Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bukan Pengecut, 5 Hewan Ini Menyerah Demi Bisa Bertahan Hidup

Bukan Pengecut, 5 Hewan Ini Menyerah Demi Bisa Bertahan Hidup
ilustrasi hewan yang menyerah (unsplash.com/Deb Dowd)
Intinya Sih
  • Artikel menjelaskan bahwa dalam dunia hewan, strategi bertahan hidup tidak selalu bergantung pada kekuatan fisik, melainkan juga kemampuan untuk berpura-pura menyerah atau diam demi keselamatan.
  • Lima hewan seperti opossum, katak pohon bermata merah, hiu sirip hitam, kumbang kematian biru, dan kukang jawa menggunakan taktik pasif seperti pura-pura mati atau lumpuh sementara untuk menghindari predator.
  • Melalui contoh-contoh tersebut, artikel menyoroti bahwa di alam liar, sikap tenang dan taktis sering kali lebih efektif daripada agresi dalam mempertahankan hidup.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pernahkah kamu mendengar istilah survival of the fittest? Dalam teori evolusi, seringkali kita mengartikan bahwa makhluk hidup yang paling kuat dan agresif adalah yang akan bertahan. Padahal, alam tidak bekerja sesederhana itu.

Bagi sebagian makhluk hidup, memilih maju bertarung adalah pemborosan energi. Alih-alih mengandalkan otot, beberapa hewan justru memilih menyerah untuk menghadapi ancaman. Walau terdengar konyol, strategi tersebut terbukti efisien menyelamatkan mereka dari kepunahan. Berikut lima hewan yang lolos dari maut dengan cara menyerah.

1. Opossum, aktor teatrikal yang totalitas tanpa batas

ilustrasi opossum
ilustrasi opossum (pixabay.com/Nature-Inspires)

Bagi opossum (Didelphis virginiana), lari dari predator adalah pemborosan energi. Alhasil, saat terancam, mamalia berkantung ini memilih untuk pingsan atau pura-pura mati. Dia akan menjatuhkan diri ke tanah dan mendadak kaku seperti bangkai yang sudah membusuk beberapa hari. Taktik pasif ini terbukti ampuh untuk membuat predator tak tertarik memangsa mereka.

Dilansir San Diego Zoo, kondisi pingsan ini merupakan reaksi saraf otomatis yang dipicu oleh rasa takut, sehingga opossum benar-benar tidak bisa mengontrol tubuhnya. Untuk menyempurnakan pertahannya, mereka juga mengeluarkan cairan dan aroma busuk dari tubuhnya. Hal tersebut akan menurunkan minat predator untuk memangsa.

2. Katak pohon bermata merah, mengandalkan getaran untuk menetas dini

ilustrasi katak pohon bermata merah
ilustrasi katak pohon bermata merah (unsplash.com/Saurish Srivastava)

Katak pohon bermata merah (Agalychnis callidryas) memiliki strategi pertahanan hidup yang luar biasa, bahkan sejak mereka masih berwujud embrio dalam telur. Ketika mereka akan dimangsa oleh predator, telur katak ini tidak akan tinggal diam. Mereka memilih menyerah pada masa inkubasi normal dan menetas darurat.

Dilansir jurnal PeerJ, embrio katak ini mampu mendeteksi pola getaran spesifik yang dihasilkan oleh predatornya. Begitu mereka mendeteksi getaran bahaya, sistem saraf embrio akan memicu pelepasan enzim instan untuk melunakkan cangkan telur, memungkinkan mereka untuk kabur sebelum waktunya.

Di dalam telur, embrio dikelilingi oleh kuning telur yang kaya sumber makanan. Saat menetas dini, mereka akan meninggalkan lingkungan kaya sumber makanan dan harus bersaing di dalam air sebagai kecebong kecil. Tentunya, itu lebih baik dibanding habis dimakan oleh predator.

3. Hiu sirip hitam, mengalami lumpuh sementara saat stres

ilustrasi hiu sirip hitam
ilustrasi hiu sirip hitam (pixabay.com/Franziska Stier)

Dalam pikiran kita, hiu adalah salah satu predator puncak laut yang mengerikan. Tapi siapa sangka bahwa ternyata hiu memiliki tombol rahasia yang jika kita tekan akan membuatnya lumpuh sementara.

Dilansir The Conversation, saat hiu dibalikkan secara telentang, tubuhnya akan memasuki fase tonic immobility. Otot-otot hiu yang bertenaga besar akan menjadi rileks, ritme pernapasannya menjadi lebih dalam dan teratur. Alhasil, mencegah mereka dari kelelahan otot atau gerakan membabi buta yang dapat menyebabkan cedera.

Menariknya, taktik menyerah pasif ini sering dimanfaatkan peneliti untuk memasang alat pelacak dengan aman dan cepat pada hiu. Setelah terpasang, hiu akan dibalikkan kembali ke posisi semula.

4. Kumbang kematian biru, memilih diam saat terancam

ilustrasi kumbang kematian biru
ilustrasi kumbang kematian biru (pixabay.com/MiSebastian)

Bagi seekor serangga kecil yang hidup di lingkungan super gersang, melarikan diri dari predator justru akan menghabiskan tenaga secara sia-sia. Oleh karena itu, kumbang kematian biru (Asbolus verrucosus) memilih diam dan kaku.

Dilansir Oregon Zoo, saat kumbang ini merasakan kehadiran predator, ia akan melakukan thanatosis atau pura-pura mati. Ia akan melipat seluruh kaki dan antenanya rapat-rapat ke arah perut. Lalu ia menjatuhkan diri dan menjadi kaku seperti batu.

Strategi ini terbukti efektif. Sebab, predator utamanya adalah kadal dan laba-laba yang mendeteksi dan menyerang mangsa yang bergerak aktif. Dengan memilih diam seperti batu, kumbang kematian biru akan mengelabui persepsi predatornya. Selain itu, strategi ini juga akan menghemat sisa energi si kumbang.

5. Kukang jawa, memilih diam saat dikejar predator

ilustrasi kukang jawa
ilustrasi kukang jawa (unsplash.com/Roi Dimor)

Kita sering mendengar istilah “Siapa cepat, dia dapat” atau ungkapan yang bermakna mereka yang bergerak cepat adalah yang akan berhasil dan menang. Tapi hal tersebut tidak berlaku bagi kukang jawa (Nycticebus javanicus).

Ketika sebagian besar mamalia akan berlari saat melihat ancaman predator, primata malam ini justru melakukan sebaliknya. Ia akan membeku dan diam di tempat. Seolah ia sudah pasrah dan menyerahkan keselamatannya pada takdir.

Namun, strategi tersebut bukanlah strategi pasrah. Dilansir Yayasan IAR Indonesia, kukang tidak dibekali oleh sistem metabolisme dan gerakan yang cepat. Ia tahu bahwa melarikan diri akan sia-sia. Maka dari itu, ia memilih untuk diam, berkamuflase di antara dedaunan yang menyatu dengan rambut tubuhnya. Dengan begitu, ia justru sulit terlihat oleh predator malam yang sangat mengandalkan gerakan mangsanya.

Alam liar mengajarkan kita bahwa bertahan hidup tidak selalu tentang siapa yang paling vokal, kuat, atau agresif. Terkadang, memilih untuk menurunkan ego dan menyerah justru keputusan paling bijaksana untuk memperbaiki situasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi

Related Articles

See More