan katak bertahan berbulan-bulan tanpa bernapas secara aktif. Sebuah adaptasi yang sangat efisien.

Beberapa spesies katak bahkan mampu bertahan di bawah lumpur atau air dingin saat musim dingin. Dalam kondisi ini, kulit benar-benar berperan seperti paru-paru. Penyerapan oksigen terjadi secara perlahan tapi konsisten. Meski terdengar ekstrem, sistem ini sudah berevolusi selama jutaan tahun. Tanpa kemampuan ini, katak sulit bertahan di lingkungan yang berubah-ubah. Kulit mereka benar-benar organ vital, bukan pelengkap.

5. Kulit katak sangat sensitif terhadap polusi

ilustrasi katak paedophryne amauensis
ilustrasi katak paedophryne amauensis (pexels.com/hartono subagio)

Karena berfungsi sebagai alat pernapasan, kulit katak sangat sensitif terhadap zat kimia berbahaya. Racun, pestisida, dan logam berat bisa dengan mudah masuk ke tubuh katak lewat kulit. Zat-zat ini tidak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga sistem saraf dan reproduksi. Inilah alasan mengapa populasi katak sering menurun di lingkungan tercemar. Mereka menjadi korban pertama dari kerusakan ekosistem. Kulit yang seharusnya menyelamatkan justru menjadi pintu masuk bahaya.

Sensitivitas ini membuat katak sering dijadikan bioindikator lingkungan. Jika populasi katak menurun drastis, biasanya ada masalah serius pada kualitas air atau tanah. Para ilmuwan menggunakan katak untuk memantau kesehatan alam. Sayangnya, banyak orang belum menyadari peran penting ini. Polusi kecil yang dianggap sepele bisa berdampak besar bagi katak. Pada akhirnya, ini juga menjadi peringatan bagi manusia.

6. Tidak semua katak bernapas lewat kulit dengan cara yang sama

Kulit Katak yang Bisa Bernapas seperti Paru-Paru
ilustrasi katak (pexels.com/Sonika Agarwal)

Meski sama-sama amfibi, tiap spesies katak memiliki tingkat respirasi kulit yang berbeda. Ada katak yang lebih mengandalkan paru-paru, ada pula yang dominan menggunakan kulit. Faktor habitat sangat memengaruhi perbedaan ini. Katak air biasanya memiliki kulit lebih tipis dan lebih vaskular. Sementara katak darat cenderung mengombinasikan paru-paru dan kulit. Adaptasi ini membantu mereka bertahan di lingkungan masing-masing.

Beberapa spesies bahkan hampir tidak memiliki paru-paru yang berfungsi optimal. Mereka sepenuhnya mengandalkan kulit dan jaringan mulut untuk bernapas. Kondisi ini menunjukkan betapa fleksibelnya sistem pernapasan katak. Evolusi membentuk mereka sesuai kebutuhan lingkungan. Tidak ada satu sistem yang paling unggul, semuanya saling melengkapi. Keragaman ini membuat katak sangat menarik untuk dipelajari.

7. Kerusakan kulit bisa berakibat fatal bagi katak

Kulit Katak yang Bisa Bernapas seperti Paru-Paru
ilustrasi katak kayu (pexels.com/Chanla Sisaath)

Karena kulit berperan langsung dalam pernapasan, kerusakan kecil saja bisa berdampak serius. Luka, infeksi jamur, atau kekeringan dapat mengganggu pertukaran gas. Katak yang kulitnya rusak akan kesulitan bernapas meski paru-parunya masih berfungsi. Kondisi ini sering berujung pada kematian jika tidak segera pulih. Penyakit kulit menjadi salah satu penyebab utama penurunan populasi katak global. Ancaman ini semakin diperparah oleh perubahan iklim.

Jamur chytrid, misalnya, menyerang kulit katak dan menghambat respirasi. Penyakit ini telah menyebabkan kepunahan massal di berbagai belahan dunia. Ketika kulit gagal menjalankan fungsinya, seluruh sistem tubuh ikut terganggu. Ini menunjukkan betapa krusialnya peran kulit bagi katak. Tanpa kulit yang sehat, katak tidak bisa bertahan. Kulit benar-benar menjadi garis hidup mereka.

Kulit katak bukan sekadar lapisan pelindung, melainkan organ pernapasan yang bekerja layaknya paru-paru tambahan. Melalui kulitnya, katak mampu beradaptasi dengan lingkungan air, darat, hingga kondisi ekstrem seperti hibernasi. Keunikan ini menunjukkan betapa cerdasnya alam dalam menciptakan sistem kehidupan. Namun di sisi lain, kemampuan ini juga membuat katak sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan. Polusi, perubahan iklim, dan penyakit kulit bisa berdampak fatal bagi mereka. Memahami fakta tentang kulit katak seharusnya membuat kita lebih peduli pada keseimbangan alam, karena kesehatan katak sering kali mencerminkan kesehatan lingkungan tempat kita hidup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

[QUIZ] Jika Kamu Tersesat di Planet Asing, Bisakah Kamu Balik ke Bumi? Cari Tahu Disini!

10 Jan 2026, 09:21 WIBScience