Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Dampak El Niño, Bisa Mempengaruhi Kehidupan Sehari-hari Manusia
Ilustrasi kekeringan (unsplash.com/Oleksandr Sushko)
  • El Niño terjadi saat suhu laut Pasifik menghangat dan angin pasat melemah, memicu perubahan pola cuaca global yang berdampak pada hujan, suhu, dan kehidupan sehari-hari manusia.
  • Fenomena ini menurunkan curah hujan di Indonesia, meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran lahan, serta memperburuk kualitas udara yang dapat memengaruhi kesehatan masyarakat.
  • Dampaknya meluas ke sektor pertanian dan perikanan dengan hasil panen tidak stabil serta terganggunya rantai makanan laut, sehingga berpengaruh pada ketahanan pangan dan ekonomi pesisir.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

El Niño adalah salah satu fenomena iklim paling dikenal di Samudra Pasifik. Menurut NOAA, peristiwa ini terjadi ketika suhu permukaan laut di wilayah Pasifik menghangat tidak biasa, sementara angin pasat melemah. Meski berawal dari laut, pengaruhnya bisa menjalar jauh ke atmosfer dan mengubah pola cuaca di banyak tempat.

Yang membuat El Niño menarik adalah dampaknya tidak berhenti di dunia meteorologi. NASA dan NOAA sama-sama menegaskan bahwa perubahan ini dapat memengaruhi hujan, suhu, kesehatan, hingga kehidupan laut. Artinya, satu fenomena iklim bisa ikut menentukan urusan sehari-hari seperti ketersediaan air, hasil panen, kualitas udara, dan pasokan pangan.

1. Curah hujan bisa bergeser jauh dari pola biasanya

ilustrasi meningkatnya suhu (unsplash.com/Jorge Vasconez)

Saat El Niño terjadi, pusat pembentukan awan dan hujan ikut bergeser karena air hangat di Pasifik timur menarik perubahan sirkulasi atmosfer. NOAA menjelaskan bahwa angin pasat melemah dan air hangat terdorong ke arah timur, sehingga pola hujan di berbagai wilayah ikut berubah. Hasilnya, ada daerah yang jadi lebih basah, tetapi ada juga yang lebih kering dari normal.

Di Indonesia, BMKG mencatat bahwa El Niño umumnya menurunkan curah hujan pada periode Juni–Juli–Agustus dan September–Oktober–November, bahkan dapat melebihi 40 persen di sejumlah wilayah. BMKG juga menegaskan bahwa penurunan hujan tidak berarti tidak ada hujan sama sekali, karena pengaruhnya tetap berbeda-beda antardaerah dan antarmusim.

2. Risiko kekeringan dan kebakaran lahan meningkat

Ilustrasi kebakaran lahan (unsplash.com/Matt Palmer)

Penurunan curah hujan membuat tanah lebih cepat kering, cadangan air menyusut, dan vegetasi lebih mudah terbakar. BMKG menyebut bahwa saat El Niño, bencana yang paling mungkin terjadi adalah kekeringan serta kebakaran lahan dan hutan. Dalam konteks Indonesia, ini bukan hanya isu cuaca, tetapi juga persoalan yang bisa mengganggu aktivitas rumah tangga, pertanian, dan penyediaan air bersih.

WHO menambahkan bahwa kondisi panas dan kering yang ekstrem dapat memicu kebakaran hutan, meningkatkan asap, dan memperburuk kualitas udara. Saat udara dipenuhi partikel asap, dampaknya bisa langsung terasa pada kehidupan harian, mulai dari rasa tidak nyaman saat beraktivitas di luar ruangan hingga meningkatnya keluhan pernapasan pada kelompok rentan.

3. Suhu panas dan gangguan kesehatan lebih mudah muncul

Ilustrasi kekeringan (unsplash.com/Elimende Inagella)

El Niño tidak hanya memengaruhi hujan, tetapi juga dapat memperbesar peluang terjadinya gelombang panas. WHO menyebutkan bahwa kondisi yang sangat panas dan kering dapat memicu heat waves, kebakaran, asap, serta penurunan kualitas udara yang berujung pada gangguan pernapasan dan stres panas. Dalam kehidupan sehari-hari, ini bisa terasa sebagai tubuh lebih cepat lelah, tidur kurang nyaman, dan aktivitas luar ruang menjadi lebih berat.

Dampak kesehatannya tidak selalu datang secara langsung. WHO juga menjelaskan bahwa panas ekstrem dan kekeringan dapat memperburuk kerentanan terhadap penyakit, terutama bila disertai krisis air atau sanitasi yang terganggu. Karena itu, El Niño sering dipandang bukan sekadar fenomena cuaca, melainkan pemicu rangkaian masalah kesehatan yang saling berkaitan.

4. Hasil panen dan ketahanan pangan bisa ikut terganggu

Ilustrasi kekeringan (pexels.com/Khushali)

NASA Earth Observatory menulis bahwa gangguan pola hujan akibat El Niño dapat memengaruhi hasil panen. Dalam pemetaan dampak El Niño 2023, para ilmuwan yang dikutip NASA memperkirakan sekitar 110 juta orang membutuhkan bantuan pangan karena kombinasi hujan berlebih di sebagian wilayah dan kekurangan hujan di wilayah lain. Pada El Niño 2015–2016, kondisi serupa juga dilaporkan berdampak luas pada kebutuhan bantuan pangan di berbagai kawasan.

Bagi kehidupan sehari-hari, efeknya bisa merambat ke harga pangan, jadwal tanam, dan hasil panen yang tidak stabil. NASA juga menekankan bahwa perubahan pola hujan memengaruhi keputusan petani dan pengelola sumber daya, sehingga El Niño dapat terasa bukan hanya di sawah dan kebun, tetapi juga di pasar dan dapur rumah tangga.

5. Kehidupan laut dan perikanan ikut berubah

Ilustrasi gerombolan ikan (unsplash.com/Johnny Africa)

Menurut NOAA, saat El Niño berlangsung, upwelling atau naiknya air dingin dari dasar laut dapat melemah bahkan berhenti. Air yang biasanya kaya nutrien jadi berkurang di permukaan, sehingga fitoplankton menurun. Rantai ini penting karena fitoplankton menjadi dasar makanan bagi banyak organisme laut, lalu berdampak ke ikan dan hewan lain yang bergantung padanya.

NOAA juga mencatat bahwa perubahan ini bisa menggeser distribusi ikan, bahkan membawa spesies tropis ke wilayah yang biasanya terlalu dingin bagi mereka. Bagi manusia, dampaknya terasa pada sektor perikanan, ketersediaan hasil laut, dan mata pencaharian masyarakat pesisir. Dengan kata lain, perubahan kecil di laut bisa ikut memengaruhi isi meja makan.

El Niño memperlihatkan bahwa perubahan di Samudra Pasifik bisa menjalar ke banyak sisi kehidupan manusia, dari hujan, panas, kesehatan, pangan, hingga laut. Karena dampaknya bisa diprediksi lebih awal, WMO menekankan pentingnya prakiraan musiman untuk peringatan dini dan langkah antisipasi, sehingga masyarakat dan sektor terkait dapat bersiap sebelum gangguan terjadi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team