Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara NASA Meneliti Gerhana Matahari Total Agustus 2026
Pesawat riset WB-57F milik NASA untuk pengamatan gerhana Matahari (NASA/Amir Caspi)
  • Gerhana Matahari total 12 Agustus 2026 melintasi Greenland hingga Spanyol; NASA memanfaatkannya untuk meneliti korona Matahari dan respons atmosfer Bumi saat cahaya tiba-tiba berkurang.
  • Pesawat WB-57 akan terbang di atas 15 kilometer, mengejar bayangan Bulan hingga hampir tiga menit, dengan empat kamera SAMI merekam korona minimal 20 gambar per detik.
  • NASA mendukung 80 balon di Islandia untuk memantau lapisan batas atmosfer dan enam balon di Spanyol untuk merekam bayangan Bulan serta mengukur perubahan ozon.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gerhana Matahari total tidak hanya menjadi fenomena langit yang menarik untuk disaksikan. Bagi para ilmuwan, peristiwa ini juga membuka kesempatan langka untuk mempelajari korona atau lapisan atmosfer terluar Matahari yang biasanya tertutup oleh cahaya terang dari permukaan Matahari.

Pada 12 Agustus 2026, gerhana Matahari total akan melintasi Greenland, Islandia, Rusia bagian utara, Samudra Atlantik, Spanyol, dan sebagian kecil Portugal. Durasi totalitas terlama diperkirakan mencapai sekitar 2 menit 18 detik.

Dilansir NASA Science, National Aeronautics and Space Administration atau NASA akan memanfaatkan gerhana tersebut untuk menjalankan serangkaian penelitian menggunakan pesawat riset WB-57 dan balon ilmiah. Para ilmuwan tidak hanya akan mengamati korona Matahari, tetapi juga perubahan atmosfer Bumi ketika cahaya Matahari berkurang secara tiba-tiba.

Lantas, bagaimana NASA meneliti gerhana Matahari total pada Agustus 2026? Berikut lima metode yang akan digunakan.

1. Menerbangkan pesawat WB-57 hingga ketinggian 50 ribu kaki

Pesawat riset WB-57 milik NASA terbang saat menjalankan misi penelitian atmosfer CRYSTAL-FACE. (airbornescience.nasa.gov)

NASA akan menerbangkan pesawat penelitian WB-57 hingga ketinggian sekitar 50 ribu kaki atau lebih dari 15 kilometer. Dari ketinggian tersebut, pesawat dapat berada di atas sebagian besar awan yang berpotensi menghalangi pengamatan gerhana dari permukaan Bumi.

Posisi pesawat di lapisan atmosfer yang tinggi juga memungkinkan kamera mengamati beberapa panjang gelombang inframerah. Sebagian radiasi inframerah biasanya diserap oleh atmosfer bagian bawah sehingga sulit diamati menggunakan instrumen yang berada di darat.

Kemampuan tersebut penting karena korona Matahari baru beberapa kali diamati melalui rentang panjang gelombang inframerah yang dimaksud. Data yang diperoleh diharapkan dapat membantu ilmuwan melihat struktur dan suhu korona secara lebih terperinci.

Penelitian dari udara juga mengurangi risiko pengamatan terganggu oleh cuaca. Meskipun wilayah yang dilalui gerhana mengalami mendung, instrumen di dalam WB-57 tetap berpeluang memperoleh pandangan yang relatif jelas terhadap Matahari.

2. Mengejar bayangan Bulan dengan kecepatan sekitar 740 kilometer per jam

Pilot NASA berada di dalam kokpit pesawat WB-57 yang digunakan untuk penelitian gerhana Matahari. (svs.gsfc.nasa.gov)

Pesawat WB-57 tidak hanya terbang tinggi, tetapi juga akan bergerak mengikuti jalur bayangan Bulan. Pesawat tersebut direncanakan melaju sekitar 460 mil per jam atau kurang lebih 740 kilometer per jam.

Dilansir NASA, durasi terlama untuk melihat korona dari permukaan Bumi pada gerhana ini hanya sekitar 2 menit 18 detik. Namun, dengan mengejar bayangan Bulan, pesawat WB-57 dapat memperpanjang waktu pengamatan korona hingga hampir 3 menit.

Tambahan waktu puluhan detik sangat berharga bagi penelitian Matahari. Korona merupakan wilayah yang dinamis. Material di dalamnya dapat bergerak, berubah, dan membentuk struktur baru dalam waktu singkat.

Semakin lama kamera dapat mengamati korona, semakin banyak pula gambar dan data yang bisa dikumpulkan. Para ilmuwan kemudian dapat membandingkan perubahan yang terjadi sejak awal hingga akhir fase totalitas.

3. Menggunakan empat kamera yang merekam sedikitnya 20 gambar per detik

Instrumen optik terpasang pada bagian hidung pesawat riset WB-57 milik NASA. (science.nasa.gov)

Bagian depan pesawat WB-57 akan membawa seperangkat instrumen bernama SCIFLI Multispectral Airborne Imager atau SAMI. Perangkat tersebut dilengkapi empat kamera untuk mengambil gambar korona beresolusi tinggi dalam beberapa panjang gelombang cahaya tampak dan inframerah.

Setiap kamera akan merekam sedikitnya 20 gambar per detik. Kecepatan tersebut memungkinkan para peneliti memantau struktur, aliran material, dan perubahan cepat yang berlangsung di dalam korona selama gerhana.

Data dari kamera SAMI diharapkan membantu menjawab sejumlah pertanyaan penting mengenai Matahari. Salah satunya adalah mengapa korona dapat mencapai suhu hampir satu juta derajat, jauh lebih panas dibandingkan permukaan Matahari.

Para ilmuwan juga akan mempelajari prominensa, yakni material Matahari yang membentuk lengkungan atau gumpalan di atas permukaannya. Selain itu, penelitian akan menelusuri hubungan antara material di korona dan angin Matahari yang bergerak melintasi tata surya.

Instrumen SAMI sebelumnya digunakan untuk mengamati gerhana Matahari total pada 8 April 2024. Pada penelitian 2026, waktu pencahayaan kamera akan disesuaikan agar bagian korona yang sangat terang tidak kembali mengalami paparan berlebihan seperti pada sebagian gambar tahun 2024.

4. Meluncurkan 80 balon untuk mengamati atmosfer Islandia

Tim mahasiswa University of Kentucky menyiapkan balon ilmiah untuk mengukur kondisi atmosfer saat gerhana Matahari total 2024. (science.nasa.gov)

Penelitian gerhana tidak hanya berfokus pada Matahari. NASA juga mendukung Nationwide Eclipse Ballooning Project yang melibatkan mahasiswa dari sejumlah universitas di Amerika Serikat.

Di Islandia, dua tim akan meluncurkan total 80 balon ilmiah. Peluncuran dimulai sekitar 18 jam sebelum gerhana dan berlanjut sampai 8 jam setelah gerhana berakhir.

Balon-balon tersebut akan mengukur perubahan pada lapisan batas atmosfer, yaitu bagian atmosfer paling bawah yang bersentuhan langsung dengan permukaan Bumi. Ketebalan lapisan ini dipengaruhi oleh suhu permukaan, kelembapan udara, angin, dan siklus siang-malam.

Ketika gerhana total berlangsung, cahaya Matahari menghilang untuk sementara dan suhu udara dapat turun. Kondisi tersebut menyerupai peralihan singkat dari siang menuju malam, sehingga lapisan batas atmosfer dapat menyusut atau mengalami penurunan ketebalan.

Eksperimen balon pada gerhana Oktober 2023 dan April 2024 menunjukkan bahwa lapisan batas atmosfer menyusut di wilayah yang memiliki langit cerah. Namun, perubahan serupa tidak terlihat secara jelas di lokasi yang tertutup awan.

Para ilmuwan ingin mengetahui apakah kondisi yang sama akan terjadi di Islandia. Negara tersebut memiliki durasi siang yang panjang pada Agustus, sehingga pengaruh pendinginan selama gerhana mungkin berbeda dibandingkan hasil penelitian sebelumnya.

5. Mengukur perubahan ozon menggunakan enam balon di Spanyol

Mahasiswa peserta program NASA menyiapkan balon cuaca yang membawa instrumen pengukur konsentrasi ozon di atmosfer. (science.nasa.gov)

Selain penelitian di Islandia, tiga tim akan meluncurkan enam balon ilmiah dari Spanyol. Balon-balon itu akan membawa kamera 360 derajat untuk merekam bayangan Bulan yang bergerak di permukaan Bumi.

Pemandangan dari ketinggian tersebut dapat memperlihatkan bagaimana wilayah gelap akibat bayangan Bulan bergerak melintasi atmosfer dan daratan. Kamera serupa pernah digunakan dalam penelitian gerhana Matahari total 2024.

Enam balon di Spanyol juga akan dilengkapi instrumen untuk mengukur konsentrasi ozon di atmosfer. Pembentukan ozon dipengaruhi oleh sinar Matahari. Oleh karena itu, berkurangnya cahaya secara tiba-tiba selama totalitas dapat menyebabkan perubahan kadar ozon.

Dilansir NASA Science, eksperimen pada gerhana April 2024 menemukan bahwa konsentrasi ozon mengalami penurunan selama fase totalitas. Para peneliti akan membandingkan hasil tersebut dengan data gerhana 2026.

Perbandingan diperlukan karena gerhana di Spanyol berlangsung pada waktu dan musim yang berbeda. Fase totalitas di beberapa wilayah Spanyol akan terjadi menjelang Matahari terbenam. Perbedaan intensitas cahaya, suhu, dan kondisi atmosfer dapat menghasilkan pola perubahan ozon yang berbeda pula.

Gerhana Matahari total Agustus 2026 akan menjadi laboratorium alam bagi penelitian Matahari dan atmosfer Bumi. Melalui pesawat WB-57, kamera berkecepatan tinggi, serta 86 balon ilmiah di Islandia dan Spanyol, NASA berharap dapat memperoleh data yang sulit dikumpulkan dalam kondisi normal.

Hasil penelitian tersebut dapat memperluas pemahaman mengenai korona, angin Matahari, lapisan batas atmosfer, dan perubahan ozon ketika sinar Matahari terhalang. NASA juga akan menyiarkan gerhana secara langsung dari Islandia dan Spanyol pada 12 Agustus 2026.

Sumber :

NASA Science. “NASA Science Soars During August Total Solar Eclipse.” - https://science.nasa.gov/science-research/heliophysics/nasa-science-soars-during-august-total-solar-eclipse/

NASA Science. “Total Solar Eclipse on August 12, 2026.” - https://science.nasa.gov/eclipses/future-eclipses/total-solar-eclipse-on-august-12-2026/

NASA Science. “Future Eclipses.” - https://science.nasa.gov/eclipses/future-eclipses/

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article