Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
3 Fakta Rem Kereta Api yang Tak Banyak Orang Tahu
ilustrasi kereta (unsplash.com/Will Legg)

Rem menjadi salah satu komponen penting dalam sistem keselamatan kereta api. Banyak orang mengira cara kerjanya mirip dengan kendaraan di jalan raya. Padahal, sistem pengereman kereta memiliki karakteristik yang berbeda dan tidak sesederhana yang dibayangkan.

Hal ini kembali menjadi perhatian setelah kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi. Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan tentang bagaimana sebenarnya kereta berhenti dengan rem. Tidak sedikit pula yang bertanya mengapa tabrakan masih bisa terjadi. Untuk memahaminya, yuk, simak fakta-fakta tentang rem kereta berikut ini!

1. Kereta tidak bisa berhenti mendadak

ilustrasi kereta (pexels.com/Xavier Messina)

Kereta api tidak bisa berhenti secara mendadak seperti motor atau mobil di jalan raya. Hal ini karena kereta memiliki massa yang sangat besar dan melaju dengan kecepatan tinggi. Dilansir Railway Part, kondisi tersebut membuat kereta membutuhkan jarak yang panjang untuk berhenti.

Bahkan, dalam kondisi tertentu, jarak pengereman bisa mencapai ratusan meter hingga lebih dari 1 kilometer. Proses ini terjadi karena energi gerak kereta harus dikurangi secara bertahap. Selain itu, sistem pengereman kereta tidak bekerja secara instan pada seluruh rangkaian. Butuh waktu yang lumayan lama agar efek pengereman merata dari depan hingga ke gerbong belakang. Oleh sebab itu, meski rem sudah diaktifkan, kereta tetap akan melaju sebelum benar-benar berhenti.

2. Rem kereta bergantung pada gesekan yang relatif kecil

ilustrasi kereta (pexels.com/Martijn Stoof)

Salah satu hal yang jarang disadari ialah rem kereta bergantung pada gesekan antara roda dan rel. Berbeda dengan mobil yang menggunakan ban karet, kereta menggunakan roda baja yang bersentuhan dengan rel baja. Mengutip dari Railway News, kombinasi baja dengan baja menghasilkan koefisien gesekan yang relatif rendah.

Selain itu, area kontak antara roda dan rel juga sangat kecil sehingga daya cengkeramnya terbatas. Kondisi ini membuat kereta lebih mudah melaju, tetapi lebih sulit untuk berhenti cepat. Akibatnya, jarak pengereman kereta menjadi lebih panjang dibandingkan kendaraan di jalan raya. Untuk mengatasinya, kereta menggunakan sistem tambahan, seperti pasir, guna meningkatkan gesekan saat diperlukan.

3. Sistem rem kereta tidak hanya dikendalikan masinis

ilustrasi kereta (unsplash.com/You Le)

Banyak orang mengira rem kereta sepenuhnya dikendalikan oleh masinis. Padahal, dalam praktiknya, ada sistem lain yang ikut membantu menjaga keselamatan. Dilansir Office of Rail and Road (ORR), kereta dilengkapi sistem perlindungan yang dapat memantau kecepatan dan pergerakan secara terus-menerus.

Sistem ini akan memastikan kereta tetap berada dalam batas aman selama perjalanan. Jika terjadi kondisi berbahaya, seperti melaju terlalu cepat atau melewati sinyal, sistem akan segera merespons. Dalam situasi tertentu, sistem bahkan dapat mengaktifkan rem secara otomatis tanpa campur tangan masinis. Hal ini dilakukan untuk mencegah risiko kecelakaan, baik antar kereta maupun kereta dengan kendaraan lain atau manusia. Dengan begitu, pengereman kereta tidak hanya bergantung pada masinis, tetapi juga didukung oleh teknologi untuk meningkatkan keselamatan.

Sistem pengereman kereta api dirancang untuk bekerja secara bertahap guna menjaga keselamatan penumpang selama perjalanan. Selama ini banyak orang berpikir bahwa seluruh proses pengereman sepenuhnya dikendalikan oleh masinis. Padahal, ada sistem yang turut mengendalikannya. Setelah mengetahui fakta ini, apakah kamu masih melihat rem kereta sebagai sistem yang sederhana?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎