Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Meteor Dapat Menghantam Pesawat saat Berada di Udara?
potret pesawat Hercules C-130J di tengah malam (pixabay.com/Pixabay)
  • BRIN mengonfirmasi benda hijau berdentum yang melintas di utara Jawa sebagai meteor besar; dentuman berasal dari gelombang kejut saat meteor memasuki atmosfer bawah.
  • Meteoroid disebut meteor saat memasuki atmosfer dan biasanya habis terkikis pada ketinggian 50–95 km, sehingga peluang menghantam pesawat di 9–12 km sangat kecil.
  • Pesawat lebih mungkin bertabrakan dengan debu mikroskopis sisa meteor, tetapi debu vulkanik dan material dari Bumi lebih dikhawatirkan karena dapat mengganggu visibilitas, mesin, komunikasi, dan avionik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada Juli lalu, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan fenomena benda jatuh dari langit yang melintas dengan warna hijau terang dan disertai suara dentuman keras di sekitar wilayah utara Pulau Jawa. Peneliti ahli utama bidang astronomi dan astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, mengonfirmasi kalau benda tersebut adalah meteor berukuran besar yang masuk ke atmosfer Bumi dan melintasi langit Indonesia.

Dalam rilis resmi BRIN, Thomas Djamaluddin menyebut kalau meteor tersebut pertama kali terdeteksi melintas di atas Laut Jawa sebelum terdeteksi di wilayah lain, semisal Bekasi, Cirebon, hingga Kuningan. Terdengar suara dentuman yang semula dikira sebagai suara hantaman meteor, namun Thomas Djamaluddin mengklarifikasi kalau suara itu adalah gelombang kejut (sonic boom) yang muncul ketika meteor melintasi atmosfer bagian bawah.

Nah, berbicara soal meteor dan atmosfer bagian bawah, kamu pernah terpikirkan, gak, soal potensi sebuah meteor menghantam pesawat terbang di udara? Soalnya, kebanyakan meteor yang masuk ke atmosfer Bumi itu tidak benar-benar mencapai permukaan Bumi, melainkan terbakar habis di lapisan atmosfer. Namun, pada objek yang berada di langit, semisal pesawat, pasti ada pertanyaan sekaligus kekhawatiran soal potensi benda langit tersebut menabraknya.

Eits, jangan berpikir yang aneh-aneh dulu. Soalnya, potensi memang ada, tapi ada sederet fakta menarik lain terkait hubungan meteor dan pesawat yang sedang terbang di udara. Penasaran dengan ulasan lengkapnya? Langsung gulir layar ke bawah, ya!

1. Apa itu meteor?

potret indah hujan meteor di langit (pixabay.com/DumitruS)

Sebelum masuk pada pembahasan utama, ada satu hal yang perlu kita pahami soal benda langit yang satu ini. Soalnya, tak sedikit dari kita yang mungkin masih bingung soal terminologi meteor, meteorit, maupun meteoroid. Terkait ketiga benda angkasa itu, sebenarnya kita sedang membicarakan batuan angkasa yang sama. Hanya saja, nama batuan itu berubah seiring dengan fase yang sedang dialami batu tersebut.

National Aeronautics and Space Agency (NASA) menyebut kalau ketika masih jadi bongkahan batu raksasa di luar angkasa, maka penyebutannya adalah meteoroid. Ukuran dari sebuah meteoroid sangat beragam. Ada yang hanya sebesar debu sampai berdiameter beberapa kilometer (hampir sebesar asteroid). Meteoroid sendiri berasal dari pecahan batuan angkasa lain, semisal asteroid, komet, satelit alami (seperti Bulan), hingga planet.

Meteoroid yang menjelajahi ruang angkasa kadang punya jalur yang sama dengan gerakan planet, termasuk Bumi. Maka dari itu, batuan ini dapat masuk ke dalam atmosfer Bumi dalam kecepatan tinggi, punya suhu super panas, dan terus terkikis akibat gesekan dengan atmosfer, tepatnya lapisan termosfer di ketinggian 80—120 km di atas permukaan laut. Nah, pada fase inilah kita menyebut batuan tersebut sebagai meteor.

Terakhir, ketika sebuah meteoroid masuk ke dalam atmosfer Bumi dan kebetulan tidak tergerus sampai habis atau jadi sekecil debu saat menjadi meteor, maka benda langit ini akan menghantam permukaan Bumi. Nah, sisa-sisa batuan yang mencapai permukaan Bumi itulah yang kita sebut sebagai meteorit. Namun, biasanya ukuran meteorit yang kita temukan itu hanya sekitar 5 persen dari ukuran asal meteoroid di luar angkasa karena batuan itu sudah terkikis terlebih dahulu di lapisan atmosfer Bumi.

2. Apakah mungkin sebuah meteor menghantam pesawat di udara?

pesawat yang sedang terbang di langit berawan (pixabay.com/Leonhard_Niederwimmer)

Oke, kita sudah tahu terminologi benda angkasa yang kita bicarakan. Artinya, kemungkinan sebuah meteoroid menghantam pesawat terbang di udara bisa terjadi ketika sedang memasuki fase meteor. Sebab, rata-rata pesawat biasanya terbang pada ketinggian 30—40 ribu kaki atau sekitar 9—12 km di atas permukaan laut atau sekitar lapisan troposfer yang merupakan lapisan atmosfer paling bawah.

Seramnya, peneliti memperkirakan kalau setiap hari sebenarnya ada 48,5 ton material meteoroid yang jatuh ke Bumi. Namun, berkat lapisan super bernama atmosfer, sebagian besar batuan itu tak punya kesempatan untuk masuk lebih dalam menuju permukaan Bumi. Rata-rata meteor yang sudah memasuki termosfer sudah terkikis habis pada ketinggian 50—95 km di atas permukaan laut.

Dengan demikian, probabilitas sebuah meteor menghantam pesawat di udara sebenarnya terbilang sangat kecil, bahkan mendekati nol. David Morrison dari NASA Ames Research Center dalam wawancara dengan Scientific American menyebut kalau kemungkinan pesawat dihantam meteor itu tetap ada, tetapi sangat kecil. Ia memberikan perbandingan kalau total luas area pesawat diseluruh dunia dijejerkan, luasnya hanya sekitar 10 km persegi. Kalau dibandingkan dengan luas permukaan Bumi dan pergerakan pesawat saat mengudara, maka jelas kemungkinannya jadi sangat kecil.

Kalaupun di masa yang akan datang ada kasus meteor atau meteorit menghantam pesawat, menurut David Morrison hal tersebut lebih mungkin terjadi ketika pesawat sedang terparkir di daratan, bukan ketika sedang terbang di udara. Maka dari itu, kita sebenarnya tak perlu khawatir soal kemungkinan pesawat dihantam meteor berukuran cukup besar di udara.

3. Namun, sebenarnya pesawat tetap menabrak sisa-sisa meteor, lho!

Pesawat tua seperti di foto sudah sering menghadapi material debu dari berbagai sumber, termasuk sisa-sisa meteor, sepanjang masa pakainya. (pixabay.com/MonicaVolpin)

Kita bisa bernafas lega soal kemungkinan pesawat tertabrak meteor dalam ukuran besar ataupun seukuran kelereng saja. Namun, sebenarnya kalau kita bicara soal kemungkinan pesawat menabrak sisa-sisa meteor atau meteoroid yang sudah terkikis lapisan atmosfer, maka jawabannya jadi berbeda. Malahan, sebenarnya pesawat itu sangat mungkin menabrak sisa-sisa meteor tersebut di udara.

Sisa-sisa meteor yang dimaksud adalah debu. Ya, ketika meteoroid sudah terkikis habis di atmosfer, biasanya tetap ada sisa-sisa debu berukuran mikroskopis yang melayang di udara. Rata-rata debu sisa meteoroid itu hanya berukuran 50—300 mikrometer (0,05—0,3 milimeter), masih lebih kecil dari pasir pantai yang berukuran 0,1—1 milimeter. Selain itu, debu-debu yang “ditabrak” pesawat saat mengudara itu juga tak selalu berupa debu sisa meteor. Material debu vulkanik, debu dari gurun pasir, sampai debu akibat badai di permukaan Bumi justru lebih sering menghantam pesawat di udara.

Dalam jurnal, “Airborne Soil-Derived Dust Hazards in Aviation” karya Barbara Scherllin-Pirscher, dkk., disebutkan kalau debu-debu yang ditabrak pesawat ini mulai mendapat perhatian di dunia penerbangan karena ada sejumlah efek yang dapat ditimbulkan. Dalam jangka pendek, sebuah pesawat yang menghantam debu dalam jumlah besar akan menyebabkan visibilitas pilot jadi terbatas, menciptakan muatan elektrostatik yang menyebabkan noise di saluran komunikasi, hingga turbulensi.

Sementara itu, dalam jangka yang lebih panjang, hantaman debu secara berulang berpotensi mengikis permukaan badan pesawat, merusak kaca depan, mengganggu fungsi pencahayaan, sampai mengurangi kemampuan mesin dan avionik jika terus dibiarkan. Dibandingkan dengan debu dari sisa meteoroid, dunia penerbangan jelas lebih khawatir pada debu vulkanis. Sebab, jenis debu ini sudah terbukti merusak mesin pesawat karena ukuran dan suhunya serta menganggu fungsi komunikasi dan avionik dalam pesawat.

Pada akhirnya, kita bisa bernafas lega soal pemikiran hipotesis kemungkinan pesawat tertabrak meteor utuh di udara. Sepanjang sejarah penerbangan manusia, kasus tersebut juga belum pernah ditemukan ataupun dikonfirmasi. Malahan, pesawat terbang ternyata harus lebih waspada dengan material yang dilontarkan dari permukaan Bumi ke udara ketimbang material super kecil yang jatuh dari luar angkasa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article