Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Keunikan Siluk Merah, Ikan Naga Purba yang Bikin Tergila-gila
potret siluk merah ikan naga (pexels.com/Jeffry Surianto)
  • Siluk merah adalah ikan purba berusia lebih dari 100 juta tahun yang masih bertahan hingga kini, menjadikannya simbol evolusi hidup sekaligus artefak biologis dari masa dinosaurus.
  • Warna merah menyala dan perilaku unik seperti kemampuan melompat tinggi serta peran jantan dalam mengasuh anak membuat siluk merah istimewa secara ilmiah dan estetika.
  • Dikenal sebagai simbol keberuntungan dan kekayaan, siluk merah dilindungi ketat oleh CITES, hanya boleh diperdagangkan dari penangkaran bersertifikat dengan harga sangat tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah membayangkan ada makhluk purba yang masih hidup hingga hari ini, berenang pelan di dalam akuarium kaca, tapi nilainya bisa setara mobil mewah? Itulah siluk merah. Varian paling memesona dari Asian arowana. Ia bukan sekadar ikan hias, melainkan simbol status, mitos yang hidup, dan artefak biologis dari masa ketika dinosaurus masih menguasai bumi.

Menariknya, di balik tampilannya yang elegan dan “mistis”, siluk merah menyimpan segudang fakta ilmiah yang jarang diketahui. Dari evolusi purba, perilaku unik, hingga nilai ekonominya yang fantastis. Semua menyatu dalam satu tubuh bersisik merah menyala. Berikut tujuh keunikannya yang bikin kamu paham kenapa ikan ini begitu dipuja!

1. Fosil hidup dari era dinosaurus

potret siluk merah ikan naga (pexels.com/Jeffry Surianto)

Siluk merah sering dijuluki “fosil hidup” karena garis evolusinya nyaris tak berubah selama lebih dari 100 juta tahun. Dalam kajian ichthyology, Scleropages formosus termasuk dalam kelompok Osteoglossiformes, yaitu ikan purba yang sudah ada sejak periode Kapur(Cretaceous).

Penelitian yang dirangkum dalam International Journal of Molecular Sciences juga menyebutkan bahwa struktur tulang dan sisik arowana menunjukkan karakteristik primitif yang bertahan lintas zaman. Ini menjadikannya salah satu spesies ikan air tawar tertua yang masih eksis hingga kini.

Dengan kata lain, ketika kamu melihat siluk merah berenang, kamu sebenarnya sedang menyaksikan potongan sejarah evolusi yang masih “bernapas”. Sebuah anomali biologis di tengah dunia modern.

2. Warna merahnya bukan sekadar pigmen

‎potret siluk merah ikan naga (pexels.com/hartono subagio)

Warna merah pada siluk merah bukan cuma soal estetika, tapi juga hasil interaksi kompleks antara genetika, nutrisi, dan lingkungan. Varian premium seperti “super red” bahkan mengalami peningkatan intensitas warna seiring pertumbuhan.

Menurut penelitian dari Badan Litbang KKP yang dirilis melalui Buletin Jalanidhitah Sarva Jivitam, warna merah pada arowana dipengaruhi oleh akumulasi karotenoid serta struktur reflektif pada sisiknya yang menghasilkan efek metalik. Itulah kenapa sisik siluk merah bisa terlihat menyala saat terkena cahaya.

Menariknya, para breeder profesional menggunakan teknik pencahayaan khusus dan pakan tertentu untuk mengeluarkan warna terbaiknya. Jadi, keindahan merah itu sebenarnya adalah perpaduan seni dan sains.

3. Pemburu permukaan dengan akurasi tinggi

potret siluk merah ikan naga (pexels.com/Jeffry Surianto)

Siluk merah adalah predator oportunistik yang sangat terampil berburu di permukaan air. Posisi matanya yang menghadap ke atas adalah adaptasi evolusioner untuk mendeteksi mangsa seperti serangga, katak kecil, atau bahkan burung kecil.

Dalam laporan Scientific Reports, arowana diketahui mampu melompat hingga beberapa puluh sentimeter di atas permukaan air untuk menangkap mangsa. Ini menjadikannya salah satu ikan air tawar dengan kemampuan lompat terbaik.

Perilaku ini juga menjelaskan kenapa akuarium arowana harus tertutup rapat. Karena sekali lengah, “ikan naga” ini bisa benar-benar terbang keluar!

4. Kumis sensorik yang super sensitif

potret siluk merah ikan naga (pexels.com/Jeffry Surianto)

Di bagian depan mulutnya terdapat dua struktur seperti kumis (barbel) yang berfungsi sebagai alat sensor. Barbel ini sangat sensitif terhadap getaran air dan membantu arowana mendeteksi mangsa dalam kondisi minim cahaya atau air keruh.

Menurut penelitian skripsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, organ sensorik seperti ini merupakan adaptasi penting bagi predator yang mengandalkan kecepatan dan presisi. Pada arowana, barbel juga berperan dalam orientasi ruang saat berburu.

Selain fungsi biologisnya, barbel ini juga memperkuat citra “naga” pada siluk merah. Seolah ia adalah makhluk mitologis yang tersesat di dunia nyata.

5. Ayah yang mengandung anak

potret siluk merah ikan naga (pexels.com/Jeffry Surianto)

Salah satu keunikan paling mencengangkan dari siluk merah adalah sistem reproduksinya. Arowana jantan melakukan mouthbrooding, yaitu mengerami telur dan anaknya di dalam mulut.

Penelitian dalam Journal of Fish Biology menunjukkan bahwa jantan bisa menyimpan telur selama 6—8 minggu tanpa makan, demi melindungi keturunannya dari predator. Ini adalah bentuk parental care yang sangat jarang di dunia ikan.

Fenomena ini membalik stereotip umum dalam dunia hewan, di mana betina biasanya lebih dominan dalam pengasuhan. Pada siluk merah, justru sang ayah yang berkorban total.

6. Simbol keberuntungan lintas budaya

potret siluk merah ikan naga (pexels.com/hartono subagio)

Di luar aspek biologis, siluk merah memiliki makna budaya yang sangat kuat. Dalam tradisi Tiongkok, ia dikenal sebagai dragon fish dan dianggap sebagai simbol kekayaan, kekuasaan, serta perlindungan dari energi negatif.

Beberapa peneliti kebudayaan metafisik dan pseudosains Tiongkok cukup banyak mengamati, terlebih bentuk tubuh dan warna merah ikan arowana ini yang cenderung diasosiasikan dengan naga. Makhluk mitologis pembawa hujan dan kemakmuran. Karena itu, ikan ini sering dipelihara oleh pebisnis sebagai “penarik rezeki”.

Kepercayaan ini membuat nilai siluk merah melampaui fungsi biologisnya. Ia menjadi simbol spiritual sekaligus investasi prestisius.

7. Ikan mahal yang dilindungi dunia

potret siluk merah ikan naga (pexels.com/Jeffry Surianto)

Di balik popularitasnya, siluk merah adalah spesies yang sangat dilindungi. Ia terdaftar dalam Daftar Spesies Tumbuhan dan Satwa Liar yang Sangat Terancam Punah (CITES Appendix 1). Hal ini berarti perdagangan internasionalnya dibatasi ketat.

Menurut data resmi Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Tumbuhan dan Satwa Liar yang Terancam Punah (CITES), hanya arowana hasil penangkaran bersertifikat yang boleh diperjualbelikan, dan setiap individu biasanya dilengkapi microchip untuk identifikasi.

Kelangkaan ini membuat harganya melambung tinggi, bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Ironisnya, semakin langka ia di alam, semakin tinggi pula nilai eksklusivitasnya di pasar.

Siluk merah adalah paradoks yang hidup. Ia purba tapi modern, liar tapi dipelihara, biologis tapi mistis. Ia bukan sekadar ikan, melainkan simbol dari bagaimana manusia memaknai alam—kadang sebagai ilmu, kadang sebagai kepercayaan, dan sering kali sebagai prestise.

Di balik kilaunya yang memikat, ada pesan penting yang tak boleh dilupakan. Keindahan seperti ini hanya bisa bertahan jika kita menjaganya. Karena jika tidak, “ikan naga” ini bisa saja kembali menjadi legenda. Bukan lagi karena mitos, tapi karena kepunahan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team