Gunung api bukanlah struktur yang ukurannya selalu tetap setelah terbentuk. Aktivitas magma yang berlangsung dari waktu ke waktu dapat membuat tubuh gunung terus bertambah besar, baik melalui material yang menumpuk di permukaan maupun magma yang bergerak dan membeku di bagian dalam gunung.
Proses pertumbuhan tersebut bisa diamati pada Gunung Anak Krakatau. Gunung api ini muncul setelah letusan besar Krakatau pada 1883 dan terus mengalami pertumbuhan. Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menunjukkan tinggi Anak Krakatau dari permukaan laut pada 1992 mencapai 199 meter dan pada 2018 telah mencapai 338 meter. Artinya pertumbuhan gunung api tersebut ada sekitar 4,25 meter per tahun.
Secara umum, gunung api dapat tumbuh melalui dua mekanisme utama, yaitu intrusi dan ekstrusi. Keduanya sama-sama melibatkan magma, tetapi bekerja dengan cara berbeda karena intrusi berlangsung di dalam tubuh gunung, sedangkan ekstrusi menambahkan material baru pada bagian luarnya.
