Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Gempa yang Magnitudonya Sama Bisa Menimbulkan Kerusakan Berbeda

Kenapa Gempa yang Magnitudonya Sama Bisa Menimbulkan Kerusakan Berbeda
ilustrasi gempa bumi (pexels.com/Doruk Aksel Anil)
  • Magnitudo mengukur energi gempa di sumbernya, sedangkan intensitas menggambarkan kekuatan guncangan dan dampak di lokasi tertentu; karena itu, kerusakan dapat berbeda meski magnitudonya sama.
  • Gempa dangkal, lokasi dekat pusat gempa, tanah lunak, serta kawasan padat penduduk dapat memperkuat dampak guncangan dan meningkatkan risiko kerusakan maupun korban.
  • Kualitas bangunan, durasi guncangan, waktu kejadian, serta bahaya sekunder seperti tsunami, longsor, kebakaran, dan kegagalan bendungan turut menentukan tingkat kerusakan gempa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Dua gempa bumi dengan magnitudo yang sama belum tentu menimbulkan dampak yang serupa. Salah satunya bisa menyebabkan bangunan runtuh dan menelan banyak korban, sementara gempa lain dengan kekuatan yang sama hanya menimbulkan retakan ringan.

Perbedaan tersebut terjadi karena magnitudo hanya menggambarkan besarnya energi yang dilepaskan gempa di sumbernya. Dampak yang dirasakan manusia dipengaruhi oleh banyak faktor lain, mulai dari kedalaman gempa, jarak dari pusat gempa, kondisi tanah, hingga kualitas bangunan.

  1. 1. Magnitudo dan intensitas gempa itu berbeda

    Sebelum membahas penyebab perbedaan kerusakan, penting untuk memahami bahwa magnitudo dan intensitas merupakan dua hal yang berbeda. Magnitudo menunjukkan ukuran atau besarnya gempa berdasarkan energi yang dilepaskan dari sumber gempa di dalam bumi. Nilainya merupakan satu angka yang menggambarkan ukuran gempa secara keseluruhan.

    Sementara itu, intensitas menunjukkan seberapa kuat guncangan dirasakan dan seberapa besar dampaknya di lokasi tertentu. Intensitas dapat berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya meskipun gempa yang terjadi sama. Karena kerusakan lebih berkaitan dengan kekuatan guncangan yang dirasakan di suatu tempat, gempa dengan magnitudo sama dapat menghasilkan tingkat kerusakan yang berbeda.

  2. 2. Kedalaman gempa memengaruhi kuatnya guncangan

    Salah satu faktor penting adalah kedalaman sumber gempa. Gempa dangkal umumnya lebih berpotensi menimbulkan kerusakan dibandingkan gempa yang lebih dalam dengan magnitudo yang sama.

    Pada gempa dangkal, energi gempa tidak perlu melewati terlalu banyak lapisan batuan sebelum mencapai permukaan. Akibatnya, guncangan di sekitar wilayah sumber gempa dapat terasa lebih kuat.

    Sebagai gambaran, gempa bermagnitudo 6 yang sumbernya berada sekitar 10 kilometer di bawah permukaan dapat menghasilkan guncangan sangat kuat di wilayah di atasnya. Gempa dengan magnitudo yang sama tetapi terjadi pada kedalaman jauh lebih besar dapat dirasakan di area yang luas, tetapi belum tentu menyebabkan kerusakan sebesar gempa dangkal.

  3. 3. Jarak dari pusat gempa juga berpengaruh

    jose-antonio-gallego-vazquez-q5DNjRaAJo4-unsplash.jpg
    ilustrasi gempa bumi (unsplash.com/Jose Antonio Gallego Vázquez)

    Jarak suatu wilayah dari pusat gempa turut menentukan seberapa kuat guncangan yang dirasakan. Secara umum, semakin jauh suatu lokasi dari sumber gempa, energi gelombang seismik akan semakin menyebar sehingga guncangannya cenderung melemah.

    Namun, lokasi pusat gempa bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Kepadatan penduduk juga sangat menentukan dampaknya. Gempa yang terjadi tepat di bawah atau dekat kota padat penduduk tentu memiliki risiko kerusakan dan korban yang lebih besar dibandingkan gempa dengan kekuatan sama yang terjadi di wilayah terpencil, gurun, atau laut jauh dari permukiman.

  4. 4. Kondisi tanah bisa memperkuat guncangan

    Jenis tanah di suatu wilayah juga dapat memengaruhi seberapa kuat bangunan berguncang. Tanah lunak yang terdiri dari endapan lepas, seperti sedimen sungai, endapan danau, atau tanah hasil reklamasi, dapat memperkuat gerakan gelombang seismik. Karena itu, dua wilayah yang memiliki jarak hampir sama dari pusat gempa belum tentu mengalami guncangan dengan kekuatan yang sama.

    Kondisi tanah tertentu juga dapat meningkatkan risiko likuefaksi. Fenomena ini terjadi ketika tanah berpasir yang jenuh air kehilangan kekuatannya sementara akibat guncangan dan berperilaku lebih seperti cairan. Kondisi tersebut dapat membuat bangunan miring atau amblas serta merusak infrastruktur seperti pipa.

  5. 5. Kualitas bangunan menentukan besarnya kerusakan

    Bangunan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan apakah sebuah gempa berakhir dengan kerusakan ringan atau kehancuran besar. Bangunan yang dirancang dengan prinsip tahan gempa umumnya memiliki struktur yang mampu menahan dan mengikuti gerakan akibat guncangan. Penggunaan rangka yang fleksibel, sambungan yang kuat, serta teknologi tertentu seperti base isolation dapat membantu mengurangi risiko kerusakan struktural.

    Sebaliknya, bangunan tua atau bangunan yang dibangun tanpa memperhatikan standar konstruksi tahan gempa lebih rentan mengalami kerusakan. Itulah sebabnya penerapan dan pengawasan aturan bangunan tahan gempa sangat penting untuk mengurangi risiko. Dua kota yang mengalami gempa dengan magnitudo sama dapat memiliki jumlah bangunan rusak dan korban yang jauh berbeda jika kualitas konstruksinya tidak sama.

  6. 6. Lama guncangan juga memperparah tingkat kerusakan

    ilustrasi jalan retak (unsplash.com/Jens Aber)
    ilustrasi jalan retak akibat gempa (unsplash.com/Jens Aber)

    Bukan hanya seberapa kuat tanah bergerak yang perlu diperhatikan, tetapi juga berapa lama guncangan berlangsung. Guncangan yang berlangsung lebih lama dapat memberikan tekanan berulang pada struktur bangunan. Jika bangunan sudah mengalami kerusakan atau memiliki kelemahan struktural, tekanan yang terus-menerus dapat membuat kerusakan berkembang hingga akhirnya menyebabkan kegagalan struktur.

    Selain durasi, karakter pergerakan sesar juga dapat memengaruhi gelombang gempa yang dihasilkan. Cara sesar mengalami pergeseran dapat membuat energi gempa tersebar dengan karakter yang berbeda di setiap wilayah.

  7. 7. Waktu terjadinya gempa dan bahaya sekunder

    Waktu gempa terjadi juga dapat memengaruhi jumlah korban. Gempa pada malam hari, misalnya, dapat membuat lebih banyak orang berada di dalam rumah ketika bangunan mengalami kerusakan. Sementara itu, gempa pada siang hari dapat berdampak pada orang yang berada di sekolah, kantor, jalan, atau tempat umum.

    Selain guncangan langsung, gempa juga dapat memicu berbagai bahaya sekunder. Gempa di wilayah pesisir dapat memicu tsunami, sedangkan gempa di daerah perbukitan dapat menyebabkan longsor.

    Kebakaran akibat kerusakan jaringan gas atau listrik dan kegagalan bendungan juga dapat memperbesar dampak gempa. Dengan demikian, jumlah korban dan kerusakan tidak selalu dapat diperkirakan hanya dari angka magnitudo.

    Jadi, gempa dengan magnitudo yang sama bisa menimbulkan kerusakan berbeda karena energi yang dilepaskan di sumber gempa tidak langsung menentukan kondisi di permukaan. Karena kondisi setiap wilayah berbeda, gempa dengan magnitudo yang sama pun dapat meninggalkan tingkat kerusakan yang sangat berbeda.

    Referensi

    Al Jazeera. Diakses pada September 2026. Why do Shallow Earthquakes Cause More Destruction Than Deep Ones?
    Business Standard. Diakses pada September 2026. Why Earthquakes of Similar Magnitude Can Have Very Different Outcomes
    CNN. Diakses pada September 2026. When It Comes to Earthquakes, Size Matters but So does the Terrain
    Earthquake Radar. Diakses pada September 2026. Why Do Some Earthquakes Cause More Damage Than Others
    Science Atlas. Diakses pada September 2026. Why Some Earthquakes Tend To Be More Destructive
    USGS. Diakses pada September 2026. Earthquake Magnitude, Energy Release, and Shaking Intensity

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More