Apakah Greenland Pernah dilanda Gempa Bumi?

- Greenland memiliki sejarah geologi paling tua dan kompleks di Bumi.
- Pada tahun 1933, Greenland merasakan gempa besar tanpa menyebabkan kerusakan karena lokasi episentrumnya berada di lepas pantai.
- Sejak tahun 2000-an, Greenland mengalami percepatan aliran, penipisan, dan kemunduran gletser pesisirnya.
Greenland dikenal sebagai pulau terbesar di dunia yang didominasi lapisan es tebal dan berada jauh dari citra wilayah rawan bencana tektonik. Letaknya yang relatif jauh dari jalur Cincin Api Pasifik membuat banyak orang mengira wilayah ini sepenuhnya aman dari aktivitas gempa bumi. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Meski jarang terjadi dan jarang disorot media, Greenland ternyata pernah mengalami gempa bumi dalam beberapa catatan geologi modern.
Gempa bumi di Greenland memang tidak seintens di negara-negara yang berada di pertemuan lempeng tektonik aktif. Sebagian besar getarannya berkekuatan kecil hingga menengah dan sering kali tidak terasa oleh penduduk. Meski begitu, fenomena ini tetap menarik untuk dikaji karena melibatkan faktor unik, mulai dari pergerakan lempeng Eurasia dan Amerika Utara hingga dampak mencairnya lapisan es. Lantas, bagaimana sejarah gempa bumi di Greenland dan apa sebenarnya penyebabnya?
1. Geologi Greenland yang unik

Geologi Greenland menunjukkan bahwa wilayah ini bukanlah daratan “muda” yang statis, melainkan salah satu kawasan dengan sejarah geologi paling tua dan kompleks di Bumi. Keberadaan batuan berusia hampir 4 miliar tahun, lengkap dengan bukti awal kehidupan dan proses tektonik purba, menjadikan Greenland sebagai arsip alami yang sangat penting bagi ilmu kebumian. Lapisan es yang menutupi sebagian besar wilayahnya justru menyembunyikan fondasi geologi yang luar biasa kuno.
Dilansir laman Geological Survey of Denmark and Greenland, bersama dengan Amerika Utara, Greenland pernah menjadi bagian dari satu benua besar sekitar 1,6 miliar tahun lalu. Pada masa itu, pelipatan pegunungan telah selesai, dan perisainya telah terangkat serta mengalami erosi. Perkembangan selanjutnya terutama terjadi di wilayah tepi, tempat batuan yang terbentuk kemudian masih terawetkan di Greenland Utara, Greenland Timur, dan sebagian wilayah Greenland Barat bagian tengah. Perkembangan geologi Greenland selanjutnya didominasi oleh pembentukan cekungan sedimen di sepanjang tepi Perisai Prakambrium, tempat endapan sedimen setebal 5-10 kilometer terakumulasi. Endapan ini kini terawetkan di wilayah pesisir, dengan ketebalan terbesar berada di lepas pantai pada landas kontinen Greenland.
2. Sejarah gempa di Greenland

Posisi Greenland berada di lingkar Arktik pernah merasakan gempa besar pada tahun 1933. Berdasarkan catatan dari Government of Canada, peristiwa tersebut tidak menyebabkan kerusakan apa pun karena lokasi episentrumnya berada di lepas pantai serta minimnya populasi di wilayah daratan terdekat. Gempa ini menjadi catatan sejarah seismologi Amerika Utara, terutama karena besarnya magnitudo yang tercatat di kawasan tepi benua timur yang umumnya relatif stabil secara tektonik.
Wilayah barat laut Teluk Baffin, timur laut Pulau Baffin hingga kini masih tergolong aktif secara seismik dan merupakan salah satu kawasan paling aktif di Kanada bagian timur. Namun, sejak tahun 2000-an Greenland mengalami percepatan aliran, penipisan, dan kemunduran gletser pesisirnya, yang disertai dengan banyak peristiwa pelepasan gunung es berukuran miliar meter kubik. Dilansir laman Institut de physique du globe de Paris, pelepasan lapisan es menghasilkan gaya kontak horizontal pada gletser selama beberapa menit, yang kemudian memicu gelombang seismik yang merambat melalui kerak Bumi. Peristiwa ini juga berpotensi menghasilkan gempa bumi bermagnitudo 5 yang terdeteksi oleh jaringan seismologi global. Antara tahun 1993–2013, sebanyak 400–500 gempa bumi yang berasal dari sekitar sepuluh gletser di Greenland berhasil terdeteksi.
3. Apakah Greenland berisiko gempa di masa depan?

Greenland memiliki risiko gempa di masa depan, meskipun bukan berasal dari aktivitas tektonik klasik seperti zona subduksi. Pemanasan global yang mempercepat pencairan es telah meningkatkan aktivitas glasial, mulai dari percepatan aliran gletser, penipisan lapisan es, hingga semakin seringnya peristiwa calving atau proses lepasnya bongkahan es besar dari ujung gletser ke laut. Selain gempa glasial, Greenland berpotensi mengalami berbagai fenomena seismik lain yang berkaitan dengan perubahan iklim, seperti longsoran bawah laut atau runtuhan es besar yang menghasilkan gelombang seismik dari jarak jauh. Meski gempa ini tidak merusak seperti tektonik, peningkatan frekuensi menjadi indikator penting bahwa sistem gletser Greenland sedang mengalami tekanan yang signifikan.
Greenland memang pernah dilanda gempa bumi, meski sebagian besar bukan gempa tektonik besar seperti di wilayah Cincin Api. Gempa yang umumnya terjadi berupa gempa glasial, yaitu fenomena seismik dipicu oleh pergerakan gletser dan pelepasan gunung es. Fakta ini menunjukkan bahwa Greenland tetap memiliki aktivitas seismik yang erat kaitannya dengan dinamika es dan perubahan iklim.


















