Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Benarkah Kucing Tidak Mungkin Menularkan Virus Rabies?
ilustrasi seekor kucing yang berjalan di rerumputan (pexels.com/Ec lipse)
  • Rabies adalah penyakit virus mematikan yang menyerang sistem saraf dan menyebabkan peradangan otak akut, perubahan perilaku, hingga kelumpuhan tanpa peluang kesembuhan setelah gejala muncul.
  • Virus rabies menular melalui gigitan hewan terinfeksi karena virus terdapat di kelenjar ludah dan menyebar ke otak serta seluruh tubuh sebelum menjadi fase infeksius.
  • Semua mamalia, termasuk kucing, dapat tertular dan menularkan rabies jika tidak divaksinasi, sehingga vaksinasi rutin dan pemeliharaan indoor sangat penting untuk mencegah penyebaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang tentu telah mengetahui tentang penyakit rabies. Sering disebut dengan istilah "anjing gila", penyakit yang disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui gigitan ini sangat ditakuti karena bisa mengakibatkan kejadian yang fatal, yaitu kematian. Selain itu, rabies bersifat zoonosis, artinya bisa menular dari hewan ke manusia. Begitu hewan atau manusia yang sehat terinfeksi, maka hampir bisa dipastikan bahwa hari-hari terakhirnya tinggal menunggu waktu. Mengerikan sekali, bukan begitu?

Namun, terlepas dari maraknya edukasi terkait rabies yang telah disampaikan kepada masyarakat, ternyata masih banyak orang, terutama cat lovers, yang menyangkal bahwa kucing tidak akan terkena rabies. Mereka meyakini bahwa hanya anjing dan hewan liar yang akan menularkan virus tersebut. Nah, supaya tidak mengalami sesat informasi, artikel ini akan bantu memberikan jawaban yang bisa dipercaya. Simak hingga tuntas, ya!

1. Rabies adalah penyakit viral yang sifatnya sangat fatal

ilustrasi anjing yang sedang diperiksa oleh dokter hewan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Ada banyak sekali penyakit viral yang bisa menyerang hewan kesayangan, dalam hal ini anjing dan kucing. Salah satu yang paling diwaspadai adalah rabies. Virus ini berasal dari genus Lyssavirus dan famili Rhabdoviridae. Lantas, kenapa sih virus ini sangat ditakuti?

Tidak seperti penyakit viral lain yang masih memiliki harapan kesembuhan bila segera didiagnosis dan diberikan terapi yang tepat, rabies bisa dikatakan sebagai vonis mati. Dilansir MSD Manual Veterinary Manual, virus rabies menyebabkan keradangan otak akut yang akan menyebabkan perubahan perilaku hewan menjadi agresif dan berlanjut pada kelumpuhan otot-otot tubuh. Pada saat gejala klinis semacam itu sudah muncul, maka artinya kondisi hewan sudah sangat parah dan tidak bisa diobati. Tanpa perlu waktu panjang, hewan tidak dapat diselamatkan.

2. Rabies ditularkan melalui gigitan hewan yang terinfeksi

ilustrasi kucing bermain bersama anjing (unsplash.com/Andrew S)

Bukan tanpa alasan mengapa rabies juga dikenal sebagai penyakit "anjing gila". Pasalnya, anjing yang terserang virus rabies bisa mengalami perubahan perilaku menjadi sangat agresif, bahkan berani menyerang dan menggigit hewan atau manusia. Padahal, biasanya anjing tersebut memiliki perilaku yang tenang. Nah, ternyata, gigitan ini punya peran penting dalam proses penyebaran virus rabies, lho!

Cornell University College of Veterinary Medicine menjelaskan, virus rabies ini ada di dalam kelenjar ludah dari hewan yang terinfeksi. Ketika hewan tersebut menggigit hewan yang sehat, virus ada di jaringan otot sekitar area gigitan sebelum menuju otak melalui jaringan saraf. Begitu sampai di otak, virus lalu menyebar ke seluruh tubuh dan kelenjar ludah untuk memperbanyak diri. Ini merupakan tanda dimulainya fase infeksius, sehingga bila hewan itu menggigit hewan lain, virus bisa ditularkan.

3. Semua jenis mamalia bisa terinfeksi dan menularkan rabies

ilustrasi seekor kucing bercorak calico (pexels.com/Cong H)

Selama ini, kebanyakan orang meyakini bahwa rabies hanya bisa terjadi pada anjing, sehingga hewan inilah yang dianggap mampu menularkan penyakit tersebut kepada hewan lain dan manusia. Akibatnya, anjing banyak dijauhi, atau yang lebih parah sampai disiksa karena dianggap pasti membawa penyakit mematikan tersebut. Padahal, faktanya tidaklah sesederhana itu, lho!

Dilansir American Veterinary Medical Association (AVMA), ternyata seluruh mamalia dapat terinfeksi dan menularkan virus rabies. Mamalia yang merupakan hewan liar, hewan ternak, sampai hewan peliharaan, termasuk kucing yang sering dikira aman pun berisiko terpapar virus tersebut bila tidak divaksinasi, terlebih bila berada di area endemis. Harus semakin waspada, nih!

Berdasarkan penjelasan di atas, diperoleh sebuah kesimpulan yang jelas bahwa kucing juga bisa terinfeksi dan menyebarkan virus rabies. Oleh sebab itu, selalu pastikan status vaksinasi kucing kesayanganmu telah lengkap dan up to date, serta sebisa mungkin terapkan sistem pemeliharaan secara indoor. Jadilah pemilik kucing yang bertanggung jawab agar semuanya aman, oke?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article