Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Hewan yang Menginspirasi Dunia Militer

ilustrasi hewan yang menginspirasi dunia militer
ilustrasi hewan yang menginspirasi dunia militer (pexels.com/Luca Dross | pexels.com/Bojan Milic)
Intinya sih...
  • Teknologi pesawat dan drone terinspirasi dari kelelawar dan burung, menggunakan prinsip ekolokasi dan desain sayap untuk sistem deteksi canggih.
  • Desain kapal selam dan peranti bawah air terinspirasi dari hiu, dengan kulit unik yang mengurangi gesekan air untuk meningkatkan efisiensi energi.
  • Strategi perang dan swarm drone terinspirasi dari semut dan lebah, menciptakan sistem tempur adaptif dan fleksibel tanpa komando terpusat.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Perang dan strategi pertahanan ternyata tak selalu lahir dari ruang rapat atau laboratorium canggih. Alam justru kerap menjadi “guru” paling jenius, terutama lewat perilaku dan kemampuan unik berbagai hewan. Dari cara bertahan hidup, menyerang, hingga berkomunikasi secara diam-diam, banyak taktik militer modern yang terinspirasi langsung dari dunia fauna.

Menariknya, inspirasi ini bukan sekadar teori. Beberapa teknologi dan strategi tempur benar-benar meniru kemampuan hewan tertentu, mulai dari sistem sonar ala kelelawar hingga kamuflase yang meniru bunglon. Penasaran, hewan apa saja yang menginspirasi dunia militer? Berikut tujuh diantaranya yang bikin kamu makin kagum pada kecerdasan alam.

1. Burung dan kelelawar, teknologi pesawat dan drone

ilustrasi kelelawar
ilustrasi kelelawar (pixabay/Salmar)

Dari kemampuan ekolokasi kelelawar hingga penerapannya dalam teknologi radar modern, terlihat jelas bagaiamana alam memberi fondasi bagi inovasi manusia, termasuk di ranah militer dan keamanan. Prinsip sederhana ini berupa gelombang yang dipantulkan, lalu diolah menjadi informasi akurat kini menjadi tulang punggung sistem deteksi canggih yang mampu bekerja dalam gelap, kabut, atau kondisi visibilitas rendah. Ini membuktikan bahwa kecanggihan teknologi sering kali berakar dari mekanisme alami yang telah berevolusi jutaan tahun lamanya.

Struktur sayap dan kestabilan terbang burung juga menjadi inspirasi besar dalam desain awal pesawat tempur. Kemampuan terbang berjam-jam dan pergerakan yang gesit, merupakan hasil dari proses evolusi yang panjang. Dari pengamatan burung dan penelitian mendalam, lahirlah berbagai inovasi dalam menciptakan pesawat terbang sederhana sampai teknologi mesin canggih. Tidak hanya teknologi pesawat terbang tapi juga pesawat tanpa awak seperti drone.

2. Hiu, desain kapal selam dan peranti bawah air

ilustrasi hiu
ilustrasi hiu (pixabay.com/DavidClode)

Hiu dikenal sebagai “raja laut” karena adaptasi luar biasa yang menunjang kelangsungan hidupnya. Mereka memiliki indra penciuman yang sangat tajam, kemampuan elektroresepsi untuk mendeteksi mangsa, serta tubuh ramping dan ekor kuat yang memungkinkan gerakan lincah dan cepat. Dilansir laman Tribonet, hiu juga mampu mengatur daya apung melalui kandungan minyak di hati mereka, sehingga bisa mengontrol kedalaman secara efisien. Namun, salah satu fitur paling mengagumkan adalah struktur kulit mereka.

Kulit hiu tersusun atas sisik berusuk yang disebut dermal denticles yaitu tersusun dari dentin dan enamel, serta tersusun berlapis. Struktur unik inilah yang memungkinkan aliran air mengalir mulus di sepanjang tubuh hiu dan mengurangi gesekan dan hambatan. Prinsip inilah yang menginspirasi dalam penerapan beragam teknologi, mulai dari kapal jarak jauh, kapal selam, pesawat, bilah turbin angin, hingga pakaian olahraga. Fokus utamanya adalah meningkatkan efisiensi energi dan performa operasional, terutama terkait kecepatan dan konsumsi energi.

3. Serangga sosial semut dan lebah, strategi perang dan swarm drone

ilustrasi semut
ilustrasi semut (pixabay.com/SandeepHanda)

Swarm intelligence menandai perubahan besar dalam wajah peperangan modern. Terinspirasi dari perilaku kolektif semut dan lebah, konsep ini memungkinkan sekumpulan drone sedehana bekerja secara mandiri tapi tetap terkoordinasi, tanpa komando terpusat. Hasilnya adalah sistem tempur yang adaptif, fleksibel, dan jauh lebih tangguh dibandingkan satu unit drone tunggal, karena kemampuan kolektifnya terus menyesuaikan diri dengan situasi di lapangan.

Seperti halnya koloni serangga di alam yang mampu bertahan dan berkembang melalui kerja kolektif, drone swarm menghadirkan paradigam baru bahwa kekuatan tidak lagi bertumpu pada satu unit unggul, melainkan pada koordinasi cerdas banyak unit sederhana. Evolusi ini menegaskan bahwa inspirasi dari alam masih menjadi salah satu kunci terpenting dalam membentuk strategi dan teknologi militer masa depan.

4. Gurita dan cumi-cumi, kamuflase adaptif

ilustrasi gurita
ilustrasi gurita (pixabay.com/Taken)

Kemampuan kamuflase gurita dan cumi-cumi menegaskan betapa luar biasanya solusi yang telah dikembangkan alam jauh sebelum teknologi modern hadir. Dengan mengandalkan lapisan kulit kompleks yang mampu merespons cahaya, warna, dan tekstur secara instan. Inilah standar kamuflase alami yang hingga kini masih sulit ditandingi oleh teknologi buatan manusia.

Meski belum menyamai kecanggihan kulit hewan laut ini, material kamuflase buatan yang dikembangkan ilmuwan menunjukkan satu langkah awal yang menjanjikan. Sistem berlapis yang mampu mendeteksi cahaya dan menyesuaikan tampilan secara otomatis membuktikan bahwa prinsip biologis dapat diterjemahkan ke dalam rekayasa modern. Potensinya pun besar, terutama untuk aplikasi militer seperti kendaraan atau perlengkapan yang dapat beradaptasi dengan lingkungan tanpa kendali manual.

5. Ular, sensor panas dan gerak senyap

ilustrasi ular
ilustrasi ular (pixabay.com/mhngai)

Kemampuan pit viper melihat “panas” dalam kegelapan total menunjukkan bahwa indera biologis bisa bekerja jauh melampaui batas penglihatan manusia. Melalui pit organ yang sangat sensitive terhadap radiasi inframerah, ular ini mampu membangun gambaran termal lingkungannya tanpa cahaya sama sekali. Penelitian yang mengungkap cara kerja sistem ini menegaskan bahwa alam telah lebih dulu mengembangkan cara kerja sistem ini menegaskan bahwa alam telah lebih dulu mengembangkan teknologi penciraan panas yang efisien, presisi, dan hemat energi.

Hewan ini tidak hanya membantu menjelaskan bagaiamana panas diubah menjadi sinyal saraf yang bermakna bagi otak ular, tetapi juga membuka pemahaman baru tentang cara kerja sensor termal secara umum. Temuan ini berpotensi besar pada pengembangan teknologi manusia, mulai dari perangkat pencitraan medis hingga sensor inframerah untuk operasi penyelamatan dan militer.

6. Lumba-lumba dan singa laut, deteksi ranjau laut

ilustrasi lumba-lumba
ilustrasi lumba-lumba (pixabay.com/joakant)

Program Marine Mammal milik Angkatan Laut AS menunjukkan bagaimana kemampuan alami hewan laut masih memegang peranan penting dalam sistem pertahanan modern. Dengan memanfaatkan lumba-lumba dan singa laut yang memiliki kemampuan sensorik luar biasa, militer mampu mendeteksi ancaman bawah laut seperti ranjau, bahan peledak, dan penyusup di lingkungan yang sulit dijangkau teknologi buatan.

Dilansir laman U.S. Department of War, keunggulan utama mamalia laut terlatih terletak pada kemampuan mereka menyaring kebisingan lingkungan bawah air seperti lumpur, rumput laut, dan visibilitas rendah yang kerap mengganggu sistem sonar buatan. Dalam konteks perlindungan asset strategis seperti kapal selam nuklir, kemampuan ini menjadi penting. Karena itu, hingga kini lumba-lumba dan singa laut masih dipandang sebagai mitra yang tak tergantikan dalam misi keamanan pelabuhan dan perairan strategis.

7. Tokek, perlengkapan panjat militer

ilustrasi tokek
ilustrasi tokek (pixabay.com/Milchdrink)

Teknologi panjat terinspirasi dari gecko atau tokek yang dikembangkan melalui program Z-Man Darpa. Dilansir laman DARPA membuktikan bahwa solusi berbasis alam mampu menjawab tantangan operasional modern. Kerberhasilan manusia memanjat dinding kaca hanya dengan alat berbasis struktur mikro tanpa tali atau tangga menjadi tonggak penting dalam pengembangan alat mobilitas vertikal. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan keselamatan prajurit, tetapi juga memberi kebebasan manuver yang lebih besar, terutama di lingkungan urban yang sempit dan kompleks.

Lebih jauh, riset ini menunjukkan bagaimana pemahaman mendalam terhadap biologi dan fisika dapat diterjemahkan menjadi teknologi berskala manusia. Dengan meniru struktur setae dan spatulae pada kaki tokek serta memanfaatkan gaya van der waals, para peneliti berhasil menciptakan sistem adhesi yang kuat, reversible, dan efisien. Tantangan skala berat manusia yang jauh lebih besar dari tokek pun dapat diatasi melalui desain yang menyeimbangkan gaya geser dan normal, memungkinkan gerakan memanjat yang dinamis dan aman.

Dunia militer tak selalu harus mencari inspirasi dari mesin atau teknologi futuristik semata. Alam sudah lebih dulu menjadi “laboratorium hidup” yang menyimpan strategi bertahan, menyerang, hingga beradaptasi secara efisien. Dari tokek yang mampu memanjat permukaan licin, hiu dengan desain tubuh aerodinamis, hingga serangga yang piawai bekerja secara kolektif, hewan-hewan ini membuktikan bahwa evolusi adalah guru terbaik. Dengan meniru kecerdasan alam, inovasi militer pun bisa berkembang lebih presisi dan efisien.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Science

See More

7 Hewan yang Menginspirasi Dunia Militer

08 Feb 2026, 12:01 WIBScience