Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bagaimana Stratovolcano Meletus? Bisa Sangat Eksplosif!

4 min read
Bagaimana Stratovolcano Meletus? Bisa Sangat Eksplosif!
ilustrasi lukisan letusan Gunung Merapi (commons.wikimedia.org/Raden Saleh)
  • Stratovolcano adalah gunung berapi kerucut berlapis lava kental dan material piroklastik, banyak terbentuk di zona subduksi; contohnya Anak Krakatau, Merapi, Fuji, dan Rainier.
  • Letusannya dapat bergantian antara efusif dan eksplosif. Kandungan silika tinggi membuat lava lebih kental, menahan gas, menyumbat saluran, lalu meningkatkan tekanan magma.
  • Letusan eksplosif melontarkan tefra, abu, bom vulkanik, serta aliran dan embusan piroklastik. Lahar berupa lumpur vulkanik juga dapat dipicu letusan, hujan deras, atau pencairan salju.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Secara umum, jenis gunung berapi yang menimbulkan masalah besar bagi umat manusia adalah stratovolcano atau gunung berapi komposit. Gunung berapi kerucut ini tersusun atas lapisan lava kental dan material piroklastik yang mengeras secara bergantian. Nah, salah satu gunung stratovolcano adalah Anak Gunung Krakatau.

Seperti halnya jenis gunung berapi lainnya, stratovolcano terbentuk di sekitar lubang kepundan tempat batuan cair atau magma mencapai permukaan bumi sebagai lava. Jenis gunung berapi ini paling banyak ditemukan di sepanjang zona subduksi utama bumi, tempat satu lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lainnya, sehingga menghasilkan lelehan batuan yang memicu aktivitas vulkanik. Aktivitas vulkanik tersebut terkadang berupa pelepasan lava yang tidak terlalu dahsyat, namun sering kali dampaknya jauh lebih mematikan. Lalu, bagaimana gunung ini bisa meletus?

  1. 1. Apa itu stratovolcano?

    gunung berapi stratovolcano Mayon di Filipina
    gunung berapi stratovolcano Mayon di Filipina (commons.wikimedia.org/Xtian Mike)

    Dikutip Britannica, stratovolcano, yang juga disebut gunung berapi komposit atau gunung berapi kerucut, dicirikan oleh lapisan-lapisan materialnya yang berbeda—yang menjadikannya sebuah komposit. Pada dasarnya, lapisan aliran lava yang berselang-seling dengan abu dan reruntuhan batuan membentuk kerucut gunung tersebut. Reruntuhan berupa abu—yakni material piroklastik yang berasal dari lava dan batuan yang terlontar akibat letusan dahsyat, seharusnya akan terkikis oleh erosi, tapi aliran lava yang kemudian menutupinya memberikan lapisan pelindung.

    Perpaduan antara tumpukan material piroklastik yang curam dan aliran lava yang lebih landai menghasilkan bentuk kerucut lebar yang menjadi ciri khas stratovolcano, seperti Gunung Rainier, Gunung Anak Krakatau, Gunung Merapi, atau Gunung Fuji: bentuknya lebih curam dibandingkan gunung berapi perisai yang terbentuk dari lava. Namun, gunung jenis ini lebih landai dibandingkan kerucut skoria (cinder cone) yang terbentuk dari material piroklastik.

  2. 2. Stratovolcano punya letusan yang eksplosif dan tenang

    aktivitas erupsi gunung anak krakatau satu bulan sebelum runtuh dan menyebabkan tsunami
    aktivitas erupsi gunung anak krakatau satu bulan sebelum runtuh dan menyebabkan tsunami (commons.wikimedia.org/Adhari Arief)

    Stratovolcano biasanya mengalami pergantian antara letusan eksplosif dan letusan non-eksplosif, atau yang disebut letusan efusif. Letusan efusif yang relatif tenang tersebut menghasilkan aliran lava yang lebih encer, dengan kata lain, viskositasnya lebih rendah. Viskositas adalah tingkat hambatan cairan untuk mengalir.

    Selain suhu, faktor utama yang menentukan viskositas lava adalah kandungan silikanya. Jadi, semakin tinggi kandungan silikanya, maka semakin tinggi pula viskositasnya (artinya lava menjadi kurang encer). Letusan stratovolcano yang memiliki lava dengan viskositas yang tinggi biasanya bersifat eksplosif. Nah, letusan ini melontarkan batuan vulkanik (lava lama) dan lava baru secara dahsyat, sehingga menghasilkan material piroklastik yang terlontar ke udara, atau disebut tefra, serta luncuran fragmen material yang bergerak cepat menuruni lereng.

  3. 3. Lava yang dihasilkan stratovolcano

    ilustrasi struktur stratovolkano
    ilustrasi struktur stratovolkano (commons.wikimedia.org/SEWilco)

    Lava yang dihasilkan oleh stratovolcano biasanya bervariasi, mulai dari lava basaltik yang rendah kandungan silikanya hingga lava riolitik yang tinggi kandungan silikanya. Namun, jenis yang paling umum adalah yang berada di antara kedua ekstrem tersebut, yaitu lava andesitik. Lava andesitik—yang dinamai berdasarkan Pegunungan Andes, wilayah yang kaya akan stratovolcano—terbentuk dari lelehnya sebagian mantel bumi sebagaimana yang terjadi di zona subduksi. Magma basaltik yang dihasilkan kemudian naik menembus kerak benua yang kaya akan silika, sehingga menghasilkan lava andesitik yang memiliki komposisi menengah.

  4. 4. Bagaimana terjadinya letusan eksplosif stratovolcano?

    Semburan lava pijar (lava fountain) pada fase erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, pada September 2026.
    Semburan lava pijar (lava fountain) pada fase erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, pada September 2026. (commons.wikimedia.org/Pemprov Lampung)

    Magma jauh di bawah permukaan bumi berada pada tekanan yang cukup tinggi untuk menjaga gas-gas di dalamnya tetap dalam keadaan terlarut. Namun, ketika magma mendekati permukaan bumi, tekanan tersebut menurun sehingga gas-gas dapat terlepas dari larutan. Jika terdapat cukup gas terlarut atau terjadinya penurunan tekanan yang cepat, gas-gas tersebut—terutama uap air—dapat lepas secara hebat, menyembur keluar layaknya kaleng soda yang dibuka setelah dikocok.

    Adapun, lava yang lebih kental (kurang encer) menghambat pelepasan gas sekaligus dapat menyumbat lubang atau "leher" gunung berapi. Kedua hal ini meningkatkan tekanan dan memicu letusan yang lebih eksplosif. Yap, letusannya dapat melontarkan material dengan kecepatan melebihi 1.000 mil per jam (sekitar 1.600 km/jam), seperti yang dijelaskan National Geographic.

  5. 5. Material yang dihasilkan dari letusan stratovolcano bersifat eksplosif

    letusan spektakuler stratovolcano Gunung Etna
    letusan spektakuler stratovolcano Gunung Etna (commons.wikimedia.org/NASA)

    Material piroklastik yang terlontar ke udara, yang dikenal sebagai tefra, memiliki ukuran yang bervariasi, mulai dari partikel yang sangat kecil menyerupai debu (abu) hingga bom vulkanik sebesar rumah. Awan letusan dapat membubung hingga ketinggian 25 mil (sekitar 40 km) atau lebih ke atmosfer dan menjatuhkan abu (sebagai hujan abu) hingga jarak ratusan atau ribuan kilometer mengikuti arah angin.

    Longsoran buih lava, pecahan batuan, dan gas panas yang disebut aliran piroklastik dapat meluncur deras menuruni lereng gunung berapi, sering kali disertai oleh embusan piroklastik (pyroclastic surges) berupa gas dan abu. Salah satu fenomena paling merusak dari letusan stratovolcano adalah lahar, yaitu aliran lumpur vulkanik yang terdiri atas pecahan batuan dan air yang mengalir deras menuruni saluran drainase alami. Namun, lahar tidak hanya terjadi akibat letusan, curah hujan tinggi atau cairnya tumpukan salju maupun gletser di gunung berapi juga dapat memicu terbentuknya aliran lumpur ini.

    Adapun, sebagian besar gunung berapi di Indonesia adalah stratovolcano, salah satunya Anak Gunung Krakatau. Beberapa gunung berapi di Indonesia juga terkenal karena letusannya yang dahsyat. Semoga warga Indonesia selalu diberikan keselamatan dan segara dievakuasi jika gunung berapi stratovolcano-nya meletus.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More