7 Fakta Menarik Guanako, Punya Sistem Pertahanan Diri Khusus

Mungkin ini bisa disebut sebagai unta Timur Tengah versi kecil. Sebut saja demikian, karena antara unta Timur Tengah dan guanako (unta Barat) memiliki banyak kesamaan. Guanako sendiri merupakan unta asli Amerika Selatan dengan nama ilmiah Lama guanicoe. Bahkan, Charles Darwin menggambarkan guanako sebagai hewan anggun, dengan leher panjang dan ramping, serta kaki yang halus.
Hewan ini adalah anggota keluarga unta liar terbesar di Amerika Selatan, dan guanako sendiri dianggap sebagai nenek moyang llama domestik. Saat ini, jumlah populasi guanako hanya kurang dari 600.000, dan 90 persennya hidup di Argentina. Lebih lanjut, berikut ini beberapa fakta uniknya.
1. Lokasi dan habitat guanako

Dilansir Animalia, guanako berasal dari pegunungan Andes di Amerika Selatan. Mereka dapat hidup di ketinggian permukaan laut hingga lebih dari 4.500 meter. Tempat beraktivitasnya dapat dijumpai di daerah pegunungan tinggi di Peru, Bolivia, dan Chili serta padang rumput Patagonian dan Tierra del Fuego di Argentina dan Chili.
Sejumlah kecil populasinya juga dapat ditemukan di Kepulauan Falkland. Padang rumput gurun, sabana, semak belukar, dan hutan dengan semi-kering dan gersang adalah habitat yang disukai guanako. Sebagian populasinya tidak banyak melakukan penjelajahan, sedangkan yang lain bermigrasi secara musiman. Kadang-kadang, mereka berpindah ke tempat yang lebih rendah untuk menghindari kekeringan atau tutupan salju.
2. Guanako memiliki sistem pencernaan khusus

Sebagai hewan pemakan rumput, bukan berarti guanako tidak bisa memakan makanan lain. Sebaliknya, mereka dapat mengunyah makanan yang cukup keras. Meski demikian, guanako memiliki sistem pencernaan khusus untuk menangani makanan bertekstur keras. Perutnya terdapat tiga ruang, seperti halnya sapi yang sama-sama sebagai hewan ruminansia. Artinya, hal ini dimungkinkan dengan asupan nutrisi sebanyak-banyaknya yang mereka peroleh dari tanaman yang mereka makan.
Selain itu, sama halnya seperti unta, guanako juga tidak membutuhkan air untuk minum, termasuk di siang hari. Ini karena mereka telah mendapatkan kelembapan yang dibutuhkan dari makanan yang mereka makan.
3. Cara guanako berkomunikasi dan mempertahankan diri

Dilansir San Diego Zoo, cara guanako berkomunikasi dimulai dengan memposisikan tubuh, telinga, dan ekor. Jika telinganya terangkat, artinya guanako sedang rileks; posisi telinga ke depan menandakan khawatir; dan jika telinga mendatar artinya menunjukkan agresi. Lalu, ekor yang mengarah ke bawah artinya masih normal, tapi jika lurus ke luar maka mereka sedang waspada; sedangkan jika ekornya lurus ke atas itu menandakan sinyal agresif.
Di sisi lain, guanako melakukan komunikasi melalui vokalisasi. Suara yang dikeluarkannya bernada tinggi, dengusan, hingga jeritan. Saat terancam, guanako memperingatkan kawanannya akan bahaya yang mengancam dengan cara yang terdengar seperti tertawa pendek.
Komunikasi lainnya yang dilakukan guanako yaitu dengan cara melepaskan ludahnya hingga jarak 1,8 meter dan bidikannya sangat akurat. Isi ludahnya terdiri dari makanan yang sudah diproses dalam sistem pencernaannya. Terkadang, mereka juga menggunakan kotorannya sebagai pembatas wilayah mereka.
4. Struktur sosial guanako

Guanako hidup dalam kelompok keluarga yang terdiri dari satu pejantan dewasa dan anak-anaknya yang masih berusia kurang dari setahun. Setelah mencapai usia remaja, guanako jantan akan diusir dari kawanannya oleh jantan dominan, tepatnya saat mereka mencapai kematangan seksual. Sehingga pejantan muda yang telah diusir akan membentuk kelompok baru yang terdiri dari guanako muda.
Pejantan muda yang telah membentuk kelompok akan berkumpul untuk melatih keterampilan berkelahi. Beberapa pejantan lain ada yang sudah dewasa, dan biasanya sudah siap mencari betina sehingga mereka dapat memulai keluarganya sendiri.
5. Keunikan bayi guanako yang baru lahir

Bayi guanako yang baru lahir dapat berdiri setelah lima menit dilahirkan dan segera mengikuti induknya. Mereka disapih pada umur 6 sampai 8 bulan dan mungkin terpaksa meninggalkan kelompoknya pada umur 11 sampai 15 bulan, ulas Cascada expediciones.
Akan tetapi, sulit bagi bayi guanako untuk bertahan hidup hingga dewasa. Mereka biasanya mudah mati karena faktor kekurangan makanan, cuaca buruk, atau dimangsa predator. Karena itu, bayi guanako yang dapat bertahan hidup hingga dewasa hanya sekitar 30 persen saja.
6. Guanako mudah beradaptasi dengan lingkungannya

Guanako telah mengembangkan beberapa adaptasi cerdas agar hidup mereka sedikit lebih mudah. Leher mereka memiliki kulit lebih tebal yang difungsikan agar predator tidak mudah menggigitnya begitu saja. Sedangkan bibirnya yang lembut dan sensitif memudahkan mereka mengidentifikasi makanan lezat.
Sama seperti cara unta hidup, guanako dapat menyimpan dan mempertahankan kelembapan tubuhnya dari tanaman yang dimakan. Ini memungkinkan mereka untuk bertahan hidup di iklim yang keras dan kering.
7. Guanako memiliki sel darah merah lebih banyak dan jantung lebih besar dibanding manusia

Ternyata, sistem biologis yang dimiliki guanako terkesan cukup menakjubkan. Agar dapat bertahan hidup pada kondisi oksigen rendah, sel darah merah yang terdapat dalam darah guanako jumlahnya empat kali lebih banyak dibandingkan jumlah sel darah merah manusia.
Dengan kata lain, satu sendok teh mengandung 68 juta sel darah merah. Selain itu, guanako juga memiliki jantung yang besar, ukurannya 15 persen lebih besar daripada mamalia lain yang berukuran sama.
Terlepas dari itu semua, satu hal yang membuat guanako digemari orang-orang adalah karena sikapnya yang tenang dan bersahabat. Hal ini juga yang membuat sebagian orang mulai menjinakkannya untuk dijadikan hewan pengangkut.



















