Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Hewan Kalimantan yang Terancam Punah, Ada yang Tersisa 65 Ekor!
orang utan kalimantan (commons.wikimedia.org/James Eaton)
  • Kebakaran hutan, kerusakan habitat, pencemaran, aktivitas industri, dan perburuan liar terus menekan satwa Kalimantan serta mengurangi sumber makanan dan tempat berlindung.
  • Badak Kalimantan menjadi yang paling kritis dengan dua betina tersisa; pesut Mahakam tinggal 65 ekor, sementara kucing merah diperkirakan berjumlah 2.200 individu.
  • Orang utan Kalimantan tersisa sekitar 57.530 individu, turun sekitar 80 persen sejak 1973; biawak tanpa telinga dan katak kepala pipih juga terancam dengan populasi belum diketahui.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalimantan merupakan rumah bagi banyak hewan liar. Ada yang hidup di sungai, hutan, rawa, hingga pegunungan. Sayangnya, kebakaran hutan yang baru-baru ini melanda membuat populasi mereka kian terancam. Kebakaran hutan tak hanya merusak habitat hewan di Kalimantan, tapi juga menguras pasokan makanan hingga menghilangkan tempat berlindungi bagi mereka.

Ada beberapa hewan Kalimantan yang terancam punah seperti orang utan kalimantan, pesut mahakam, dan kucing merah. Mereka tak hanya terancam oleh kebakaran hutan, tapi juga terus tergerus oleh aktivitas manusia hingga perburuan liar yang merajalela. Mau tahu bagaimana kehidupan mereka dan berapa populasi yang tersisa? Kita ulik di bawah ini, yuk.

1. Orang utan kalimantan (tersisa 57,350 individu)

orang utan kalimantan (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)

Menurut data Boreno Orangutan Survival, sekarang hanya tersisa sekitar 57,530 individu orang utan kalimantan di alam liar. Kelihatannya memang masih banyak, tapi jumlah tersebut mengalami penurunan sekitar 80 persen dari tahun 1973 di mana terdapat 288,500 individu. Ancaman terbesar hewan ini adalah kerusakan habitat hutan, khususnya akibat dari kehadiran perkebunan kelapa sawit, industri agrikultur, dan pertambangan.

Kini, orang utan kalimantan masuk ke kategori critically endangered (kritis). Penyebarannya juga terbatas di beberapa wilayah, yaitu Sarawak dan Sabah (Malaysia), Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Hewan dengan nama ilmiah Pongo pygmaeus ini juga berasal dari famili Hominidae. Artinya, ia merupakan salah satu primata dengan kekerabatan paling dekat dengan manusia.

2. Biawak tanpa telinga (populasi tidak diketahui)

biawak tanpa telinga (inaturalist.org/Vojtěch Víta)

Meski disebut sebagai biawak tanpa telinga, tapi kadal dengan nama ilmiah Lanthanotus borneensis ini bukan spesies biawak sejati, lho. Sebab, ia tidak berasal dari genus Varanus dan famili Varanidae. Sebaliknya, ia berasal dari famili Lanthanotidae tapi masih berkerabat dengan biawak sejati dari famili Varanidae. Ukurannya juga jauh lebih kecil dari biawak sejati dengan panjang maksimal 51 centimeter dan bobot 48-120 gram.

Dilansir The Reptile Database, penyebaran reptil ini mencakup dua daerah, yaitu Kalimantan Barat dan Sarawak (Malaysia). Populasi bawak tanpa telinga juga terus menurun, alhasil ia masuk ke kategori endangered (terancam). Sayangnya, tak ada yang tahu berapa jumlah populasi pastinya di alam liar. Hal tersebut disebabkan oleh ukurannya yang kecil, habitatnya yang sulit dijangkau, dan sedikitnya penelitian terkait hewan ini.

3. Kucing merah (tersisa 2,200 individu)

kucing merah (commons.wikimedia.org/Jim Sanderson)

Kalimantan juga menjadi rumah bagi beberapa spesies kucing liar, salah satunya adalah kucing merah (Catopuma badia). Ia merupakan spesies kucing berukuran sedang dengan panjang 49-67 centimeter dan bobot 3-4 kilogram. Menurut laman Animal Diversity Web, hewan ini sangat aktif di malam hari dan biasanya berburu di atas tanah. Kucing merah juga pemalu, sulit ditemukan, dan memiliki kemampuan kamuflase yang luar biasa.

Kucing merah terus terancam oleh aktivitas manusia, kerusakan habitat, perburuan liar, dan kegiatan pertanian. Populasinya terus menurun dan sekarang hanya tersisa sekitar 2,200 individu di alam liar. Kucing merah sendiri masuk ke daftar merah dan terdata di kategori endangered (terancam). Hewan ini juga sulit ditangkarkan sehingga upaya konservasi terhadapnya hampir mustahil untuk dilakukan.

4. Katak kepala pipih (populasi tidak diketahui)

katak kepala pipih (inaturalist.org/Lars Fehlandt)

Terdapat satu spesies amfibi kecil sepanjang 6,6-7,7 centimeter yang sangat unik di Kalimantan, yaitu Barbourula kalimantanensis atau katak kepala pipih. Katak bertubuh pipih tersebut sama sekali tidak memiliki paru-paru, alhasil ia bernafas melalui kulitnya. Hewan ini juga sangat sulit dijumpai karena hanya menghuni dua area terisolasi di wilayah Sungai Kapuas. Sayangnya, habitatnya kian tercemar sehingga populasi katak ini ikut menurun. Berdasarkan data dari IUCN Red List, katak kepala pipih masuk ke kategori endangered (terancam). Hingga kini para ahli juga tidak tahu ada berapa individu yang masih tersisa di alam liar, membuat upaya konservasi makin sulit dilakukan.

5. Pesut mahakam (tersisa 65 ekor)

pesut mahakam (commons.wikimedia.org/Stefan Brending)

Tak hanya hewan darat, hewan air seperti pesut mahakam (Orcaella brevirostris) juga tak luput dari status terancam punah. Menurut estimasi dari Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) hanya tersisa 65 individu pesut mahakam di alam liar. Sebenarnya di awal 2026 diperkirakan masih tersisa 66 inidividu, tapi pada Mei 2026 telah ditemukan seekor pesut yang tewas sehingga jumlahnya berkurang.

Sesuai namanya, populasi pesut mahakan di Indonesia hanya mencakup satu lokasi, yaitu Sungai Mahakam yang berada di Provinsi Kalimantan Timur. Sungai Mahakam juga mulai tercemar dan debitnya menurun sehingga makin mengancam populasi pesut mahakam. Karena populasinya yang terus menurun, mamalia air sepanjang 2 meter ini masuk ke kategori endangered (terancam).

6. Badak kalimatan (tersisa 2 individu)

badak kalimantan (commons.wikimedia.org/International Rhino Foundation)

Badak kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) menjadi hewan Kalimantan yang populasinya paling terancam lantaran hanya tersisa dua individu, yaitu Pari dan Pahu. Keduanya merupakan badak betina dan hidup di Provinsi Kalimantan Timur. Untungnya, Kemenhut sedang berusaha mengembalikan populasi badak kalimantan lewat proses assisted reproductive technology (ART) atau reproduksi buatan.

Status badak kalimantan sama dengan orang utan kalimantan, yaitu masuk ke kategori critically endangered (kritis). Ancaman badak kalimantan ada banyak, beberapa di antaranya adalah perburuan liar, kerusakan habitat, dan industrialisasi. Tercatat, penurunan populasi badak ini mulai terjadi pada awal 1900-an. Menariknya, di masa lalu badak sepanjang 2-3 meter ini juga menghuni wilayah Malaysia. Namun, populasi di negara tersebut sudah punah sejak 2015.

Tanpa upaya konservasi yang ketat dan serius berbagai hewan Kalimantan yang terancam punah bisa musnah dalam waktu dekat. Upaya konservasi juga tak berpusat pada pemerintah atau yayasan pencinta hewan. Namun, masyarakat juga harus berperan aktif. Beberapa caranya adalah dengan menghentikan perburuan liar, menjaga habitat hewan liar, dan tidak membuang limbah ke alam liar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article