5 Fakta Rumah Anne Frank, Museum dan Rumah Bersejarah di Amsterdam

Sejarah Perang Dunia II tidak akan pernah lepas dari sebuah bangunan tua yang berdiri di tepi kanal Prinsengracht, Amsterdam. Bangunan yang kini dikenal sebagai Rumah Anne Frank merupakan rumah penulis sekaligus museum biografi yang didedikasikan untuk mengenang sosok Anne Frank.Terletak tidak jauh dari gereja Westerkerk di pusat kota Amsterdam, bangunan ini tetap tegak berdiri sebagai pengingat akan perjuangan manusia di masa perang.
Lantas, apa saja jejak sejarah dan fakta menarik yang masih tersimpan di dalam rumah ini hingga sekarang? Keep scrolling!
1. Siapa Anne Frank?

Anne Frank adalah seorang gadis Yahudi kelahiran Jerman yang dikenal sebagai penulis buku harian sekaligus korban dari peristiwa Holocaust. Ia merupakan putri dari pasangan Otto dan Edith Frank, serta memiliki seorang kakak perempuan bernama Margot. Pada tahun 1933, saat Nazi mulai berkuasa di Jerman, keluarga ini memutuskan untuk pindah dan menetap di Amsterdam, Belanda.
Namun, pada Mei 1940, keluarga Frank terjebak setelah tentara Jerman menduduki Belanda, dan setahun kemudian Anne kehilangan status kewarganegaraan Jermannya. Karena tekanan dan penganiayaan terhadap warga Yahudi terus meningkat, situasi menjadi semakin berbahaya bagi mereka. Akhirnya, pada bulan Juli 1942, keluarga tersebut memutuskan untuk mulai bersembunyi demi menyelamatkan diri.
2. Bersembunyi di belakang gedung kantor milik ayah anne

Pada Desember 1940, ayah Anne Frank, Otto Frank memindahkan kantor perusahaan rempah-rempahnya ke sebuah gedung di tepi kanal Prinsengracht 263. Lantai dasar bangunan ini berfungsi sebagai gudang penyimpanan, tempat pengiriman barang, dan area penggilingan rempah-rempah. Di lantai atas, terdapat ruang kerja bagi para karyawan yang nantinya membantu keluarga Frank selama masa sulit. Kantor ini juga sempat menyimpan sebuah radio besar yang digunakan penghuni persembunyian untuk mendengar berita sebelum akhirnya disita Nazi.
Persembunyian tersebut terletak di bagian belakang gedung yang dikenal dengan sebutan Achterhuis atau Paviliun Rahasia. Karena posisinya terkepung bangunan lain di tengah halaman, tempat ini tidak terlihat dari jalan raya sehingga sangat aman untuk bersembunyi. Keluarga Frank bersama empat orang lainnya tinggal di ruangan sempit seluas 42 meter persegi ini selama lebih dari dua tahun.
3. Pintu masuk ke tempat persembunyian disembunyikan di balik rak buku yang bisa digeser

Untuk mengecoh pasukan Nazi, pintu masuk ke tempat persembunyian keluarga Frank dirancang sangat rahasia. Jalur menuju bangunan belakang tersebut disembunyikan di balik sebuah rak buku kayu yang bisa digeser agar terlihat seperti dinding biasa. Rak buku unik ini dibuat khusus pada tahun 1942 oleh Johannes Voskuijl, salah satu orang terpercaya yang membantu menyembunyikan mereka.
Sayangnya, meski persembunyian tersebut direncanakan dengan sangat rapi, mereka akhirnya tetap ditemukan dan ditangkap. Seluruh penghuni persembunyian kemudian dikirim ke kamp-kamp konsentrasi yang sangat kejam. Dari delapan orang yang bersembunyi di sana, hanya Otto Frank yang berhasil bertahan hidup hingga perang berakhir.
4. Seluruh ruangan di dalam paviliun tetap dikosongkan tanpa furnitur

Setelah keluarga Frank dan teman-temannya ditangkap, seluruh isi tempat persembunyian mereka langsung dikosongkan oleh petugas. Barang-barang pribadi seperti pakaian dan perabotan disita, lalu dibagikan kepada keluarga-keluarga di Jerman yang kehilangan rumah akibat pengeboman. Namun, sebelum semuanya habis, dua orang penolong mereka, Miep Gies dan Bep Voskuijl, berani masuk kembali untuk menyelamatkan beberapa barang pribadi agar tidak hilang selamanya.
Ketika Otto Frank kembali dari kamp konsentrasi pada tahun 1945, ia mendapati bangunan tersebut dalam keadaan kosong dan terbengkalai. Saat bangunan tersebut akhirnya dibuka sebagai museum pada tahun 1960, Otto meminta agar ruangan-ruangan di dalamnya tetap dibiarkan kosong tanpa furnitur. Hal ini dilakukan sebagai simbol untuk mengenang jutaan nyawa yang hilang selama peristiwa tersebut.
5. Buku hariannya mendunia

Tepat sebelum mulai bersembunyi, Anne Frank menerima sebuah buku harian sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-13. Selama dua tahun dalam persembunyian, ia tidak hanya mencatat kejadian sehari-hari, tetapi juga menuangkan perasaan, menulis cerita pendek, hingga menyalin kalimat-kalimat indah dari buku yang dibacanya. Menulis menjadi cara utama bagi Anne untuk mengisi waktu, bahkan ia sempat terinspirasi untuk menyusun ulang catatan pribadinya menjadi satu cerita utuh setelah mendengar imbauan pemerintah untuk mendokumentasikan peristiwa perang.
Setelah perang berakhir, Otto Frank menerima kumpulan catatan putrinya dan menyusunnya menjadi buku berjudul Het Achterhuis, sesuai nama yang direncanakan Anne. Dalam bahasa Inggris, judul ini diterjemahkan menjadi "the 'Secret Annexe'" agar pembaca lebih mudah membayangkan posisi tempat persembunyian mereka yang tersembunyi. Sejak diterbitkan pertama kali pada tahun 1947, karya ini telah mendunia dan diadaptasi ke berbagai film serta drama, dengan Otto Frank yang juga diakui sebagai penulis pendamping atas kontribusinya menyusun naskah tersebut.
Kini, Rumah Anne Frank yang terletak di Prinsengracht 263-267 telah menjadi museum populer di Amsterdam yang didedikasikan untuk mengenang kehidupan Anne Frank serta sejarah kelam Holocaust. Melalui ruang-ruang kosong di dalamnya, kita diajak untuk terus menjaga nilai kemanusiaan agar tragedi serupa tidak terulang kembali di masa depan.


















