Berapa Lama Karhutla Bisa Diatasi? Ini Estimasinya

Sejak awal Agustus 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari Kalimantan hingga Sumatra. Aktivitas pembukaan lahan dan musim kemarau memperparah kondisi karhutla sehingga api makin sulit untuk dipadamkan. Ada kebakaran yang dapat dipadamkan dalam hitungan jam, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu untuk dikendalikan.
Perbedaan durasi ini dipengaruhi oleh luas area terbakar, jenis lahan, kondisi cuaca, dan akses menuju lokasi kebakaran. Pada lahan gambut, misalnya, api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit. Lantas, berapa lama sebenarnya karhutla bisa diatasi berdasarkan pengalaman dari berbagai kejadian sebelumnya? Yuk, cari tahu di bawah ini!
1. Karhutla kecil bisa padam dalam hitungan jam

ilustrasi karhutla (unsplash.com/Emma Renly) Karhutla dengan luas area yang relatif kecil dapat dipadamkan dalam waktu beberapa jam apabila lokasi mudah dijangkau dan kondisi api masih terkendali. Berdasarkan laporan BNPB pada Agustus 2026, kebakaran lahan seluas sekitar 2,1 hektare di Klaten, Jawa Tengah, berhasil dipadamkan pada hari yang sama. Kebakaran tersebut mulai dilaporkan pada sore hari dan api dinyatakan padam sekitar pukul 19.31 WIB.
Durasi pemadaman seperti ini menunjukkan bahwa luas area menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan seberapa cepat karhutla dapat diatasi. Namun, kondisi cuaca, jenis vegetasi, arah angin, dan akses menuju lokasi juga dapat membuat proses pemadaman berlangsung lebih lama. Artinya, untuk karhutla kecil sekalipun, cepatnya penanganan sejak api terdeteksi menjadi kunci agar kebakaran tidak meluas.
2. Karhutla di lahan gambut bisa berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu

ilustrasi kebakaran lahan gambut (pexels.com/Vladyslav Dukhin) Lahan gambut memiliki karakter yang membuat kebakaran lebih sulit dipadamkan dibandingkan kebakaran di permukaan tanah biasa. Saat kering, gambut yang mengandung banyak sisa tumbuhan dapat menjadi bahan bakar hingga ke lapisan bawah tanah sehingga api bisa menjalar di bawah permukaan dan sulit terlihat. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyebut kebakaran pada gambut dapat terus membakar material organik di bawah permukaan meskipun api di atas tanah sudah padam (smouldering).
Kondisi ini terlihat dalam penanganan karhutla di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, ketika kebakaran lahan gambut seluas sekitar 2 hektare yang terjadi pada 25 Juli masih belum padam hingga 26 Juli. Karena itu, pemadaman di lahan gambut tidak cukup hanya dengan menghilangkan api yang terlihat, tetapi juga membutuhkan pembasahan dan pendinginan hingga ke bagian yang terbakar di bawah permukaan. Dengan kondisi lahan, cuaca, dan luas kebakaran yang berbeda-beda, karhutla di gambut dapat membutuhkan waktu berhari-hari bahkan lebih lama untuk benar-benar dikendalikan.
3. Pendinginan dan pemantauan menentukan karhutla benar-benar selesai

ilustrasi berada di tengah kabut asap karhutla. (pexels.com/Vadim Braydov) Api yang sudah tidak terlihat belum tentu menandakan karhutla benar-benar selesai. Setelah pemadaman, petugas perlu melakukan pendinginan untuk memastikan bara dan sumber panas yang tersisa tidak kembali memicu kebakaran. BNPB menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak hanya mengejar api agar padam, tetapi juga memastikan api tidak muncul kembali melalui pemantauan setelah pemadaman.
Pedoman penanggulangan karhutla KLHK juga memasukkan kegiatan penyapuan bara api atau mopping-up sebagai bagian dari proses pengendalian kebakaran. Pemantauan ini penting terutama ketika kondisi cuaca masih panas dan kering karena bara yang tersisa dapat kembali menjadi titik api. Oleh sebab itu, waktu yang dibutuhkan untuk menyatakan karhutla benar-benar selesai bisa lebih panjang daripada waktu yang diperlukan untuk memadamkan api yang terlihat.
Dari penjelasan di atas, durasi penanganan karhutla tidak bisa disamaratakan karena bergantung pada luas kebakaran, jenis lahan, cuaca, dan kondisi di lapangan. Pada kasus ekstrem seperti karhutla di Indonesia pada 2015, kebakaran berlangsung sekitar 3 bulan. Karena itu, karhutla dapat diatasi dalam hitungan jam untuk kasus kecil, tetapi bisa berlangsung berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan untuk kebakaran berskala besar.




















