Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

9 Hewan yang Menggunakan Bau Menyengat untuk Mempertahanan Diri

9 Hewan yang Menggunakan Bau Menyengat untuk Mempertahanan Diri
Potret burung hudhud (pixabay.com/linda1978)
Intinya Sih
  • Artikel ini membahas sembilan hewan yang menggunakan bau menyengat sebagai mekanisme pertahanan diri, mulai dari mamalia seperti skunk hingga serangga kecil seperti semut rumah berbau.
  • Masing-masing hewan memiliki cara unik menghasilkan aroma ekstrem, baik melalui kelenjar anal, reaksi kimia panas, maupun sekresi khusus yang berevolusi untuk mengusir predator.
  • Fenomena ini menunjukkan bahwa evolusi tidak hanya menciptakan kekuatan fisik, tetapi juga strategi kimiawi efektif yang membantu berbagai spesies bertahan hidup di alam liar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di alam liar, bertahan hidup bukan cuma urusan otot kuat atau taring tajam. Ada hewan-hewan yang memilih jalur “aroma ekstrem” sebagai tameng terakhir. Bau yang mereka lepaskan bukan efek samping tubuh semata. Itu adalah senjata kimia yang berevolusi selama jutaan tahun, diracik alam dengan presisi.

Mulai dari semprotan super menyengat sampai cairan beraroma kelapa busuk, inilah sembilan hewan yang menggunakan bau busuk untuk melindungi diri. Yuk, simak!

1. Skunk

Skunk
Skunk (pixabay.com/LeniG)

Kalau membahas pertahanan beraroma tajam, skunk hampir selalu jadi ikon. Mamalia hitam-putih ini memiliki cairan kaya senyawa sulfur (thiol) di kelenjar analnya, yang aromanya sanggup membuat mata perih dan hidung berasa terbakar. Jarak tembaknya pun tak main-main, yakni mencapai sekitar 3 meter dengan akurasi tinggi.

Skunk biasanya memberi “peringatan” berupa hentakan kaki dan ekor terangkat sebelum benar-benar menyemprot. Hebatnya, aroma ini dapat bertahan berhari-hari dan sulit hilang dari pakaian atau bulu hewan lain.

2. Kumbang bombardier

Kumbang bombardier
Kumbang bombardier (commons.wikimedia.org/L. Shyamal)

Kumbang bombardier menyimpan dua zat kimia terpisah di dalam tubuhnya, yang bereaksi eksplosif begitu dicampurkan. Reaksi tersebut menghasilkan cairan panas bersuhu mendekati 100°C, disertai aroma tajam menusuk.

Uniknya, ledakan kecil yang lepas terdengar seperti bunyi “pop” saat disemprotkan ke arah predator. Kombinasi suhu tinggi dan bau menyengat inilah yang bikin penyerang seketika mundur.

3. Luak madu

Luak madu
Luak madu (pexels.com/Georg Wietschorke)

Selain terkenal karena keberaniannya, luak madu juga memiliki mekanisme pertahanan kimia. Hewan ini menyimpan “opsi aroma” di kelenjar dekat anusnya, yang dapat melepaskan sekresi berbau kuat apabila merasa terpojok. Sekresi ini turut dipakai dalam penandaan wilayah, guna mempertegas batas teritorial.

4. Ulat swallowtail

Ulat swallowtail
Ulat swallowtail (pixabay.com/Boloria)

Beberapa jenis ulat kupu-kupu swallowtail punya organ khusus bernama osmeterium. Organ ini tersembunyi di belakang kepala dan akan muncul saat ancaman mendekat. Ketika keluar, osmeterium melepaskan bau menyengat demi mengusir predator seperti burung atau semut.

Cairan yang dikeluarkan mengandung senyawa kimia berbasis asam yang tidak disukai predator kecil, sehingga mereka enggan menyerang.

5. Zorilla

Zorilla
Zorilla (pixabay.com/CountryGirl1)

Dijuluki “skunk Afrika”, zorilla menggunakan strategi pertahanan mirip skunk. Kelenjar analnya memancarkan cairan berbau tajam yang mampu mengacaukan indra penciuman predator, serta mengakibatkan lawan yang terlalu dekat kehilangan orientasi sesaat.

Zorilla juga mengangkat ekor sebagai tanda peringatan terlebih dahulu. Bila ancaman tetap mendekat, barulah aroma ekstrem dilepaskan.

6. Kaki seribu

Kaki seribu
Kaki seribu (pexels.com/Sophia Nel)

Tubuh kaki seribu dilengkapi kelenjar yang memproduksi senyawa kimia quinone, dan pada spesies tertentu terdapat kandungan hidrogen sianida dalam kadar rendah. Aromanya pahit dan menyengat.

Laman Smithsonian menjelaskan bahwa sekresi ini efektif menghadang burung serta reptil kecil. Kala terancam, ia menggulung diri lalu mengeluarkan cairan tersebut dari sisi tubuhnya.

7. Walang sangit

Walang sangit
Walang sangit (flickr.com/fajar adinugraha)

Nama walang sangit sudah cukup mencerminkan reputasinya. Serangga hama padi ini memiliki kelenjar bau di bagian toraks yang akan memancarkan aroma amat menyengat begitu tubuhnya terganggu. Bau tajam ini berfungsi menakuti burung atau hewan kecil lainnya, sehingga memberikan perlindungan efektif bagi walang sangit.

8. Burung hudhud

Burung hudhud
Burung hudhud (pixabay.com/junfangsjs)

Sarang burung hudhud terkenal dengan aroma tak sedap. Induk dan anaknya memproduksi cairan berbau tajam dari kelenjar uropigial selama masa bersarang, yang membantu mengurangi risiko gangguan predator.

Merujuk penelitian (Martin dkk. 2010; Soler dkk. 2024), cairan ini bersifat antimikroba. Anak hudhud bahkan dapat mengarahkan kotoran berbau tajam ke arah ancaman, menjadikan pertahanan ini unik sekaligus efektif.

9. Semut rumah berbau

Semut rumah berbau
Semut rumah berbau (flickr.com/Katja Schulz, CC BY 2.0) <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0/>

Semut rumah berbau kerap ditemukan di sekitar rumah. Ketika tubuhnya diremukkan atau merasa terancam, semut ini akan mengeluarkan aroma mirip kelapa busuk. Bau tersebut berasal dari senyawa kimia bernama methyl ketones, yang berfungsi sebagai sinyal peringatan serta bentuk perlindungan diri. Predator kecil pun cenderung menjauh, sebab aromanya tidak sedap.

Di dunia satwa, pertahanan tidak selalu berarti adu tenaga. Ada yang mengandalkan kecepatan, ada pula yang memanfaatkan racun, sementara sebagian memilih jalur aroma ekstrem. Cara ini mungkin terdengar sederhana, tetapi efektivitasnya terbukti membuat banyak predator menyerah.

Dari mamalia darat hingga serangga mungil, semuanya menunjukkan bahwa evolusi bekerja dengan cara kreatif. Bau yang menurut manusia terasa mengganggu ternyata menjadi kunci keselamatan bagi mereka.

Sumber Referensi :

Palma-Onetto, V., Bergmann, J., & González-Teuber, M. (2023). Mode of action, chemistry and defensive efficacy of the osmeterium in the caterpillar Battus polydamas archidamas. Scientific Reports, 13(1), 6644.

Soler, J. J., Martín-Vivaldi, M., Ruiz-Rodríguez, M., Valdivia, E., Martín-Platero, A. M., Martínez-Bueno, M., ... & Méndez, M. (2008). Symbiotic association between hoopoes and antibiotic-producing bacteria that live in their uropygial gland. Functional Ecology, 864-871.

Soler, J. J., Barón, M. D., Martínez-Renau, E., Zhang, L., Liang, W., & Martín-Vivaldi, M. (2024). Nesting hoopoes cultivate in their uropygial gland the microbial symbionts with the highest antimicrobial capacity. Scientific Reports, 14(1), 30797.

Martín-Vivaldi, M., Pena, A., Peralta-Sánchez, J. M., Sánchez, L., Ananou, S., Ruiz-Rodríguez, M., & Soler, J. J. (2010). Antimicrobial chemicals in hoopoe preen secretions are produced by symbiotic bacteria. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 277(1678), 123-130.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More